Sampai Jumpa di TV Eng Ong

Oleh: SAMIAJI BINTANG*)

Sebuah stasiun televisi berkeliling ke 40 desa di Aceh dan menyiarkan sastra lisan bangsa Aceh yang nyaris punah. Dari tur itu pula mereka mengerti rahasia dan keinginan bangsa Aceh.

Nonton Siaran TV Eng OngHONDA SUPERCUP merah pudar itu bergerak pelan. Sebilah parang tergantung pada tali yang melilit di setang sepeda motor keluaran tahun 80-an itu. Si pengendara adalah lelaki berkulit legam, berkumis lebat. Uban sudah memenuhi kepalanya. Di jok belakang, duduk seorang bocah usia enam tahun. Selepas Ashar kakek dan cucu ini pergi meninggalkan rumah. Sang cucu akan menemani si kakek mencari rumput buat kambing-kambing mereka.

Zakaria, begitu nama lengkap pengendara motor itu, bertahun-tahun didaulat sebagai keuchik atau kepala kampung Teupin Jareng, Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Petang itu juga sebagian warga Teupin Jareng sudah mengenakan pakaian terbaik mereka. Sebagian bahkan sudah lebih dulu berkumpul di tanah lapang di muka meunasah.

Sebuah truk yang biasa mengangkut tanah atau pasir sudah terparkir di sana. Monitor televisi yang terbuat dari tripleks menjulang di bak belakang truk. Besar monitor kira-kira 1,5 x 1,5 meter persegi. Di kanan bawah monitor terbaca merek televisi: Episentrum. Gambar seekor tokek raksasa sejajar dengan merek itu. Lidahnya terjulur. Continue reading “Sampai Jumpa di TV Eng Ong”

Advertisements

Salak Senapan di Paya Bakong

Oleh SAMIAJI BINTANG*)

Insiden berdarah pecah di kompleks militer di Paya Bakong, Aceh Utara. Seorang mantan gerilyawan GAM ditembak di hadapan utusan Aceh Monitoring Mission.

Pos TNI di Paya Bakong dihancurkan warga.

“MUHAMMAD Umar bin Ismail.” Dia menyebut namanya. Suara pelan. Sudut bibir kanan bengkak.

Seputar rongga matanya hitam. Urat-urat mata merah. Jahitan sepanjang dua sentimeter di pelipis kanan.

Usia Umar 23 tahun. Dia asal Serba Jaman Teunong, salah satu desa di kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Anak keempat dari lima bersaudara.

Dulu dia aktif dalam Tentra Neugra Acheh atau biasa disebut TNA. Setelah Gerakan Acheh Merdeka atau GAM damai dengan pemerintah Indonesia, Umar membantu orangtuanya berkebun coklat dan pinang.

Sudah enam hari dia terbaring di bangsal rumah sakit Palang Merah Indonesia, Lhokseumawe. Di punggungnya terlihat garis-garis luka cukup dalam. Sehelai tikar digelar di muka kasurnya. Di situ duduk seorang perempuan tua berkerudung.

“Siapa yang bayar biaya perawatan?” tanya saya kepada Umar.

“Bayar sendiri.”

“Apa tidak dapat bantuan? Sudah habis berapa?”

Umar menggeleng seraya menoleh kepada ibunya, Rukaiyah.

“Sudah lebih dari seratus ribu,” jawab Rukaiyah.

Continue reading “Salak Senapan di Paya Bakong”