samiaji bintang

February 9, 2009

Those who fight after Yap

Filed under: Law, Topic — samiajibintang @ 6:23 am

Despite increasing the volunteers score, the human right defenders’ struggle in post conflict of Aceh continues heavier.

Post enemy or friend?

Post enemy or friend?

KAMARUDDIN has been going from Banda Aceh, the Aceh capital, to Langsa in East Aceh district more than three times. Each trip, and vice versa, took for a day by bus. The vice deputy of Legal Aid Foundation (LBH) in Banda Aceh must attend the Langsa district court every week. Local attorney accused him of causing instigation publicly.

“The court has been in session for seven times, but the decision is not released until today. The attorney is still questioning the witnesses. There are five court sessions remaining,” he said, exhausted.

Since 4 August 2007, Langsa Police Resort suspected him in instigation case. He was not alone in the case. The police was also suspected his seven colleagues in LBH, Mukhsalmina, Yulisa Fitri, Sugiono, Muhammad Jully Fuady, Mardiati, Mustiqal Syahputra, and Juanda. (more…)

January 13, 2009

Vanishing nightmares of conflict-affected children

Filed under: Social, Topic — samiajibintang @ 5:02 am

Years of conflict brings deeply sorrow among the children in Aceh. They learn to break the fears through traditional art performance.

Did you recognize the men in the uniform, buddy?

Have you recognize any men in the uniform, buddy?

DEDI Marlansyah’s (16) cheeks strained as he played a traditional flute called Seurune Kalee. His fingers moved from one small hole to another on the Serune stick. The flute’s wail was followed by a steady beat from the Rapa’i, a traditional tambourine. Fahrul Razi (14) and two other boys who sat next Marlansyah played the Rapa’i. They sat with legs crossed on a wide blue canvas at Lam Kunyet ex-emergency elementary school yard, rehabilitated by a UN agency.

Shortly after, ranks of young girls came from five directions, moving towards the canvas. They formed a letter ‘V’. Their hands and legs moved together beautifully. They followed the Serunee’s wail and Rapa’i’s rhythm.

“Stop… Stop! Let’s repeat!” Yusfarli (26) shouted suddenly. (more…)

December 5, 2008

Yang Berjuang Setelah Yap*)

Filed under: Law, Topic — samiajibintang @ 9:07 am

LEBIH DARI tiga bulan Kamaruddin bolak-balik antara Banda Aceh – Langsa. Dengan angkutan minibus L-300, butuh waktu sehari untuk bisa mencapai ibukota Aceh Timur ini dari Banda Aceh. Wakil direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh itu mesti menghadiri sidang di Pengadilan Negeri (PN) Langsa. Statusnya adalah terdakwa.

“Sudah tujuh kali sidang, sampai sekarang belum putusan. Masih mendengar keterangan saksi dari jaksa. Masih ada lima sidang lagi,” katanya. (more…)

July 7, 2008

Lelaki Gondrong di Balik Lensa

Filed under: Media, Topic — samiajibintang @ 10:21 am

Tarmizy Harva memotret selebritis Jakarta hingga konflik Aceh. Tahun 2004 ia dianugerahi penghargaan dari World Press Photo


MALAM ITU, pertengahan Februari 2008, sejumlah wartawan muda berkumpul di halaman Kantor Berita Antara biro Banda Aceh. Kantor ini tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Ini tempat kumpul-kumpul mereka saban sore, seusai liputan.

Seorang wartawan dikerubungi rekan-rekannya. Ia tengah membalik-balik halaman buku berjudul Inferno. Buku itu seukuran tabloid, bersampul hitam. Inferno, artinya neraka, dalam bahasa Indonesia.

Inferno memuat foto-foto hasil jepretan James Nachtwey, seorang fotografer kelas dunia yang kerap bekerja di wilayah perang. Beberapa kali Nachtwey diganjar penghargaan bergengsi untuk karyanya.

Di buku itu Nacthwey memotret anak-anak yang terjangkit HIV dalam asilum di Rumania, jejak kebiadaban perang di Rwanda, maupun orang-orang kelaparan di Somalia. Ia juga membidik perang etnik dan kuburan massal di Bosnia.

“Benar-benar jahanam!” umpat lelaki itu, sembari menggeleng. (more…)

June 5, 2008

Senjata Tak Bertuan*)

Filed under: Law, Topic — samiajibintang @ 4:00 am
Tags:

JENIS: senjata rakitan. Panjang: hampir satu meter, popor kayu hitam. Diserahkan oleh: Nasiran. Usia: 50 tahun. Ketua front PETA Blang Mancung, kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Disita: tanggal 30 Oktober 2007 oleh Polsek Ketol.

Tulisan itu tertera di secarik karton merah dengan huruf-huruf yang diketik, lalu diikatkan pada senapan.

Moncong senjata itu tegak menghadap langit-langit. Karat menggerogoti bagian dalam pipa besi yang menjadi lubang melepas peluru. Berat senapan sekitar satu kilogram. Seluruh badan senapan dicat hitam. Di popor kanan menempel stiker bendera merah putih, bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika tidak teliti benar, dari jauh tampilan senjata itu mirip Avtomat Kalashnikova 1947 buatan Rusia yang populer disebut AK 47, dan senapan M16 buatan Amerika Serikat.

Senin pagi, 8 November 2007, senjata itu ‘dipamerkan’ kepada wartawan di luar rumah dinas Kepala Kepolisian Daerah Aceh di Blang Padang. Sebanyak 17 senjata laras panjang rakitan dipajang di situ. (more…)

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com.