Keluarga korban penculikan pasukan bertopeng di Aceh Tengah pada masa konflik menuntut keadilan. Namun, pembatalan undang-undang tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi membuat usaha itu sia-sia.

SELASA sekitar pukul 1 pagi, 4 Desember 2001. Gelap menyelimuti desa Buter, kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Gerimis membuat udara terasa dingin. Suami-istri, Al Muradis dan Kasminah, tidur begitu lelap. Anak bungsu mereka, Budi, juga lelap di kamarnya. Hari itu bertepatan dengan milad atau ulang tahun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke-25.
Berjarak sepuluh meter dari muka rumah mereka terdapat pos jaga. Malam itu giliran Bilal Ariga dan Sumarlin, anak pertama dan kedelapan Murad, yang tugas jaga. Ada empat warga lain yang turut berjaga bersama mereka, termasuk Suparman warga Kute Gelime. Ayah Suparman meninggal dibunuh pasukan bertopeng sekitar lima bulan lalu.
Tiba-tiba sekitar 40an orang berseragam hitam, menggunakan sebo (penutup wajah, yang hanya memperlihatkan mata si pemakai), dan senjata laras panjang mengepung pos jaga itu.
“Jangan bergerak! Kutembak kau!” ancam seorang dari mereka. (more…)
Yayasan Sukma didirikan Surya Paloh dari dana publik untuk korban bencana Aceh-Nias. Bagaimana pengelolaan dananya? Popularitas Paloh juga terdongkrak, karena momentum ini.
GELOMBANG uang melanda Aceh setelah stasiun televisi Metro TV menayangkan dampak tsunami yang menghantam tanah rencong itu pada 26 Desember dua tahun silam. Selama 40 hari penuh lewat siaran “Breaking News” dan program ”Indonesia Menangis”, stasiun swasta tersebut berhasil menguras air mata pemirsa di luar Aceh. Siaran itu pula yang menggugah pemirsa untuk menyumbangkan harta benda maupun uang mereka. Bahkan tak sedikit pemirsa nekat jadi sukarelawan setelah menontonnya.
Kabar duka Aceh pun segera tersiar di luar negeri. Selang beberapa pekan, 15 negara donor sepakat menyatukan bantuan mereka dalam Dana Multi Donor bagi Aceh dan Nias, sebesar 525 juta dolar AS. Lembaga ini dipimpin secara kolektif oleh perwakilan Uni Eropa (yang merupakan pendonor terbesar), Bank Dunia, dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Bank Pembangunan Asia tak ketinggalan mengucur dana 300 juta dolar AS.
Jakarta benar-benar sibuk. (more…)