Yayasan Sukma didirikan Surya Paloh dari dana publik untuk korban bencana Aceh-Nias. Bagaimana pengelolaan dananya? Popularitas Paloh juga terdongkrak, karena momentum ini.
GELOMBANG uang melanda Aceh setelah stasiun televisi Metro TV menayangkan dampak tsunami yang menghantam tanah rencong itu pada 26 Desember dua tahun silam. Selama 40 hari penuh lewat siaran “Breaking News” dan program ”Indonesia Menangis”, stasiun swasta tersebut berhasil menguras air mata pemirsa di luar Aceh. Siaran itu pula yang menggugah pemirsa untuk menyumbangkan harta benda maupun uang mereka. Bahkan tak sedikit pemirsa nekat jadi sukarelawan setelah menontonnya.
Kabar duka Aceh pun segera tersiar di luar negeri. Selang beberapa pekan, 15 negara donor sepakat menyatukan bantuan mereka dalam Dana Multi Donor bagi Aceh dan Nias, sebesar 525 juta dolar AS. Lembaga ini dipimpin secara kolektif oleh perwakilan Uni Eropa (yang merupakan pendonor terbesar), Bank Dunia, dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Bank Pembangunan Asia tak ketinggalan mengucur dana 300 juta dolar AS.
Jakarta benar-benar sibuk. (more…)
Oleh SAMIAJI BINTANG*)
KETIKA malam mulai menyelimuti Alue Naga, waktu seperti merambat. Seluruh kawasan nyaris gelap pekat. Nyala lampu teplok seperti noktah cahaya di samudera hitam.
“Setiap malam ya begini,” ujar Hendri Syahputra, pemilik warung. Dia pemuda berusia 18 tahun yang hanya tamat sekolah menengah pertama. Ibu dan ayahnya hilang ditelan gelombang tsunami.
Hendri bergantian dengan kakaknya, Juniati, menjaga warung mereka. Tapi tak banyak yang tersedia di warung yang terbuat dari papan usang sisa tsunami itu. Dagangan utama mereka adalah kopi dan teh, ditambah beberapa renteng makanan ringan yang digantung di dinding papan.
“Sudah berbulan-bulan listrik tidak masuk-masuk. Padahal kampung kami masih di kota Banda Aceh, tidak jauh dari kantor gubernur. Tuh, lihat,” ungkap Hendri. Telunjuknya mengarah ke bangunan besar dengan gemerlap lampu, sekitar tujuh kilometer dari utara kampung.
Listrik dalam kampung itu hanya dinikmati dua rumah. Itu pun menggunakan generator listrik berbahan bakar solar. Rumah penduduk lainnya, termasuk warung Hendri, terpaksa seperti hidup di zaman pra kemerdekaan. Penerangan andalan mereka di malam hari hanya pancaran lampu minyak atau lilin. (more…)
CARE, sebuah lembaga bantuan internasional, masih tersandung penyelesaian rumah bantuan. Sebagian calon penerima rumah hanya diberi janji. Warga harus membayar upah kuli dengan uang sendiri.
Oleh: SAMIAJI BINTANG*)
STIKER CARE menempel di pintu depan rumah keluarga Syafi’i Johan di Lorong Kelapa, Lambaro Skep. Delapan telapak tangan membentuk lingkaran. Warna selang-seling. Kuning, oranye.
Dinding rumah darurat itu terbuat dari papan-papan usang. Beratap seng karatan. Angin atau tempias hujan bisa menerobos kuda-kuda atap yang bolong. Sisa semen lantai telah bercampur pasir. Di situ Syafi’i tinggal bersama istrinya, Ruhati, dan dua anaknya, Nurbaya dan Aswadi.
Rumah mereka berbeda dengan rumah bantuan CARE International umumnya, yang bercat krem dan ditandai stiker CARE.
Sumur, dapur, dan kasur tidur menyatu di satu ruang. Pengap dan panas. Bau busuk meruap tiap pagi, siang, dan malam. Ketika saya masuk, comberan tempat nyamuk berbiak cuma berjarak tiga langkah dari tempat tidur mereka.
“(Rumah) ini saya bikin dari hasil mengumpulkan kayu dan seng sisa-sisa tsunami,” ungkap lelaki berusia 64 tahun ini kepada saya, awal Agustus 2006 lalu. (more…)