Perempuan, Kopi, dan Hutan

 

DSC_3919

Menggoreng kopi — Kaum perempuan di Seko, Luwu Utara, biasa menggoreng atau menyangrai kopi dengan wajan yang diletakkan di atas tungku. Sebagian besar, mereka memanfaatkan kayu untuk bahan bakar.

PEREMPUAN berusia 43 tahun itu mesti berangkat pagi agar lekas tiba dan punya waktu memanen kopi lebih lama. Kebun kopi yang ia kelola bersama suami, Yulius Pato’o, seluas lebih dari dua hektare. Ia dibantu kelompok tani perempuan yang juga tetangga rumahnya. Jumlah mereka ada 12 orang.

 

“Untuk panen kopi biasanya dilakukan berkelompok. Karena kebunnya luas dan pohonnya banyak,” ujar Wilda Tiranda.

Waktu tempuh dari rumah ke kebun kopi sekitar satu jam dengan berjalan kaki. Jalan yang dilalui mendaki, berkelok, dan kadang berlumpur. Kebun itu terletak di bukit Tando, Desa Tanamakaleang. Tanamakaleang berada di dalam administrasi Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara. Kawasan ini berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Dalam Bahasa Indonesia, tando artinya batu tinggi. Untuk mencapai kebun kopi, Wilda mesti melalui dua bukit dengan kemiringan sekitar 60 derajat.  Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under Economic, Environment, Social

Jurnalisme Investigasi dan Nasib Buruh

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup Edmund Dene (E. D.) Morel bekerja menjadi seorang jurnalis. Apalagi menulis laporan-laporan yang menjadi berita besar dan membawa perubahan politik di sebuah negeri. Tapi praktik penindasan terhadap buruh-buruh perkebunan karet di Kongo telah mengubah jalan hidup lelaki yang hidup antara tahun 18 73 hingga 1924 itu. Cover Global Muckraking

Morel semula bekerja sebagai pegawai maskapai perkapalan Inggris Elder Dempster yang berbasis di Liverpool. Meski berpusat di Inggris, maspakai ini telah melakukan perdagangan antar negara-antar benua. Perusahaan perkapalan itu memegang hak monopoli jalur kapal-kapal yang bersandar dan berlabuh di Pelabuhan Antwerp, Belgia. Khususnya kapal yang hilir-mudik antara Belgia dan Kongo. Tugas Morel mengawasi proses bongkar-muat barang tiap kapal milik maskapai Elder Dempster yang baru pulang maupun akan pergi ke Kongo.

Selama berdinas di Pelabuhan Antwerp, Belgia, Morel adalah sosok pemuda yang tekun bekerja. Ia sampai hapal proses bongkar muat berikut isi muatannya. Kapal yang pulang dari Kongo kerap membawa timbunan gading-gading gajah Afrika berukuran raksasa dan tumpukan karet dalam volume besar untuk menyuplai kebutuhan industri otomotif kala itu yang berkembang pesat. Namun ketika kapal-kapal itu hendak kembali berangkat ke Kongo, Morel hanya menyaksikan kapal itu diisi pasukan, senjata, amunisi, dan kebutuhan logistik para tentara. Continue reading

Leave a comment

Filed under Media, Politic, Topic

Pengguna Internet dan Free Labor dalam Kapitalisme Informasional

 

 

HAMPIR sebulan ini saya merasa terganggu dengan SMS-SMS promo dari operator seluler. Pesan pendek ini berisi beragam tawaran, potongan harga untuk pembelian aneka komoditas, yang semuanya tidak saya butuhkan. Dalam sehari saya bisa menerima SMS semacam ini 3-5 pesan. Tidak hanya di hari kerja, pesan-pesan ini juga masuk pada jam istirahat dan akhir pekan.

Berita foto jokowi-mark z

Foto halaman sampul harian Kompas terkait kunjungan Presiden Jokowi ke markas Facebook.

Awalnya saya hanya menghapus pesan-pesan itu. Tapi belakangan saya berpikir, karena tak tertarik dengan tawaran-tawaran itu dan lebih menyukai belanja langsung ke toko atau pasar, SMS2 itu harus segera diblok. Operator tak perlu pusing untuk membujuk saya. Dalam bayangan mulia saya, dengan menghapus nomor saya dalam database kontak, ini bisa menghemat biaya produksi operator.

Lalu saya mencari tahu ke beberapa rekan yang bekerja di operator seluler cara untuk menyetop SMS-SMS promo. Hasilnya, nihil. “Emang perusahaan mbah loe!” balas seseorang. “Kontak aja customer service.” Continue reading

1 Comment

Filed under Law, Media, Politic, Social

Media Vs. Dominasi Elite dalam Kebijakan Publik

ADA yang kurang berimbang dalam pemberitaan sejumlah media terkait penggusuran pemukiman warga di Kampung Pulo, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Media semata-mata menjalankan konsep tradisional tentang nilai berita. Dari riset yang saya lakukan, ada dua nilai pemberitaan yang lebih ditonjolkan oleh media dalam penggusuran dan pembongkaran paksa di Kampung Pulo yang dilakukan Pemerintah DKI Jakarta. Pemberitaan didasarkan pada, pertama, adanya unsur konflik di dalam peristiwa itu. Kedua, berita didasarkan pada nilai keterkenalan atau popularitas sumber, seperti pejabat pemerintah.

Penggusuran warga Kampung Pulo Agustus lalu.

Penggusuran warga Kampung Pulo Agustus lalu.

Terkait peristiwa penggusuran warga di Kampung Pulo yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, media menonjolkan nilai konflik, bentrokan antara warga dengan aparat keamanan. Terlebih lagi, konflik yang menimbulkan jatuhnya korban, kericuhan yang berbuntut pada aksi brutal, seperti pembakaran, atau perang kata-kata yang saling menjatuhkan. Continue reading

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Nelayan Wangiwangi*)

Kemiskinan di salah satu pesisir ‘Surga Laut’.

Laut Wakatobi

SADALIN mengikat perahu kayu sepanjang hampir empat meter di parit depan rumahnya. Parit selebar dua setengah meter itu juga menjadi lalu lintas dan “tempat parkir” perahu-perahu kayu milik nelayan lainnya. Air dalam parit itu jernih. Dasar parit tampak jelas dari permukaan. Parit itu langsung bermuara ke laut.

           Nelayan yang tinggal di Kampung Bajo, Desa Mola Utara, itu baru saja melaut, mencari ikan-ikan “balaki”, sebutan warga di Kecamatan Wangiwangi, Kabupaten Wakatobi untuk ikan tuna. Continue reading

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Video tutorial “Jurnalisme Investigasi”

Ini video tutorial investigative reporting yg diproduksi Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) dan WatchDoc. Salah satu serinya tentang profil jurnalis yg melakukan reportase investigatif. Menarik disimak.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Mungkinkah Membendung Banjir Informasi?

Judul : BLUR; How To Know What's True in The Age of Information Overload.
Penulis : Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.
Penerbit : Bloomsbury.
Halaman : 227

DINI hari itu saya kaget dan terbangun mendengar dering handphone di meja sebelah kasur. Ada pesan masuk. Biasanya, informasi yang masuk pada jam-jam itu adalah informasi yang berkategori penting, darurat, atau mengabarkan berita duka cita. Dengan agak malas saya terpaksa mengambil HP, membuka kotak pesan, dan berharap bukan kabar muram yang saya terima. Ternyata benar, pesan itu sama sekali bukan berita duka. Melainkan, “Mama lg di rs. Pulsa mama habis. Tlg kirimin mama pulsa ke nomor ini…

Saya yakin itu berita bohong (hoax) dengan modus penipuan. Dan, itu bukan pesan yang satu-dua kali saya terima. Pengalaman serupa banyak dialami teman dan kerabat saya. Meski pesannya agak berbeda, bukan Mama, tapi Papa minta pulsa, rata-rata para penerima pesan punya komentar yang sama. “Sangat mengganggu!” kata mereka setengah memaki.

Pesan lain yang tak kalah mengganggu privasi adalah promosi kredit, penawaran ini-itu yang dikirim pada jam-jam kerja, atau ketika orang sudah terlelap. Selain melalui handphone, informasi-informasi sejenis juga memenuhi kotak surat elektronik (surel). Informasi ini seakan mengalir tanpa kenal waktu lewat saluran komunikasi pribadi dan rumah tangga, termasuk koran, televisi dan radio. Bercampur dengan ribuan, jutaan bahkan miliaran informasi yang faktual, nyata, dan, memang benar-benar penting dan layak dipercaya. Continue reading

Leave a comment

Filed under Media