SUKMAWATI mengarahkan tinjunya ke langit. Gerimis membasahi baju dan kerudungnya.
“Hidup korban konflik!” teriak seseorang, dengan megafon.
“Hidup!” pekik Sukmawati. Matanya berair. Tangan kanannya diacungkan lagi ke langit.
(more…)
SUKMAWATI mengarahkan tinjunya ke langit. Gerimis membasahi baju dan kerudungnya.
“Hidup korban konflik!” teriak seseorang, dengan megafon.
“Hidup!” pekik Sukmawati. Matanya berair. Tangan kanannya diacungkan lagi ke langit.
(more…)
SYAHRINA Prihatini tak suka bicara politik. Alumnus madrasah aliyah (atau setingkat sekolah menengah atas) di Banda Aceh ini memilih siaran film asing atau mendengarkan lagu daripada menonton diskusi politik.
“Tidak menarik sama sekali. Karena cuma omongan, tidak dalam kenyataan,” ujarnya, ketus.
Ia juga tak percaya pada politikus. (more…)