Oleh SAMIAJI BINTANG*)
Insiden berdarah pecah di kompleks militer di Paya Bakong, Aceh Utara. Seorang mantan gerilyawan GAM ditembak di hadapan utusan Aceh Monitoring Mission.
“MUHAMMAD Umar bin Ismail.” Dia menyebut namanya. Suara pelan. Sudut bibir kanan bengkak.
Seputar rongga matanya hitam. Urat-urat mata merah. Jahitan sepanjang dua sentimeter di pelipis kanan.
Usia Umar 23 tahun. Dia asal Serba Jaman Teunong, salah satu desa di kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Anak keempat dari lima bersaudara.
Dulu dia aktif dalam Tentra Neugra Acheh atau biasa disebut TNA. Setelah Gerakan Acheh Merdeka atau GAM damai dengan pemerintah Indonesia, Umar membantu orangtuanya berkebun coklat dan pinang.
Sudah enam hari dia terbaring di bangsal rumah sakit Palang Merah Indonesia, Lhokseumawe. Di punggungnya terlihat garis-garis luka cukup dalam. Sehelai tikar digelar di muka kasurnya. Di situ duduk seorang perempuan tua berkerudung.
“Siapa yang bayar biaya perawatan?” tanya saya kepada Umar.
“Bayar sendiri.”
“Apa tidak dapat bantuan? Sudah habis berapa?”
Umar menggeleng seraya menoleh kepada ibunya, Rukaiyah.
“Sudah lebih dari seratus ribu,” jawab Rukaiyah.
