Konflik membelah warga Gayo, pro atau kontra republik. Saling memerangi. Di masa damai mereka bersatu di kebun kopi.
Oleh SAMIAJI BINTANG*)
ARABICA. Robusta. Timtim. Sidikalang. Jember. Dia sebut satu per satu jenis kopi itu. Bukan hanya nama, dia juga hafal bagaimana karakter tiap jenis. Paham kekurangan si Timtim. Kenal harumnya sang Robusta. Tapi pengalaman dia membuktikan, hanya Arabica yang paling laku di pasaran.
Dia anak kedua dari keluarga petani kopi. Kopi menjadi kebanggaan orangtuanya. Selama berbilang tahun ongkos kebutuhan hidup bisa tertutup dari hasil panen kopi. Kebun orangtuanya seluas dua hektar. Hasil dari kebun itu juga yang membiayai sekolah dia dan dua saudaranya hingga tamat sarjana.
Nama lengkapnya Bardan Sahidi. Orang Gayo. Anak kedua dari tiga bersaudara. Ketika pemilihan umum legislatif 2004 silam, Partai Keadilan Sejahtera setempat menjagokan dia untuk duduk di parlemen. Kini, dalam usia 28 tahun, bapak beranak satu ini menjadi legislator termuda di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Aceh Tengah.
Biji-biji dari buah tanaman itu pula yang diandalkan para tetangganya, dan warga di Kabupaten Aceh Tengah. Meski hanya dipanen antara Oktober hingga Februari dalam setahun, kalau harga sedang bagus, hasilnya bisa buat pendidikan anak. Beli kendaraan bermotor. Parabola. TV. Radio, atau perabot lain. (more…)
