Oleh SAMIAJI BINTANG*)
KETIKA malam mulai menyelimuti Alue Naga, waktu seperti merambat. Seluruh kawasan nyaris gelap pekat. Nyala lampu teplok seperti noktah cahaya di samudera hitam.
“Setiap malam ya begini,” ujar Hendri Syahputra, pemilik warung. Dia pemuda berusia 18 tahun yang hanya tamat sekolah menengah pertama. Ibu dan ayahnya hilang ditelan gelombang tsunami.
Hendri bergantian dengan kakaknya, Juniati, menjaga warung mereka. Tapi tak banyak yang tersedia di warung yang terbuat dari papan usang sisa tsunami itu. Dagangan utama mereka adalah kopi dan teh, ditambah beberapa renteng makanan ringan yang digantung di dinding papan.
“Sudah berbulan-bulan listrik tidak masuk-masuk. Padahal kampung kami masih di kota Banda Aceh, tidak jauh dari kantor gubernur. Tuh, lihat,” ungkap Hendri. Telunjuknya mengarah ke bangunan besar dengan gemerlap lampu, sekitar tujuh kilometer dari utara kampung.
Listrik dalam kampung itu hanya dinikmati dua rumah. Itu pun menggunakan generator listrik berbahan bakar solar. Rumah penduduk lainnya, termasuk warung Hendri, terpaksa seperti hidup di zaman pra kemerdekaan. Penerangan andalan mereka di malam hari hanya pancaran lampu minyak atau lilin. (more…)
CARE, sebuah lembaga bantuan internasional, masih tersandung penyelesaian rumah bantuan. Sebagian calon penerima rumah hanya diberi janji. Warga harus membayar upah kuli dengan uang sendiri.
Oleh: SAMIAJI BINTANG*)
STIKER CARE menempel di pintu depan rumah keluarga Syafi’i Johan di Lorong Kelapa, Lambaro Skep. Delapan telapak tangan membentuk lingkaran. Warna selang-seling. Kuning, oranye.
Dinding rumah darurat itu terbuat dari papan-papan usang. Beratap seng karatan. Angin atau tempias hujan bisa menerobos kuda-kuda atap yang bolong. Sisa semen lantai telah bercampur pasir. Di situ Syafi’i tinggal bersama istrinya, Ruhati, dan dua anaknya, Nurbaya dan Aswadi.
Rumah mereka berbeda dengan rumah bantuan CARE International umumnya, yang bercat krem dan ditandai stiker CARE.
Sumur, dapur, dan kasur tidur menyatu di satu ruang. Pengap dan panas. Bau busuk meruap tiap pagi, siang, dan malam. Ketika saya masuk, comberan tempat nyamuk berbiak cuma berjarak tiga langkah dari tempat tidur mereka.
“(Rumah) ini saya bikin dari hasil mengumpulkan kayu dan seng sisa-sisa tsunami,” ungkap lelaki berusia 64 tahun ini kepada saya, awal Agustus 2006 lalu. (more…)
Aceh Helsinki Accord raising expectations in East Indonesia
By SAMIAJI BINTANG,
JAKARTA (27 February 2006) – If anyone thinks that the draft law about Aceh only concerns the Acehnese, they are making a big mistake. A number of people in Sulawesi, Maluku and Papua are closing watching discussions about this bill.
Provinces which feel they have been left behind as compared with Java also want the same kind of autonomy that is being offered to Aceh.
This became apparent during discussions on the bill last Monday (27/2)
Legislator Andi M. Ghalib from Partai Persatuan Pembangunan: “If Aceh succeeds, I think other regions should have the same right, particularly places in Eastern Indonesia.” (more…)