samiaji bintang

January 13, 2009

Vanishing nightmares of conflict-affected children

Filed under: Social, Topic — samiajibintang @ 5:02 am

Years of conflict brings deeply sorrow among the children in Aceh. They learn to break the fears through traditional art performance.

Did you recognize the men in the uniform, buddy?

Have you recognize any men in the uniform, buddy?

DEDI Marlansyah’s (16) cheeks strained as he played a traditional flute called Seurune Kalee. His fingers moved from one small hole to another on the Serune stick. The flute’s wail was followed by a steady beat from the Rapa’i, a traditional tambourine. Fahrul Razi (14) and two other boys who sat next Marlansyah played the Rapa’i. They sat with legs crossed on a wide blue canvas at Lam Kunyet ex-emergency elementary school yard, rehabilitated by a UN agency.

Shortly after, ranks of young girls came from five directions, moving towards the canvas. They formed a letter ‘V’. Their hands and legs moved together beautifully. They followed the Serunee’s wail and Rapa’i’s rhythm.

“Stop… Stop! Let’s repeat!” Yusfarli (26) shouted suddenly. (more…)

December 13, 2007

Seven Javanese Coolies in Aceh Reconstruction

Filed under: Social, Topic — samiajibintang @ 5:22 am

Time to breakTHE PHONE rang in the Muslikun house at Tirem village one Monday afternoon at the end of March 2006. While most of villagers were busy on the farm, Muslikun preferred to stay at home. The father of two children, he had not yet stayed a week at home. He had been working as a stone-cracker and coolie in Jakarta, the capital of Indonesia, for months. His youngest daughter followed him to seek a job in the city. Eventually, she worked in a textile industry in Pejagalan, North Jakarta.  (more…)

May 5, 2007

Toedjoeh Koeli Djawa di Tanah Rentjong

Filed under: Social, Topic — samiajibintang @ 5:08 am

Ribuan kuli didatangkan dari tanah Jawa untuk membangun rumah dan infrastruktur di Aceh. Tak sedikit yang ditipu pemborong, dan memilih pulang ke kampung. Tapi sebagian bernasib baik dan berniat tinggal lebih lama.

Pulang ke Bedeng

TELEPON berdering di rumah Muslikun di Dusun Tirem. Senin siang menjelang akhir Maret lalu itu, banyak warga dusun yang berada di Kecamatan Mbrati, Grobogan, Jawa Tengah, sedang sibuk di ladang. Muslikun memilih beristirahat di rumah.

Belum ada sepekan bapak dua anak itu berada di kampung halamannya. Selama berbilang bulan sebelumnya, Muslikun banting tulang di kota metropolitan Jakarta jadi tukang batu dan kuli bangunan. Sedangkan anaknya yang kedua menjadi buruh konveksi di Pejagalan, Jakarta Utara.

Dusun Tirem bukan daerah kaya sumberdaya alam. Tak banyak aktivitas ekonomi yang berkembang di sana. Sebagian muda-mudinya mengadu nasib ke kota-kota besar di Jawa macam Semarang, Surabaya, atau Jakarta. Sedangkan yang berada di kampung umumnya orang bekerja sebagai petani di ladang. Namun kebanyakan sawah yang digarap bukan milik mereka sendiri. Di sana lapangan pekerjaan sedikit. Untuk mendapatkan uang Rp 1 juta dalam tempo cepat jelas bukan perkara gampang.

“Muslikun, kamu mau berangkat ke Aceh ndak?” kata lelaki di ujung telepon yang lain. (more…)

April 16, 2007

Para Penjaga Kejayaan Bangsa Aceh

Filed under: Social, Topic — samiajibintang @ 8:53 am

Penziarah di Makam Syah Kuala Oleh Samiaji Bintang

SAYA khadam dari keturunan yang kedelapan,” kata lelaki itu. Dia mengenakan sarung, kemeja muslim dan kopiah hitam.

Ucapannya bernada bangga sekaligus hormat. Sebab hanya orang dan keturunan tertentu yang mendapat hak waris sebagai khadam. Dalam bahasa Arab dan Melayu, khadam sebutan untuk orang yang menjadi juru kunci. Tugasnya menjaga dan memelihara makam.

Makam yang dia jaga adalah makam orang yang dikenal saleh, berilmu, dan mulia. Makam itu tempat peristirahatan terakhir ulama besar Aceh dan pemimpin tarekat Sattariyah, Syeh Abdurrauf bin Ali Al Fansuri Assingkili. Masyarakat lebih mengenal sang ulama dengan nama Syiah Kuala. Dia menjabat sebagai Kadhi Malikul Adil di Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Ratu Safiatuddin Syah (1641-1675), Nakiatuddin Syah (1675-1678), Zakiatuddin Syah (1678-1688), dan Kamalat Syah (1688-1699). (more…)

March 16, 2007

Sampai Jumpa di TV Eng Ong

Filed under: Social, Topic — samiajibintang @ 5:45 am

Oleh: SAMIAJI BINTANG*)

Sebuah stasiun televisi berkeliling ke 40 desa di Aceh dan menyiarkan sastra lisan bangsa Aceh yang nyaris punah. Dari tur itu pula mereka mengerti rahasia dan keinginan bangsa Aceh.

Nonton Siaran TV Eng OngHONDA SUPERCUP merah pudar itu bergerak pelan. Sebilah parang tergantung pada tali yang melilit di setang sepeda motor keluaran tahun 80-an itu. Si pengendara adalah lelaki berkulit legam, berkumis lebat. Uban sudah memenuhi kepalanya. Di jok belakang, duduk seorang bocah usia enam tahun. Selepas Ashar kakek dan cucu ini pergi meninggalkan rumah. Sang cucu akan menemani si kakek mencari rumput buat kambing-kambing mereka.

Zakaria, begitu nama lengkap pengendara motor itu, bertahun-tahun didaulat sebagai keuchik atau kepala kampung Teupin Jareng, Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Petang itu juga sebagian warga Teupin Jareng sudah mengenakan pakaian terbaik mereka. Sebagian bahkan sudah lebih dulu berkumpul di tanah lapang di muka meunasah.

Sebuah truk yang biasa mengangkut tanah atau pasir sudah terparkir di sana. Monitor televisi yang terbuat dari tripleks menjulang di bak belakang truk. Besar monitor kira-kira 1,5 x 1,5 meter persegi. Di kanan bawah monitor terbaca merek televisi: Episentrum. Gambar seekor tokek raksasa sejajar dengan merek itu. Lidahnya terjulur. (more…)

Blog at WordPress.com.