Kebun Kopi, Gerilyawan, dan Milisi

Konflik membelah warga Gayo, pro atau kontra republik. Saling memerangi. Di masa damai mereka bersatu di kebun kopi.

Oleh SAMIAJI BINTANG*)

Jemur Biji Kopi

ARABICA. Robusta. Timtim. Sidikalang. Jember. Dia sebut satu per satu jenis kopi itu. Bukan hanya nama, dia juga hafal bagaimana karakter tiap jenis. Paham kekurangan si Timtim. Kenal harumnya sang Robusta. Tapi pengalaman dia membuktikan, hanya Arabica yang paling laku di pasaran.

Dia anak kedua dari keluarga petani kopi. Kopi menjadi kebanggaan orangtuanya. Selama berbilang tahun ongkos kebutuhan hidup bisa tertutup dari hasil panen kopi. Kebun orangtuanya seluas dua hektar. Hasil dari kebun itu juga yang membiayai sekolah dia dan dua saudaranya hingga tamat sarjana.

Nama lengkapnya Bardan Sahidi. Orang Gayo. Anak kedua dari tiga bersaudara. Ketika pemilihan umum legislatif 2004 silam, Partai Keadilan Sejahtera setempat menjagokan dia untuk duduk di parlemen. Kini, dalam usia 28 tahun, bapak beranak satu ini menjadi legislator termuda di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Aceh Tengah.

Biji-biji dari buah tanaman itu pula yang diandalkan para tetangganya, dan warga di Kabupaten Aceh Tengah. Meski hanya dipanen antara Oktober hingga Februari dalam setahun, kalau harga sedang bagus, hasilnya bisa buat pendidikan anak. Beli kendaraan bermotor. Parabola. TV. Radio, atau perabot lain.

Tatkala sebagian besar penduduk Indonesia kelimpungan akibat kenaikan harga barang, antara tahun 1997-1998 sebagian besar tetangga Bardan di ibukota Aceh Tengah justru ‘berfoya-foya’. Alih-alih bertambah miskin, masa krisis moneter itu merupakan masa keemasan bagi petani kopi di Takengon.

Kopi para petani bukan konsumsi dalam negeri. Berton-ton kopi diekspor ke Amerika Serikat, Belanda, Jepang, dan sejumlah negara Eropa. Perdagangan kopi di pasar internasional menggunakan kurs dolar. Mata uang itu menguat terhadap sejumlah mata uang negara-negara di Asia Tenggara. Rupiah di bawah kekuasaan Soeharto juga goyah. Tak heran jika sebagian petani dan pedagang kopi di Aceh Tengah kaya mendadak. Justru ketika rupiah terperosok hingga titik terendah sepanjang sejarah orde baru. Kopi yang diekspor ke luar negeri dibeli dengan lembaran dolar.

Bardan ingat betul, pada masa itu dealer motor yang ada di Takengon dijejali warga. Mereka antre membeli ‘Honda’, ini sebutan bagi warga untuk kendaraan roda dua apapun mereknya. Besarnya permintaan tak sebanding dengan stok motor, sebagian warga terpaksa masuk daftar tunggu.

Warga lainnya memilih menggunakan keuntungan kopi untuk terbang ke Mekkah.

“Ada kebanggaan bisa pergi haji dari hasil panen kopi,” ujar Bardan.

HAMPARAN kebun kopi seperti selimut hijau yang menutupi perbukitan memasuki kota Takengon. Luas perkebunan kopi yang ada di Aceh Tengah, sebelum kabupaten ini dipecah menjadi dua, hampir 74 ribu hektar. Khalayak juga mengenal daerah ini dengan nama dataran tinggi Gayo.

Rata-rata perkebunan kopi milik rakyat. Namun sebenarnya perkebunan itu warisan pemerintah kolonial Belanda. Perkebunan itu dibangun menjelang akhir abad ke-19.

Dalam buku The Blood of The People, Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra, Anthony Reid mengungkapkan, ini proyek perkebunan yang dikembangkan pemerintah kolonial Belanda di Sumatra Timur. Setelah tembakau dan kopi, Belanda juga membuka perkebunan tanaman yang kala itu jadi primadona perdagangan, semisal teh, karet dan kelapa sawit.

Para kuli yang bekerja di perkebunan-perkebunan itu didatangkan dari Jawa. Alasan Belanda, saat itu kian sulit memperoleh tenaga kontrak yang trampil dan murah dari Cina. Jumlah kuli kontrak yang didatangkan dari Cina hampir 59 ribu orang pada tahun 1900. Sedangkan dari Jawa sekitar 25 ribu. Namun pada 1929, jumlah kuli asal Jawa melonjak hampir sepuluh kali, sekitar 240 ribu. Sebaliknya jumlah kuli kontrak dari Cina berkurang dua kali lipat.

Jumlah kuli lepas asal Jawa juga tidak sedikit. Ledakan populasi orang Jawa di Sumatera Timur tak terelakan. Mereka menempati daerah di wilayah yang sekarang provinsi Sumatera Utara dan sebagian Aceh. Tahun 1930 populasi etnik Jawa mencapai 589 ribu jiwa. Yang tak punya lahan garapan jumlahnya amat banyak.

Tiga tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dari Belanda, petani kopi, khususnya orang Gayo dan Jawa mengambil alih perkebunan-perkebunan Belanda. Mereka merawat dengan cara tradisional hingga kini.

Hampir seratus persen, kopi yang dikembangkan petani adalah kopi organik. Tanpa dijejali bahan-bahan kimia. Ini didukung kondisi alam Aceh Tengah yang berada di dataran tinggi dan berhawa sejuk. Cocok untuk perkebunan.

Udara sejuk juga cocok untuk menikmati kopi hangat. Hampir di setiap sudut jalan di ibukota Takengon terdapat warung kopi. Warung-warung nasi juga menyediakan minuman ini.

Ketika melakukan perjalanan ke Takengon, kesempatan menyeruput kopi tak saya lewatkan. Kopinya kopi tubruk. Kental dan pekat. Uapnya harum. Meski doyan minum kopi, saya tak pernah mau pusing soal jenis kopi apa yang saya minum. Robusta? Arabica? Timtim? Entahlah. Nikmati saja.

Awal Desember lalu, saya datang ke kota itu bersama dua wartawan senior untuk meliput pemilihan kepala daerah di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Yang satu Aboeprijadi Santoso. Pak Tossi, begitu saya memanggilnya, wartawan yang bekerja untuk Radio Netherlands. Sejak 1999, hampir tiap tahun dia tak pernah alpa terbang dari Belanda meliput Aceh. Satu lagi Ati Nurbaiti. Mbak Ati salah satu redaktur perempuan di harian The Jakarta Post yang masih turun ke lapangan.

Entah kebetulan atau bukan, kami bertiga sama-sama doyan minum kopi. Tiap mampir ke warung, tak pernah lupa pesan kopi.

“Saya juga petani kopi,” ujar Bahtiar Gayo kepada kami.

Bahtiar koresponden harian Waspada untuk wilayah Aceh Tengah. Kantor pusat Waspada ada di Medan. Sudah hampir lima tahun dia bekerja sebagai wartawan.

Bahtiar mengajak kami minum kopi di warung sebelah kantor Komisi Independen Pemilihan Aceh Tengah. Kopi tubruk khas Takengon. Sambil menikmati kopi hangat, dia menuturkan pengalamannya sebagai wartawan cum petani kopi.

Di masa konflik kerja wartawan cukup sulit. Bahtiar tak punya alat komunikasi canggih. Sinyal telekomunikasi seluler seperti tak mampu menembus perbukitan dan belantara pohon yang jadi medan konflik.

Kirim berita tak gampang. Salah menulis berita pun nyawa taruhannya. Wartawan dituduh pro Gerakan Aceh Merdeka bila menulis laporan bersumber dari pihak GAM. Atau dituding mendukung militer Indonesia, jika terlalu banyak mengutip pernyataan Tentara Nasional Indonesia.
“Kebun kopi saya ada dua hektar. Tidak terurus selama konflik,” kata Bahtiar.

Bahtiar serba salah. Kerja jurnalistiknya kerap terhambat. Di masa perang usahanya sebagai petani kopi terpaksa ditinggal.

Akibat kebun kopi terlantar jumlah warga miskin bertambah. Ribuan warga terpaksa meninggalkan kebun kopi. Lebih dari 30 ribu hektare kebun kopi tak terurus. Ini bikin pedagang dan tauke kopi ikut pusing tujuh keliling. Pasokan biji kopi dari petani ngadat. Para tauke tak bisa jual kopi ke Medan. Asal tahu saja, Aceh Tengah tak punya industri pengolahan kopi.

“Kebun kopi saya sudah jadi semak dan hutan sewaktu konflik. Saya tidak berani ke kebun, takut kena tembak,” ungkap Muhamad Yamin kepada saya.

Yamin petani kopi di Pondok Baru, Kabupaten Bener Meriah. Ini kabupaten pecahan dari Aceh Tengah yang namanya baru diresmikan Januari 2004 lalu.

Yamin pernah ke kantor Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRDA) di Banda Aceh. Dia berniat meminta dana bantuan modal. Soalnya untuk membuka dan menghidupkan kembali kebun kopi tak gampang.

Petani mesti membabat rerumputan tinggi. Butuh tempo dua tahun untuk bisa panen. Bahtiar memperkirakan, butuh dana Rp 10 juta untuk menghidupkan kebun seluas dua hektare sebelum bisa menikmati panen kopi. Bagaimana jika memiliki kebun lebih dari lima hingga sepuluh hektare, berapa dana yang diperlukan?

Konflik membuat Yamin terpojok. Dia tak bisa bergantung pada panen kebun kopi. Bersama keluarganya dia hidup di bawah ancaman mesiu dan peluru. Tiga dari lima anaknya tak bisa melanjutkan pendidikan. Sedangkan seorang lagi terpaksa menganggur. Keluarga ini hidup seadanya.

Pondok Baru, kampung halaman Yamin salah satu daerah konflik terparah. Ada GAM yang bergerilya dari kebun kopi ke hutan. Ada patroli pasukan TNI bersenjata lengkap. Dan, belakangan muncul sipil bersenjata yang menjadi korban dari GAM. Tak ayal, petani kopi banyak yang tewas.

PONDOK KRESEK, 2001, menjelang tengah malam. Suharto dan Pirin tengah jaga malam bersama sejumlah lelaki lain di desa itu. Desa tempat tinggal anak dan bapak itu berudara sejuk. Kebun kopi mengeliligi pemukiman. Pondok Kresek masih berada dalam kecamatan Pondok Baru, Aceh Tengah.

Tiba-tiba datang gerombolan bersenjata masuk ke kampungnya. Mereka ada seratusan orang. Mengepung dari arah yang berbeda. Warga mengidentifikasi gerombolan itu tentara GAM.

Udara sejuk pegunungan segera berubah panas. Gelap menjadi terang. Gerombolan bersenjata itu membakar rumah. Menembak. Warga histeris. Berlarian. Menyelamatkan diri. Mocar-macir keluar kampung. Suharto selamat. Tapi bapaknya, Pirin, tewas.

Malam itu jadi malam tak terlupakan bagi lelaki Jawa kelahiran Aceh itu. Rumah petani kopi berumur 40 tahun itu ikut hangus dibakar. Dalam tempo hampir dua jam, jumlah penduduk yang tewas puluhan. Keponakan Suharto juga ikut meregang nyawa. Namanya Irma Yuni Prastika. Umur Irma belum genap enam tahun saat peristiwa berdarah itu terjadi.

Hotli Simanjuntak mendatangi lokasi insiden berdarah itu tiga hari sesudah kejadian. Hotli wartawan foto yang bekerja untuk kantor berita internasional Agence France Press di Aceh. Tubuhnya kecil. Tapi nyalinya besar. Dia segera meluncur ketika kantor AFP biro Jakarta menugaskannya meliput lokasi konflik. Peristiwa berdarah di Pondok Kresek berita menarik.

Di kantor DPRD Takengon dia melihat hampir seribuan pengungsi memenuhi gedung yang terletak tak jauh dari kantor kepolisian setempat. Anak-anak. Perempuan. Orangtua. Malam hari, kota itu berubah sepi. Tak ada kendaraan lewat. Mencekam. Warga membuat api unggun di sudut-sudut kota sambil berjaga-jaga.

Untuk mendapat gambar menarik dari peristiwa berdarah di Pondok Kresek, Hotli nekat naik bus tanggung dari Takengon ke Pondok Baru. Sampai perhentian bus yang terakhir, dia tak melihat tanda kehidupan. Kanan-kiri jalan utama Pondok Baru lengang. Warung dan toko berpintu jejeran papan tutup.

Dia segera mencari dan menemui kepala desa setempat. Kepala desa menolak mengantar. Dia tak berani menjamin Hotli mencapai lokasi pembakaran ratusan rumah warga di Pondok Kresek.

Tak jauh dari rumah kepala desa ada Puskesmas Pondok Baru yang menjadi posko bala bantuan Palang Merah Indonesia. Dia segera menuju posko. Begitu tiba, matanya tertumbuk sejumlah relawan PMI yang baru mengevakuasi mayat. Ada delapan mayat dalam bungkusan baru tiba di posko. Dia mendapat kabar, korban-korban itu adalah para petani yang hendak menyelamatkan diri di kebun kopi.

Belum puas mendapat gambar bungkusan mayat, Hotli meminta relawan PMI mengantarnya ke lokasi pengambilan mayat. Permintaannya ditolak. Alasannya, niat Hotli terlalu berisiko.

Dia memutuskan pergi sendiri. Berjalan kaki menuju Pondok Kresek. Dia menyaksikan puing-puing rumah yang hangus terbakar di kanan-kiri jalan. Asap yang membubung di kaki-kaki bukit terlihat dari dari kejauhan. Semakin jauh melangkah, dia mencium bau busuk yang akrab di hidungntya. Dia ragu melanjutkan perjalanan. Itu bau bangkai manusia.

Ini pertanda tak baik, pikirnya. Dia merinding. Nyalinya ciut. Siapa yang bakal menolong jika terkena peluru nyasar. Kecemasan segera menghantui. Dia segera balik kanan. Kembali ke Takengon.

“SAYA INI orang Gayo, meski suku saya suku Jawa,” kata lelaki berbadan krempeng itu.

Namanya Radinal Sagita. Panggilannya Enal. Umurnya 33 tahun. Rumah Enal di Pondok Kresek ikut dibakar. Karung-karung biji kopi yang siap dijual tak luput dibakar. Keluarga besar, paman dan bibinya jadi korban. Tapi dia bersama istri dan anaknya selamat. Malam itu dia tak berada di rumah.

Seperti juga banyak warga Kecamatan Pondok Baru, Enal orang Jawa kelahiran Aceh. Kebun kopinya cukup luas, sekitar lima hektare. Bertahun-tahun kakeknya yang asal Jawa Timur tinggal di dataran tinggi Gayo. Menjadi kuli kontrak di perkebunan Belanda di zaman kolonial. Orangtua Enal juga lahir di tanah rencong.

Enal mengaku tak punya persoalan dengan GAM maupun Teuntra Neugra Acheh selama bertahun-tahun. Dia tak tertarik dengan niat gerakan itu memisahkan Aceh dari pemerintahan di Jakarta. Tapi dia tak habis pikir, mengapa para petani Jawa ikut dimusuhi.

Dia tak terima aksi tetangga dan kerabatnya dibantai. Dia juga tak suka mendengar sumpah serapah “Jawa penjajah, Jawa monyet” yang kerap dilontarkan GAM kepada warga Jawa di kampung itu.

Enal membalas. Dia ikut front dan memimpin pemuda lainnya melakukan perlawanan terhadap tentara GAM. Enal jadi koordinator perhimpunan Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma). Mereka merakit senjata. Ilmunya dari orangtua mereka yang pernah bergabung dalam pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Besi batangannya diperoleh dari toko besi. Ia dan anggota front juga membuat bom molotov dari botol-botol kaca. Mengumpulkan parang.

Tahun 2003, Enal bergabung dengan front Pembela Tanah Air wilayah Bener Meriah. Front ini gabungan dari front sejenis, seperti Gabungan Rukun Damai (Garuda), Front Pembela Merah Putih, Pujakesuma, dan beberapa lainnya. Total mereka yang bergabung dalam front mencapai 30 ribuan. Anggotanya tak hanya orang Jawa kelahiran Aceh, tapi juga orang Gayo.

“Kami bukan milisi. Kalau milisi itu kan dipersenjatai, dilatih, dibiayai. Kami tidak. Kami hanya melawan karena kami ditekan,” aku Enal.

Perang pun tak dapat dihindari. Suhu dataran tinggi Gayo tak lagi sejuk mulai 2000. Perang antara militer Indonesia dan TNA terus berkecamuk. Rumah dibakar. Sekolah hangus. Warga berdarah Jawa cemas.

DI MASA PERANG, korban terbesar adalah warga sipil. Rakyat Aceh menjadi korban pembantaian militer Indonesia. Ribuan warga Aceh tewas, pelakunya tak pernah disentuh hukum. Sebaliknya, orang Jawa jadi korban kekerasan TNA tidak sedikit. Berdasar laporan Amnesty International tahun 1993, puluhan orang Jawa tewas dibantai. Ribuan transmigran asal Jawa diintimidasi agar meninggalkan rumah mereka.

Kirsten E. Schulze, dalam Gerakan Aceh Merdeka: Freedom Fighters or Terrorists? (2004), menulis bahwa orang Jawa di Aceh menjadi salah satu target strategi gerilya GAM yang paling kontroversial. Oleh GAM, kehadiran orang Jawa di Aceh bagian dari neo-kolonialisme Jawa yang mengatasnamakan Indonesia.

Wali nanggroe Tengku Muhammad Hasan Tiro, pernah menyatakan bahwa tujuan GAM adalah memperjuangkan bangsa Aceh Sumatra sebagai sebuah bangsa, perjuangan mempertahankan warisan politik, sosial, budaya dan agama yang telah dihancurkan oleh kolonialis Jawa.

Meski demikian, rakyat Aceh maupun transmigran Jawa, sama-sama jadi korban penguasa Orde Baru, Suharto. Transmigran asal Jawa itu datang ke Aceh ketika Suharto menerbitkan kebijakan transmigrasi yang berlangsung sejak tahun 1979 hingga 1990an. Program itu digodok atas bantuan pakar asing ini didukung lembaga-lembaga bantuan asing, terutama World Bank. Lembaga ini ikut mendanai program transmigrasi yang belakangan berujung pada pembantaian dan konflik terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Tujuan program transmigrasi antara lain meningkatkan kesejahteraan, pembangunan kawasan, menyeimbangkan penyebaran penduduk, pemanfaatan sumberdaya alam, persatuan dan kesatuan nasional serta penguatan pertahanan dan keamanan.

Tapi itu akal-akalan pemerintahan Suharto yang ditopang birokrat dan militer. Menurut Riwanto Tirtosudarmo dalam Demography and Conflict; The failure of Indonesia’s nation building project? (2005), meski program ini ditujukan untuk semua warga Indonesia, pada kenyataannya para transmigran itu hanya orang Jawa. Di masa Suharto, kebijakan transmigrasi ini tak lain dari Jawanisasi Indonesia. Itu sebabnya, setelah krisis tahun 1998 dan mundurnya Suharto sebagai presiden, program ini berujung pada konflik etnis. Dari Aceh hingga Papua, ribuan orang tewas.

Pada tahun 2000 hingga 2002, diperkirakan 50.000 pendatang Jawa diusir dari rumah mereka di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tengah. Sebagian besar adalah transmigran Jawa di era Suharto. Namun sebagian lainnya adalah mereka yang telah tinggal dan beranak-pinak di Aceh berpuluh-puluh tahun, khususnya mereka yang berada di Aceh Tengah yang dibawa pada masa penjajahan Belanda untuk menjadi kuli di perkebunan kopi.

“BUKAN SAYA yang ambil kebijakan strategi perang. Saya membantu di bagian keuangan, belum seratus persen masuk ke hutan.,” kata Fauzan Azima.

Fauzan orang Gayo. Punya kebun kopi seluas satu hektare. Dia pernah menuntut ilmu di Jawa. Tepatnya di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Dia juga bekas aktivis di tabloid Somasi (Solidaritas Mahasiswa untuk Revolusi) dan pernah bekerja sebagai wartawan di harian Berita Buana.

Tahun 1999, dia berniat menerbitkan buku yang ia tulis bersama Martin Sirait. Martin aktivis Huria Kristen Batak Protestan. Buku itu tentang Aceh. Judulnya “Pembantaian Rakyat Aceh”. Kata pengantar sudah dibuat Bambang Warih Suharto, seorang petinggi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Entah dari mana sebabnya, fotokopi buku dalam bentuk dummy itu sudah tersebar. Bahkan ke Tanah Rencong. Dibaca Tengku Ilham Ilyas Leubeh, petinggi militer GAM di Linge. Fauzan pun diajak masuk GAM. Dia diminta kembali ke Gayo.

Sebelum menerima tawaran, dia melahap aneka buku tentang GAM. Dia juga dicekoki ideologi perjuangan GAM. Tawaran diterima. Namun pengalaman jadi aktivis di Jakarta telah memperluas langit pengetahuannya. Dia punya pandangan lain soal gerakan. Termasuk yang menyangkut perjuangan bersenjata.

“Saya bikin struktur. Karena sebelumnya tidak terorganisir.”

Usai mengikuti pendidikan militer di Libya, kariernya di GAM segera melesat. Dia diangkat menjadi panglima GAM wilayah Linge tanggal 19 Mei 2003. Empat panglima sagoe yang berkuasa di 32 mukim berada di bawah kepemimpinannya. Tiap mukim membawahi beberapa gampong. Dia memimpin 517 anggota TNA.

Tak lama setelah itu Megawati Soekarnoputri menetapkan Aceh berstatus Darurat Militer. Fauzan memimpin pasukan. Bergerilya. Keluar-masuk belantara hutan. Senjata Fauzan tak lagi tinta dan pena. Senjata betulan, lengkap dengan peluru.

“Sejak saya pimpin pasukan tidak ada korban sipil. Tidak ada sekolah yang dibakar,” katanya.

Dia punya prinsip jelas soal perang. Niatnya memurnikan gerakan. Tak mau perjuangan GAM ditumpangi kepentingan-kepentingan pribadi dan prasangka etnis.

“Seperti sentimen suku Jawa lebih makmur dari Gayo. Itu perjuangan yang salah, tapi amat mudah tersulut di daerah yang kondisi sosialnya timpang seperti di sini,” ujarnya.

Niatnya tak main-main. Di bawah dia GAM tak hanya beranggotakan orang Aceh. Ada dua orang Jawa yang jadi anggota TNA. Keduanya pun diberi gelar Tengku. Gelar kehormatan buat bangsawan Aceh. Tengku Nanang dan Tengku Sis.

Pasukan Fauzan tak memerangi warga Jawa di Pondok Baru. Ketika mereka terdesak oleh militer Indonesia, Fauzan malah mendapat perlindungan warga Jawa di sana. Dia bahkan sempat menyembunyikan Panglima TNA Muzakkir Manaf selama enam bulan di kampung itu. Bahkan suplai logistik dibantu warga Jawa.

Perjuangan bersenjata lebih nyata memakan korban ketimbang lewat pena. Dia menyaksikan dua belas anggota tewas tertembus peluru. Salah satu yang tewas adalah Tengku Nanang.

“Dia salah satu anggota saya yang syahid,” ujarnya.

Tentara Indonesia berhasil menembak anak buah Fauzan. Tapi dia sendiri tetap licin bak belut. Bolak-balik disergap selalu lolos. Pasukan Indonesia tak pernah berhasil menangkap hingga perundingan damai GAM dan pemerintah Indonesia digelar di Helsinki, Agustus 2005 lalu.

EDI SUYONO, Zen Kaharodin, Irma Yuni Prastika, Marnak, Pirin. Wajahnya peyat-peyot. Tulisan nama dan gambar wajah itu dipampang di tugu depan Puskesmas yang baru dibangun di Desa Sidie Jadi. Ini nama baru untuk desa Pondok Kresek setelah masuk pemerintahan kabupaten Bener Meriah.

Mereka diabadikan sebagai monumen peringatan bagi warga setempat. Di tugu semen itu tertulis, “diresmikan oleh Dandim Aceh Tengah 0106 Letnan Kolonel Heriyadi.” Sebenarnya warga yang tewas ketika peristiwa berdarah 2001 lebih dari lima.

Saya, Pak Tossi, dan Mbak Ati mengunjungi lokasi monumen di desa Sidie Jadi dua hari menjelang pemilihan kepala daerah Aceh digelar 11 Desember lalu. Di sana udaranya sejuk. Tak banyak polusi. Tenang. Tak banyak hilir-mudik kendaraan.

Suharto bilang, setelah perundingan damai desanya lebih aman. Dia sudah bisa turun ke kebun kopinya seluas lebih dari empat hektar. Begitupun warga lainnya. Pelan-pelan mereka mulai memetik hasil kebun. Tapi uang hasil kebun tak pernah dia impikan buat pulang ke tanah nenek moyangnya, Jawa. Hampir 90 persen penduduk di desa ini orang Jawa. Bahasa sehari-hari mereka boso jowo.

“Entah kapan bisa ke Jawa. Saya belum pernah ke Jawa, wong bapak (almarhum Pirin) dan kakek lama di sini.”

“Bisa bahasa Gayo, Pak,” tanya Pak Tossi kepada Suharto.

“Bahasa Gayo, ya siji-loro (satu-dua). Bahasa Aceh malah blas ora bisa (sama sekali tak bisa)!” Suharto tersenyum.

Meski perdamaian sudah berlangsung setahun lebih, Suharto belum yakin sepenuhnya. Dia masih takut jika konflik kembali meledak sewaktu-waktu.

Kecemasan itu juga dirasakan Enal. Banyak warga di Bener Meriah yang belum yakin perdamaian bakal lama. Pemerintah belum mensosialisasikan ke titik-titik masyarakat yang awam. Sosialisasi perdamaian melulu dilakukan di kota kabupaten. Di gedung. Kantor camat. Itu menurutnya tidak mengena ke masyarakat. Apalagi mereka yang berada jauh dari kota namun paling menderita selama konflik.

“Masih ada dendam di masyarakat, karena kami yang dibantai,” katanya.

“Peran pemda memang tidak ada dalam menjembatani proses rekonsiliasi. Masyarakat amat rentan diadu domba, tapi saya yakin perdamaian ini akan lestari,” sahut Fauzan.

Dia kini menjadi ketua Komite Peralihan Aceh wilayah Linge. Ia juga bekerja di bagian komunikasi dan informasi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi regional III untuk wilayah Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur.

Pekerjaan Fauzan di BRR tak seimbang dengan gajinya. Maksudnya, kata dia, tujuh juta sebulan teramat besar bagi bekas gerilyawan. Namun dia punya tanggung jawab terhadap anak buahnya.

Dari total 517 anggota TNA di Bener Meriah, yang resmi mendapat dana reintegrasi hanya 102 orang. Masing-masing mendapat Rp 25 juta. Supaya adil, dana untuk 102 TNA itu dia bagi rata kepada 517 orang. Per orang dapat hampir Rp 5 juta agar mereka bisa berdagang, berusaha, dan bertani. Uang itu sebetulnya terlalu sedikit. Untuk membuka lahan kopi seluas satu hektar saja tak cukup.

“Apalagi banyak anggota yang sudah terlalu lama di gunung selama perang. Mereka lupa bagaimana berkebun,” ujar Fauzan.

Enal dan anggota front juga mendapat dana reintegrasi. Jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang diterima bekas TNA. Anggota front di Bener Meriah sekitar 170 orang. Namun BRDA hanya mengalokasikan dana untuk 45 orang. Per orang dapat Rp 10 juta. Dia mesti membagi rata uang Rp 450 juta kepada 170 orang.

Sebenarnya anggota front tak disebut-sebut dalam MoU Helsinki mendapat dana reintegrasi. BRDA sebagai lembaga yang mendistribusikan dana menuai kritik soal ini. Tapi mereka punya argumen bahwa kelompok ini termasuk dalam korban konflik. Itu sebabnya, dana yang diterima besarnya sama dengan korban konflik lainnya, Rp 10 juta.

Enal adalah adik kelas Fauzan ketika di bangku madrasah ibtidaiyah. Keduanya bersahabat. Tapi di masa konflik, keduanya memilih jalur yang berseberangan. Yang satu jadi panglima GAM wilayah Linge. Satunya lagi jadi koordinator front, melawan anggota GAM dengan senjata rakitan.

Ketika ajang pemilihan kepala daerah berlangsung November hingga Desember lalu, keduanya sama-sama terjun ke politik. Pesta demokrasi lokal ini bagian dari upaya reintegrasi politik di Aceh yang terbelah selama 30 tahun. Fauzan dan Enal kembali ‘bertempur’, meski kali ini memperebutkan suara warga Bener Meriah.

Di politik, keduanya tetap berseberangan. Tapi punya kekecewaan yang sama terhadap elit partai dan pejabat semasa konflik berkecamuk.

“Waktu kami hancur-hancuran di sini, mereka malah kabur,” kata Enal.

“Tokoh-tokoh partai lari. Padahal rakyat disiksa dan dipenjara,” timpal Fauzan.

Itu sebabnya Fauzan maju menjadi kandidat tanpa bendera partai. Dia berpasangan dengan Dawan Gayo, aktivis Sentra Informasi Referendum Aceh. Mereka mengumpulkan tanda tangan dukungan. Dana Rp 20 juta dihabiskan Fauzan untuk mewujudkan mimpi meraup perolehan suara terbanyak.

Enal menjadi motor tim sukses pasangan kandidat Misriady dan Sutrisno. Misriady pengusaha kopi yang memiliki kebun berhektare-hektare. Dia kandidat terkaya di Bener Meriah dengan total harta lebih dari Rp 6 miliar. Sedang pasangannya, Sutrisno, anggota parlemen setempat. Dia juga pernah memimpin front PETA melawan GAM. Enal masih punya garis kekerabatan dengan Sutrisno. Pasangan kandidat Misriady-Sutrisno menjaring suara warga Jawa. Juga bekas anggota front di Bener Meriah.

Tak jarang isu front dan GAM kembali mencuat ketika masa kampanye. Calon front dapat dukungan etnis Gayo dan Jawa. kembali mencuat. Tapi kampanye masing-masing calon berjalan damai. Tak ada kericuhan.

Meski begitu Enal masih menyimpan kecemasan jika Aceh dipimpin orang GAM. Dia khawatir orang Jawa di Bener Meriah bakal diperlakukan tidak adil.

“Ya, bisa perang lagi. Tapi kami tergantung mereka. Kalau mereka baik, kami akan baik. Dan front akan bubar kalau GAM bubar,” ungkapnya.

“GAM bubar kalau MoU Helsinki sudah dijalankan seratus persen,” kilah Fauzan.

BULAN DESEMBER hujan mengguyur Aceh. Sebagian wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah terendam banjir. Ratusan rumah tergenang. Sebagian warga mengungsi. Namun kebun kopi yang rata-rata berada di dataran tinggi masih bisa selamat.

Bulan itu juga bulan yang ditunggu para kandidat yang bertarung dalam pilkada. Sebelum pergantian tahun, penghitungan suara pilkada diumumkan. Fauzan kalah. Jago yang diusung Enal keok. Sebagai pengurus di tim sukses, dia sempat protes.

“Kami tidak mencari musuh. Kami hanya mau usaha perkebunan kopi kami lancar,” ujar Enal.

“GAM akan pergi ke kebun,” kata Fauzan.

Namun Fauzan tetap berharap pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi dan Pengadilan HAM untuk menyelesaikan persoalan masa lalu. Bukan untuk mengadili, tapi untuk memberi kompensasi.

“Tidak pada pengkotak-kotakan Jawa, Gayo, GAM… Karena KKR mencari fakta selama konflik. Tujuannya untuk rekonsiliasi.”

Desember buat petani juga bulan panen kopi. Sepanjang jalan menuju Takengon dan Pondok Baru, banyak warga menjemur biji-biji kopi di muka rumah mereka. Biji-biji itu dikupas dari dagingnya. Jika sudah kering, kopi siap dijual ke tauke atau pedagang yang lebih besar sebelum dibawa ke industri pengolahan kopi di Medan.

Harga biji kopi bervariasi. Jika petani menjual ke tauke masih dalam bentuk gelondong, artinya masih berbentuk buah kopi merah, harganya murah. Per bambu seharga Rp 4.000. Satu bambu sekitar dua liter. Tapi bila kopi sudah digiling menjadi bentuk gabah harganya bisa dua kali lipat lebih, sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per bambu. Tapi harga segitu masih belum menguntungkan petani.

“Panen lagi kurang,” kata Suharto.

Jika harga bagus, panen yang menurun setidaknya masih bisa menutup kekurangan ongkos selama masa tanam hingga panen. Nasib petani sangat ditentukan tauke.

“Selama ini petani tidak pernah tahu harga jual tauke ke perusahaan pengolahan di Medan,” ungkap Bahtiar Gayo.

Sebaliknya, tauke kelas menengah memperhitungkan besarnya biaya angkut kopi ke Medan. Menurut Haji Abdurrahman, tauke yang tinggal di ruas jalan Takengon-Bireuen, jarak yang jauh, jalan yang rusak dan keamanan selama perjalanan dari Takengon ke Medan jarang diketahui petani.

Ketika konflik, Abdurrahman pernah diculik OTK (orang tak dikenal). Itu akronim yang dibuat polisi dan militer Indonesia di masa darurat militer dan sipil. Media massa dan masyarakat Aceh akhirnya ikut menggunakan akronim ini.

Abdurrahman disandera selama sebulan ketika diculik. Untuk bebas, dia terpaksa membayar tebusan Rp 60 juta.

Abdurrahman punya tiga mesin penggiling kopi dan tiga buah mobil pikap yang antar-jemput kopi petani. Ongkos mengambil kopi dari petani yang berada di pegunungan, menurut dia, memakan biaya yang tidak sedikit.

“Kami malah khawatir dengan masuknya orang asing. Kami tak bisa jual petani ke mereka. Mereka beli kopi langsung dari petani dengan harga lebih tinggi,” kata Abdurrahman.

Bahtiar justru memimpikan hadirnya industri pengolahan kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Jika ada pabrik yang mengolah sekaligus mengekspor kopi Gayo, petani bisa segera menjual langsung ke perusahaan. Itu bisa mendatangkan keuntungan petani lebih besar. Buat pemerintah, kehadiran industri itu bisa mendongkrak pendapatan kas daerah.

Pemerintah kabupaten Bener Meriah, yang juga didukung ekonomi perkebunan petani, juga belum berbuat banyak bagi petani kopi seperti Suharto di Pondok Baru. Anggaran belanja sebesar Rp 180 miliar, menurut Fauzan Azima, tak jelas lari kemana.

Program pemerintah Bener Meriah belum menyentuh petani kopi. Padahal dia amat berharap ada upaya pemberdayaan ekonomi setelah masa damai. Ratusan bekas anggota TNA di bawah kepemimpinannya mesti kembali mengelola kebun. Kalau tidak, kata dia, “Dana reintegrasi bisa sia-sia. Dan reintegrasi bisa gagal.”

Aceh Tengah setali tiga uang. Kabupaten ini amat bergantung pada perkebunan. Pendapatan pemerintah kabupaten Aceh Tengah, menurut Bardan Sahidi, rata-rata cuma Rp 6,5 miliar setahun. Itu hanya bersumber dari retribusi.

“Ini membuktikan petani jauh lebih resisten. Sayangnya asosiasi dan perhimpunan petani dan pedagang kopi yang ada belum optimal dan profesional memperjuangkan aspirasi anggota,” kata Bardan.

Jika kopi bisa menguntungkan petani, bukan mustahil dia bakal meninggalkan kursi parlemen.

“Nantinya saya juga tidak ada pilihan lain, mau tidak mau saya harus berkebun. Tapi tidak lagi harus memulai dari awal, tinggal melanjutkan milik orangtua. Ini kan (kebun) warisan.” ***

17 Comments

Filed under Politic, Topic

17 responses to “Kebun Kopi, Gerilyawan, dan Milisi

  1. Salam,

    Senang ada yang nulis tentang Takengon dan sekitarnya. Kota yang dingin. Apakah ketika Samiaji ke sana sudah ramai? Sudah ada lapangan udara? Konon sudah dibuka.. Atau masih harus lewat “Cot Panglima”? Ada rumah makan yang jual ikan yang dijaring dari danau setempat. “Rakan..” apa gitu saya lupa. Rasanya sih biasa aja, tapi menarik karena ikan tersebut cuma hidup di Danau Laut Tawar.

    Terakhir saya ke sana, kalo lewat depan Kodim harus menyalakan lampu mobil bagian dalam dan Ketol sangat sangat sangat sepi..

    Semoga sekarang lebih baik..

  2. ranub

    salam
    saya orang aceh asli.saya juga ada pada saat konflik aceh.malah tempat tinggal saya berada pada garis merah,yg artinya rawan.tapi saya bukan GAM,saya hanya masyarakat sipil.pikiran awam saya kalo aceh itu berhak mendapatkan haknya,karna aceh selalu dibohongi dan ditindas pemerintahan RI dimasa soeharto.dimasa DOM,ribuan nyawa orang aceh melayang dan karna itulah perjuangan GAM bangkit.belum lagi gempa&tsunami yg hanya sekejab merenggut ribuan nyawa.jika saja pemerintah RI bersikap adil mungkin konflik aceh tidak pernah akan ada. saya ikut prihatin kalo pada saat konflik banyak orang2 yg tak berdosa jadi korban,tak perduli dia aceh ato bukan, namun begitulah jika satu daerah dilanda perang.keadaan pasti tak menetu.dimata allah bukan orang jawa ato aceh yg mulia tapi sesungguhnya orang yg bertaqwa itulah yg paling mulia di sisi alllah swt.
    sekarang aceh telah menuju perdamaian dan kita semua pasti mengharapkan agar perdamaian ini menjadi abadi selamanya.saya juga mengharapkan agar dendam dimasa lampau dilupakan,karna dendam itu tidak ada habisnya.mari sama2 kita membangun aceh demi kesejahteraan yg abadi dan semoga senantiasa allah swt memberikan kedamaian buat kita smua.amin
    “nanggroe aceh nyoe teumpat loen lahee bak ujong pante pulau sumatra, jak sama2 ta lake doa bak allah, aceh beumaju ngoen sijahtera”

  3. samiaji bintang

    Ardita,

    Sebelumnya terimakasih atas kunjungan Ardita ke blog saya.

    Minggu-minggu lalu saya ke Takengon lagi. Mandi di danau, sungai dan
    pemandian air panas di Wih Pesam. Lalu malamnya menikmati kopi tubruk
    bareng teman-teman. Praktis, sekarang kotanya sudah lebih hidup dan
    ramai. Hanya di desa-desa seperti di Kecamatan Ketol, ya masih sepi
    dan, tentu kalau malam masih dingin.

    Bandara sudah dibuka di Rembele, ibukota Bener Meriah (pecahan dari
    Aceh Tengah). Tapi saya gunakan jalur darat alias lewat Cot Panglima
    kalau mau ke sana. Jalannya asyik, naik turun dan penuh kelokan.

    Nama rumah makan itu Rakan Ayu. Itu rumah makan terkenal, tapi maaf
    saya sendiri belum pernah ke situ. Hehehe… Ikan jaring yg terkenal
    di Danau Laut Tawar namanya ikan depik. Kecil-kecil, kalau digoreng
    garing rasanya gurih di lidah saya.

    Kapan Ardita terakhir ke Takengon? Semoga bisa berkunjung lagi ke Takengon.

    Saya juga sudah lihat-baca blog Ardita. Ternyata alumni Kursus Narasi!
    Wow, mau bikin buku ya? Atau sudah pernah terbitkan buku? Kalau ada,
    boleh saya minta buku-nya? (Ugh, kapan ya saya bisa menulis buku?).
    Saya tunggu ya.

  4. samiaji bintang

    Noeroel,

    Saya sudah membuka blog Kopi Gayo. Warna backgroundnya cocok dengan warna khas kopi, mantap. Bisakah berbagi cerita tentang aroma dan rasa kopi-kopi di tanah Gayo?

    salam

  5. agam montes

    saya pecinta kopi… saya di London sekarangpun kerja di kedai kopi yang menyajikan kopi, tapi tak ada seenak kopi yang saya nikmati sewaktu di Aceh…

    saya cinta damai, bapak saya meninggal thn 81 seteLah di penjara TNI (Pemerintah RI) di jalan Ghandi Medan dan tak terbukti oleh Pemerintah bergabung dengan GAM atau simpatisan GAM, walau dalam hatinya dia simpati dengan perjuangan GAM, dia hanyalah seorang karyawan Pertamina biasa, Bapak saya aceh asli montasik aceh besar dan ibu saya jawa… saya tak memihak aceh atau jawa..saya berpihak pada kehidupan yang damai..usahakan saling menghargai…

    wassalam

  6. Pingback: Maverick Indonesia » Blog Archive » Click Of The Week: Samiaji Bintang

  7. Semoga perdamaian tetap dijaga. Karena musuh umat manusia adalah kedzoliman.

  8. Tang KW

    Gerilyawan,

    Apa khabar?

    Saya minat beli kopi Arabica.
    Gelilyawan ada jual?

    Kontak saya di superrubrollers@yahoo.com

    Terima kasih.

  9. Hai Tang KW,

    Terimkasih atas kunjungan Anda ke blog saya. Sorry nih, saya bukan gerilyawan dan bukan pedagang kopi. Hehehe… Kalau mau beli kopi Arabica yg dipanen di Gayo, silakan datang ke Gayo. Anda di mana?

    salam,
    bintang

  10. james

    SAYA BUTUH BIJI KOPI ASALAN ROBUSTA,HUBUNGI SAY 08176906080 atau jamzyoung03@yahoo.com.James jakarta

  11. Amir Hamzah

    Bung Samiaji,

    Sy punya kisah menarik dg Tgk Fauzan azima.
    Saat sebuah stasiun TV menayangkan iklan akan mewancarai khusus Panglima Gam menjelang penyerahan senjata, saya respect dan menunggunya.

    Pas, ditampilkan, kata sang reporter sang Panglima adalah Fauzan Azima. Namanya sgt familiar bagi sy. Maklum nggak banyak orang yg bernama itu. Sy pernah kenal orang itu dikampus dulu di Lenteng Agung. Kami satu grup saat ospek. Dan, selanjutnya, dia menjadi salah satu sahabat saya.

    Setelah tamat kuliah, kami tak bertemu lagi. kamera TV mengarah kepada sang Panglima. Astagfirullah, dia adalah Fauzah teman saya. Kaget dan surprise tentunya. Sampai hari ini sy selalu membuka website atau blog dengan kata kunci Fauzan Azima.

    Kebetulan ada pertemuan Hasan Tiro dengan pejbat Aceh di Malaysia, sy ingat lagi dengan dia. Jakarta dan Aceh cukup jauh, namun sy berharap bisa bertemu dengannya suatu ketika. Maklum, dia kan sekarang pejabat, barangkali sering ke Jakarta. Mudah-mudahan Fauzan membaca artikel dan koment ini. Sy bisa dihubungi di email ini atau 021-71541532. Atau bung Samiaji berkenan memberikan kontaknya untuk sy, biar lepas rasa kangen dengan orang yang sy anggap paliing lucu di kampus dulu.

    Wasalam
    Amir Hamzah

  12. Amir Hamzah

    Sekalian ini emai sy
    amirone@bikersmagz.com atau
    amirsatu@yahoo.com

    Terimakasih
    Amir Hamzah

  13. Buat Bang Amir Hamzah… coba googling dengan kata kunci Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser

  14. LASIMIN

    Aceh sudah aman,coba anda skarang brkunjung ke takengon/benermeriah,sela

  15. Galena

    Apa khabar?

    Saya minat beli kopi Arabica dan Robusta yang masih biji hijau rata2 7ton/minggu.
    BPK Gelilyawan ada jual?

    Kontak saya di galena8888@yahoo.com

    Terima kasih.

  16. satria lapanpoloh

    aku bangga darah GAYO mengalir di tubuhku,,,
    aku hidup dari hasil biji KOPI yang selama ini kita banggakan,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s