DIA bergegas ke arah pepohonan di muka gedung parlemen Senayan. Peluh terbit dari pori-pori kulitnya yang keriput. Baju kuyup di bagian punggung–ada tulisan “SPN WF” di situ, kependekan Serikat Pekerja Nasional Wonderful.
Dihampirinya penjual ketupat sayur, lalu berkata, “Satu, Pak.” Sepiring ketupat sayur komplit, dengan sebutir telur rebus dan sepotong tahu. Perutnya lapar bukan main.
Dia dan teman-temannya datang ke sini dengan menyewa enam metro mini. Tapi rombongan SPN WF tak sendiri. Di belakang dan di depan mereka ada rombongan lain. Umumnya mengenakan ikat kepala. Kata-kata yang tertera di ikat kepala itu sama: “TOLAK REVISI UUK 13/2003”. UUK singkatan dari Undang-Undang Ketenagakerjaan. Ya, hanya warna seragam kerja mereka saja yang beda. Biru, hitam, putih, hijau, biru-putih.
Para buruh itu berjumlah puluhan ribu. Mereka buruh Jakarta , Bogor , Tangerang, Bekasi, Semarang , Pekalongan… (more…)