Mengenang Sondang

SAYA hanya mengenalnya lewat media. Ketika itu ia diberitakan tewas setelah membakar dirinya sendiri. Menurut berita-berita yang saya baca, aksi bakar diri itu dipicu oleh rasa kecewa dan murkanya terhadap penguasa yang tak becus mengurus negeri ini. Saya kira, ia tak sendiri.

Sabtu lalu, lagi-lagi lewat media, saya membaca berita yang memuat potongan tulisan yang sempat ia tulis lewat buku pacarnya. Pelan-pelan, di dalam hati saya membaca tulisan itu.

… terkutuklah buat ketidakadilan

terkutuklah buat ketidakpedulian,

terkutuklah buat kemiskinan,

terkutuklah buat rasa sakit dan sedih,

terkutuklah buat para penguasa jahat,

terkutuklah buat para penjahat, setelah aku tidak punya rasa lagi.”

Saya menunduk, mengenang seseorang bernama Sondang.

Leave a Comment

Filed under Social

Dunia Maya Indonesia akan Gelap Gulita

HARI-hari ini dunia maya seakan gelap. Beberapa situs yang menyediakan saluran informasi dan aplikasi gratis menutup diri. Mozilla, Wikipedia, termasuk WordPress tempat saya memposting coret-coretan ini, dll…

Ini aksi perlawanan terhadap rencana pengesahan Undang-undang Antipembajakan (Stop Online Piracy Act) oleh parlemen di AS. Pendeknya, sesiapa yang tanpa izin menggunakan karya/produk yang disebut dalam UU itu bakal dijebloskan ke bui. Yah, ini tak beda dengan kriminalisasi terhadap kebebasan mengakses dan menyebarkan informasi di internet.

Ide pengesahan undang-undang ini sudah lapuk. Anti kekebasan informasi. Mereka yang bersemangat mengetok palu rancangan undang-undang itu mengidap sindrom idiot-sinkratik. Mereka memaksa warga dunia maya lain kembali zaman batu. (Hmm… saya membayangkan hidup di zaman batu di mana manusia berekspresi melalui corat-coret di dinding-dinding bebatuan. Lalu di dinding batu yang saya tulis ada yang membalas, ada yang mengomentari, ada pula yang memposting alamat tautan batu lain yang berisi corat-coret sejenis… )

Pendukung legalisasi rancangan undang-undang zaman batu ini adalah mayoritas kalangan Holywood, seperti anggota Motion Picture Association of America (MPAA). Mereka sewot karena produk-produknya kerap menjadi target pembajakan. Sementara, barisan yang kontra terhadap rencana legalisasi ini sudah berderet rapat. Rata-rata sudah familiar di mata kita. Ada Wikipedia. WordPress. Mozilla. Google. Facebook. Twitter…

Sebagai salah satu anggota masyarakat di negara yang masuk dalam daftar pembajak digital dan pengguna social media terbesar, mestinya kita patut prihatin dan cemas. Cemas karena pemodal, korporasi hingga pejabat publik termasuk di Kementerian Kominfo yang langit pengetahuannya pendek bakal latah untuk bikin regulasi serupa di sini. Kita perlu cemas karena akan banyak teman, tetangga, saudara atau kita sendiri yang sangat mungkin ikut terseret ke penjara.

Saya sendiri ikut khawatir. Kebiasaan saya yang ringan tangan meng-copas link, men-share video di Youtube, Vimeo, atau lainnya ke kawan, saudara atau tetangga sebelah, sangat mungkin diawasi oleh intel-intel “Big Brother” di internet.

Seandainya undang-undang itu digolkan, … saya terpaksa menggunakan batu. Ada yang tidak setuju?

Leave a Comment

Filed under Law

Aceh in Wordle

 

1 Comment

Filed under Uncategorized

Mochtar Lubis, Bukan Pahlawan yang Tak Retak

SEJARAH harian Indonesia Raya di bawah Mochtar Lubis adalah sebuah riwayat perlawanan dan keteguhan berpegang pada prinsip. Berbeda dengan media cetak lainnya, ia bersama awak Indonesia Raya tak mau tunduk, menolak berkompromi dengan pemerintah.

Buku Biografi Mochtar Lubis karya David T. Hill

Padahal, di bawah rezim Orde Baru, organisasi media dan pekerja pers tak hanya dituntut profesional  dalam kerja pemberitaan. Media dan wartawan mesti memiliki strategi jangka panjang agar bisa bertahan terbit –termasuk, bila perlu, strategi melakukan kompromi dan patuh mengikuti “petunjuk” pemerintah (Hanazaki, 1998; Steele, 2005).

Andaikan Mochtar Lubis mau berkompromi terhadap rezim militer Orde Baru, barangkali saat ini harian Indonesia Raya yang ia pimpin telah menjadi imperium media yang memiliki sejumlah penerbitan koran daerah, majalah mingguan, tabloid, jaringan media online, stasiun televisi dan radio. Seperti kecenderungan banyak media di Jawa saat ini.

Namun kita tahu, tak lama setelah peristiwa malapetaka 15 Januari 1974 (Malari), sejarah harian dengan gaya jurnalisme anjing penjaga ini benar-benar menemui titik akhir. Mochtar meletakkan perjuangan mempertahankan prinsip jurnalisme di atas kepentingan untuk mempertahankan masa depan penerbitan Indonesia Raya. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Media, Topic

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Microblogger Bersuara*)

Salah satu foto unjukrasa yang diunggah Bei Fong di akun Google+.

SABTU (13/8) pagi lalu, sekitar 12.000 warga dan buruh berunjuk rasa di pusat kota Dalian, timur laut China. Warga menuntut penutupan instalasi pabrik kimia yang letaknya tak jauh dari pemukiman. Aksi ini muncul setelah banjir akibat badai tropis Muifa menjebol tanggul di sekitar instalasi tersebut. Warga cemas, banjir bisa membawa polutan berbahaya ke kawasan pemukiman.

Namun hampir tak satupun media di China memberitakan aksi besar-besaran itu. CNTV, stasiun teve milik pemerintah hanya menayangkan instalasi kimia yang dikecam warga. Berita dan foto-foto aksi unjuk rasa damai itu justru muncul di social media.

Seorang blogger China Being Fong mengunggah lebih dari dua lusin foto unjuk rasa warga yang memadati halaman gedung pemerintah kota di akun social media Google+ miliknya. Sementara, melalui akun Twitter, koresponden Al Jazeera di China Melissa Chan (@melissakchan) melaporkan, mayoritas demonstran dalam aksi damai itu adalah warga kelas menengah yang sama sekali tidak ‘gaptek’ alias gagap teknologi.

Look carefully at sea of Dalian protesters: all had digital cameras, cell phone cameras. Pictures posted online in seconds. People power. kata Melissa Chan diposting di Twitter pada Senin (15/8). Continue reading

Leave a Comment

Filed under Media, Topic