Dari New York ke Banda Aceh

Komunitas peta hijau di Banda Aceh menerbitkan Green Map Banda Aceh. Ini peta buat mengenang tempat bersejarah selepas dihantam tsunami.

Masjid Raya Baiturrahman
TELUNJUK Silvia Agustina berulang-ulang mengetuk ikon panah ke bawah bernomor lima pada peta yang dibentangkan di atas meja. Peta itu gambar Banda Aceh yang difoto dari ketinggian ribuan meter. Di situ tampak petak-petak tambak, pemukiman padat, aliran sungai yang berkelok, maupun garis ruas jalan yang sambung-menyambung. Semua tampak kecil.

Sedangkan simbol panah itu memiliki arti bahwa di situ adalah tempat yang punya kenangan dan nilai sejarah. Silvia menunjuk tanah kelahirannya. Sebuah kampung tempat ia dibesarkan sebelum nyaris terhapus dari peta dunia.

“Dulu di kampung saya ini terkenal sebagai pusat makanan tradisional Aceh. Ada timphan, dodoi, halua…,” katanya mengenang.

Silvia lahir di Banda Aceh. Tahun 1990an dia belajar arsitektur di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Lalu meneruskan kuliah perencanaan tata kota ke University of Washington. Pernah menjabat koordinator program dalam United Nation Development Fund for Women di Aceh. Kini dia mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas Syiah Kuala.

Kampungnya bernama Lambung. Ini pemukiman padat penduduk. Letaknya berada dalam Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh. Bencana Minggu pagi pada 26 Desember 2004 telah melumat rumah-rumah di sana. Gedung-gedung pemerintah. Warung penjual kue, toko, pasar hingga sekolah tempatnya belajar. Air bah juga menenggelamkan orangtua, tetangga, kerabat, karib, dan ratusan pembuat kue yang dijual ke kedai-kedai kopi.

Warga Lambung yang selamat tak banyak. Dari 2.000 jiwa hanya tinggal 350!. Selebihnya dibawa gelombang tsunami entah ke mana. Termasuk orangtua Silvia.

“Sampai sekarang saya tidak tahu di mana orangtua saya dimakamkan,” kata dia.

“Tapi karena yang saya tahu ada kuburan massal di Meuraksa, ya saya sering ziarah ke sana.”

Dalam peta itu, kampung Silvia ada di bawah kampung Ulee Lheue. Legenda atau keterangan ikonnya amat berbeda dengan peta kota Banda Aceh yang dijual di toko-toko. Berwarna dengan detil yang lebih unik. Seperti ikon buangan kimiawi, kedai kopi, panorama surya terbenam, atau tempat spiritual bernilai.

Jumlah objek yang ditunjuk dengan ikon di peta itu berjumlah 50. Tiap nomor ikon diberi keterangan pendek. Isinya sekelumit sejarah masing-masing objek sebelum dan setelah bencana yang disertai dokumen foto objek sebelum atau setelah bencana.

“Objek-objek itu memang sengaja dipilih dengan dasar pertimbangan subjektif,” ungkap perempuan yang hobi bersepeda ini.

Ada Masjid Raya Baiturrahman peninggalan zaman kerajaan. Pelabuhan Kapal Cepat Ulee Lheu. Kuburan massal korban tsunami di Meuraksa. Hotel Medan di Peunayong. Pasar Atjeh. Markas perwakilan Persatuan Bangsa Bangsa. Gereja Bunda Maria Hati Kudus, swalayan terbesar di Banda Aceh bernama Pante Pirak, kedai kopi Solong di Ulee Kareng, dan rumah Cut Putri.

Namun menurut Silivia, tempat-tempat itu sudah dikenal warga Aceh ketika tsunami dan punya nilai kenangan. Seperti rumah Cut Putri di Ulee Lheue. Dari lantai dua rumahnya, perempuan ini merekam dahsyatnya gelombang tsunami yang menenggelamkan kampungnya. Rekaman amatir itu dikirim ke Metro TV. Stasiun itu menyiarkan rekaman tsunami Cut Putri berulang-ulang.

“Kenapa sengaja dimasukkan dalam peta, karena dari situ dunia pertama kali tahu betapa dahsyatnya tsunami di Aceh.”

Silvia bersama Komunitas Peta Hijau Aceh menamakan peta yang mereka buat dengan ‘Peta Hijau Kenangan Tsunami Banda Aceh’. Banyak tempat dan objek yang sudah dikenal warga. Tapi tidak sedikit yang mengenal tempat maupun objek itu tanpa pengetahuan sejarah.

“Jangan salah! Sampai sekarang masih banyak orang Banda Aceh sendiri yang belum tahu kalau tempat pembuangan akhir sampah di Kampung Jawa dibangun di bekas tanah kerajaan,” sungut Silvia.

Saya sempat mengunjungi kampung yang disebut Silvia. Ribuan kubik sampah warga Banda Aceh yang dibuang tiap hari telah mengubah tanah itu menjadi gunung sampah. Radius 200 meter, bau busuk sudah menusuk hidung. Kawasan itu kini menjadi tanah bagi kerajaan lalat dan surga buat jutaan belatung. Juga menjadi ladang para pemulung mencari nafkah.

Silvia dan komunitasnya berniat menawarkan sudut pandang baru atas wilayah atau tempat yang punya potensi untuk mendukung perbaikan pembangunan di Banda Aceh yang sayangnya selama ini terlewatkan.

YOGYAKARTA, 1989. Seorang perempuan bule berjalan-jalan menyambangi Kebon Binatang Gembira Loka. Perempuan berkacamata ini bernama Wendy E Brawer. Dia direktur Modern World Design, perusahaan desain yang berbasis di New York. Kantornya di antara gedung pencakar langit kota yang jadi simbol puncak kapitalisme dunia.

Tiba-tiba dilempari batu dari seekor orangutan. Wendy beruntung, batu itu meleset. Tapi dia seperti disambar geledek. Dia merasa binatang berbulu coklat itu seperti telah menghardik sikap ketidakpeduliannya terhadap lingkungan.

Sejak ‘ditegur’ si orangutan di Gembira Loka, Wendy putar haluan atas jalan hidupnya. Sekembali di New York dia memutuskan untuk mengabdi pada segala yang berbau ekologi.

Dia juga mengganti gaya hidupnya menjadi lebih sehat. Kebiasaan yang tak ramah lingkungan dia enyahkan. Dia membuang sampah cuma di tempat daur ulang yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Dia pun mulai rajin mengayuh sepeda, berkeliling hingga ke sudut-sudut kota New York.

Desember 1991, Wendy sudah di New York. Dia mengikuti sebuah konferensi yang digelar di markas PBB, New York. Konferensi itu membahas persiapan Earth Summit di kota Rio de Janeiro, Brasil. Acara ini diikuti seratusan aktivis lingkungan di seluruh dunia.

Wendy penasaran. Dia ingin membantu para peserta yang datang dari penjuru dunia dan mungkin baru pertama kali ke New York bisa pergi berkeliling kota. Merasakan perubahan dan kemajuan lingkungan yang telah dilakukan di kotanya.

Lalu ia memutuskan membuat peta buat tamu-tamu itu. Peta yang mudah dipahami yang dilengkapi petunjuk objek-objek yang bersejarah dan ramah lingkungan, dan mudah diakses. Bukan cuma bagi para pengunjung, tapi juga warga setempat.

“Saya menamainya Green Apple Map (Peta Hijau Apel). Dalam tempo singkat, segera dilakukan riset dan pembuatannya,” tulis Wendy. Dia menceritakan pengalamannya di situs http://www.greenmap.org.

Dibantu seorang sahabatnya dan dana hasil pengumpulan bantuan masyarakat seni di kota, Wendy berhasil mencetak 10.000 lembar peta hijau. Isinya, petunjuk dan lokasi yang paling menarik, dan punya unsur ekologis. Seperti museum, taman, pasar sayur dan buah-buahan, trek dan jembatan untuk bersepeda, dan tempat pembuangan akhir sampah. Bahkan Wendy mencantumkan objek kawasan yang penuh racun dan polusi di Big Apple, julukan lain kota New York. Semua dilengkapi foto objek.
Ide Wendy seperti punya kaki, berjalan ke mana-mana. Komunitas peta hijau yang bertebaran di luar New York menjalin persahabatan, membuat gerakan, dan mendirikan Green Map System (GMS) pada 25 Maret 1995.

“Bersama kita bangun kota kita menjadi kota bersih dan lebih baik. Kota yang paling sehat!” demikian bunyi slogannya.

Ide peta hijau itu pun segera mampir ke Indonesia. Mulanya Marco Kusumawijaya diundang pemerintah Amerika Serikat untuk berkeliling negeri Paman Sam itu. Salah satu kota yang jadi tujuan kunjungan gratis itu adalah kota yang jadi pusat bisnis internasional, New York.

Marco adalah arsitek kelahiran Bangka yang berminat di bidang seni dan budaya. Dia banyak menulis persoalan kota di sejumlah media. Sebelum Soeharto dipaksa turun oleh mahasiswa, Marco bekerja sebagai konsultan perencanaan tata kota. Dia pernah jadi konsultan perencanaan sebagian kompleks real estate Kota Baru Bumi Serpong Damai. Pernah menjabat direktur perencanaan Kota Baru Tiga Raksa, Tangerang. Mulai Agustus lalu, dia juga menduduki kursi ketua Dewan Kesenian Jakarta selama tiga tahun ke depan..

“Saya baru tahu green map waktu ke New York dan main ke kantor pusat green map. Di sana saya bertemu Wendy. Dia cerita soal pengalamannya ditimpuk orangutan kebon binatang di Yogya,” kenang Marco kepada saya.

Kembali ke Jakarta, Marco bawa oleh-oleh ide dari Wendy. Ia segera membikin peta hijau untuk kawasan Kemang di Jakarta Selatan. Ini daerah elit yang memiliki tempat-tempat menarik buat dikunjungi, galeri seni, kafe, hingga toko buku yang nyaman sekaligus ramah lingkungan.

Lewat kegigihannya dalam survei dan membaca literatur sejarah kota Jakarta, Marco dan beberapa kenalannya membuat peta hijau ibu Negara Indonesia. Dalam jaringan GMS, Jakarta masuk dalam 10 kota besar generasi pertama yang memiliki peta hijau.

Di dunia, sampai kini jumlah peta hijau yang telah dibuat mencapai 250 buah. Dan tiap tahun masih akan terus bertambah. Di Amerika Serikat kota besar seperti Washington DC, Manhattan, dan Brooklyn menerbitkan peta hijau. Eindhoven, salah satu kota penggila bola di Belanda, juga punya. Singapura dan sekitar 20 ibukota provinsi di Thailand tak ketinggalan bikin peta hijau.

Pamor green map Jakarta, tak kalah dibanding New York, Milwaukee, Toronto, Hiroshima, Tokyo, atau kota Pume di India. Peta-peta hijau itu dipajang dalam situs greenmap. Peta hijau Jakarta yang dibuat Marco paling banyak diakses pengunjung situs GMS, lebih 20 ribu pengunjung!

Karya itu mengundang perhatian banyak lembaga. Goethe Institute segera membantu Marco bersama arsitek dan seniman Jakarta untuk membuat peta hijau berjudul ‘Imagining Jakarta’ jilid pertama.

Tak hanya Jakarta. Kendati belum banyak, komunitas peta hijau pun merebak di tanah air dan membuat peta hijau. Contohnya di Buton, Malang, Yogyakarta, Bandung, Bogor, atau Denpasar. Bahkan warga di kompleks situs candi Borobudur maupun Prambanan.

Ide peta hijau ini terus berjalan, menyebar hingga ke ujung timur Sumatera.

BANDA ACEH, 2005. Sisa bangunan hancur masih terserak di sana-sini. Jalan-jalan rusak dan berlubang. Pembangunan kota yang telah dilakukan sejak 800 tahun silam nyaris sia-sia. Bekas kecoklatan genangan air laut menempel di tembok-tembok yang selamat. Ratusan bahkan ribuan orang asing hilir mudik ke kota yang naas ini.

Marco ikut terbang ke Aceh dari Jakarta. Dia menjadi anggota komisi darurat kemanusiaan untuk Aceh dan Sumatera Utara. Dia coordinator tim teknis dalam jaringan organisasi nonpemerintah bernama Urban Poor Linkage (Uplink).

Organisasi lokal yang dibentuk pada Juli 2002 ini menurunkan sejumlah relawan ke Aceh. Sambil mendistribusikan aneka bantuan, Marco dan kawan-kawan membuat peta hijau sehubungan lokasi dan wilayah kerja mereka di Banda Aceh. Lalu berkoordinasi dengan Jurusan Teknik Arsitektur Unsyiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur dan rumah-rumah warga yang hancur dilanda tsunami.

Di kota ini Marco kerap berdiskusi dengan relawan dari mahasiswa dan dosen di fakultas teknik di perguruan tinggi itu. Salah satunya Silvia Agustina.

Satu hari di bulan Juni, Silvia bertemu Marco di sebuah kedai rujak, sebelah gedung Garuda Theater. Gedung itu nyaris roboh gara-gara tsunami.

Rujak dan es kelapa terhampar di meja. Kedua arsitek itu segera terlibat pembicaraan agak serius. Tapi tak jauh-jauh soal bangunan. Tentang tempat-tempat bersejarah di Banda Aceh yang nyaris punah dan dilupakan.

“Kita perlu mengenang kembali tempat-tempat di Aceh yang hilang,” kata Marco, “karena yang hilang itu mungkin penting.”

Marco punya pertimbangan. Setelah bencana, pembangunan raksasa yang dituntut bisa selesai dalam tempo singkat sedang terjadi di Banda Aceh. Ini bukan tanpa risiko. Lahan tempat bangunan bersejarah maupun kawasan hijau tidak mustahil digilas buldoser atau dihantam backhoe. Diganti bangunan lain, atau yang sedih jadi pembuangan limbah, seperti di Kampung Jawa, Kecamatan Kuta Raja.

“Memang tidak semua yang hilang harus dibangun lagi. Tapi lewat peta hijau, itu bisa jadi pertimbangan,” sambung Marco.

“Iya. Saya sebenarnya juga sudah punya pikiran untuk membuat itu sebelumnya,” balas Silvia.

Menurut dia, ingatan kolektif warga Banda Aceh tentang kotanya bakal hidup terus meski tsunami menghancurkan infrastruktur yang sudah dibangun selama 801 tahun. Peta hijau Banda Aceh juga ditujukan untuk mendorong masyarakat agar dapat mengidentifikasi tempat-tempat, obyek dan wilayah yang telah membentuk ingatan kolektif, terutama yang berhubungan tsunami.

“Ini dia yang gua cari!” Marco membatin.

Bagai pungguk merindukan bulan, Marco menemukan orang yang tepat buat berbagi ide dan pengalaman. Keduanya setuju agar dibuat peta hijau untuk Banda Aceh. Marco cari dana dan jadi penasehat tim. Silvia mencari relawan dari mahasiswa tempatnya mengajar dan mengordinir mereka membikin peta.

Marco segera mengontak sejumlah seniman dan arsitek yang terlibat dalam Imagining Jakarta jilid kedua. Dia meminta persetujuan agar dana bantuan Goethe Institute dialihkan buat bikin peta hijau Banda Aceh. Mereka setuju.

Silvia membuat pengumuman di kampus. Dia mencari relawan mahasiswa yang mahir menggunakan CorelDraw, peranti lunak pengolahan citra.

Uli Roslaini dan Arselan mendaftar. Mereka mahasiswa jurusan Arsitektur semester sebelas. Uli sempat mengikuti pertemuan komunitas Green Map di Jogjakarta. Hidayatullah, yang baru tingkat awal bergabung di gelombang berikutnya.

Silvia dan anak buahnya kemudian bekerja mencari foto, dokumentasi sejarah, dan memilih objek yang bakal dimuat dalam peta hijau mereka.

“Kami jadi tahu banyak tentang tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah kami kunjungi,” ujar Uli.

Bersama beberapa rekan mahasiswa Universitas Indonesia yang jadi relawan di Aceh, ia menyusuri sisa-sisa pertokoan Pasar Atjeh yang ikut dihantam tsunami. Ia menemukan buah lerak yang digunakan untuk membuat kinclong perhiasan dari emas atau logam.

“Saya naik motor mendatangi dan mencari informasi tentang kuburan massal,” kata Dayat, panggilan akrab Hidayatullah.

Desain dan pembuatan grafis dikerjakan dilakukan di laboratorium Perencanaan Kota. Pertama dirancang Arselan. Tapi ia makin sibuk dengan kuliah. Dayat gantian mengerjakan. Dia ikut turun ke lapangan. Mendatangi rumah Cut Putri, kuburan massal, hingga kedai kopi.

“Waktu itu ikon kopi belum ada standarnya di green map. Lalu kami buat cangkir beruap di atas piring kecil. Ikon ini khusus untuk menunjukkan kedai kopi. Saya buat dengan Bu Silvi,” terang Dayat, bangga.

Waktu yang dibutuhkan lebih dari dua bulan untuk membuat peta. Pasalnya, para mahasiswa juga sibuk kuliah. Apalagi status mereka juga relawan. Tak dipungut bayaran. Tapi proyek ini berjalan berbulan-bulan.

“Waktu efektifnya hanya sebulan. Tapi karena komunitas kami kebanyakan relawan, jadi sulit sesuai jadwal. Dan kami lebih banyak ngomong-ngomong dan jalan-jalannya. Itu asyiknya,” kenang Silvia.

Hasilnya, ada 50 objek yang Silvia bersama komunitasnya dianggap paling mewakili kenangan terhadap bencana mahadahsyat dua tahun lalu itu. Seribu lembar peta edisi pertama sudah dicetak pada Juni tahun lalu. Sebagian sudah disebar ke beberapa NGO dan sekolah menengah. Gratis!

“Tapi ini masih perlu direvisi, dan kami butuh editor profesional. Kalau ada sponsor, kami juga mau bikin peta hijau untuk kota-kota lain di Aceh,” ungkap Silvia. ***

16 Comments

Filed under Environment, Topic

16 responses to “Dari New York ke Banda Aceh

  1. Halo mas Bintang.
    Terharu gw bacanya….

  2. Safri,

    Haloo… Salam dari bapak kos. Sekarang jadi sepi banget di Ketapang.

    bintang

  3. CUT PUTRI

    Saya Cut Putri, perekam video peristiwa Tsunami Aceh 2004.
    Terima kasih untuk artikelnya tentang Green Map Banda Aceh.
    Salam.
    CUT PUTRI
    (cutpanglima@yahoo.com)

  4. Salam kenal,

    Senang bisa kenalan dengan Cut Putri. Terimakasih juga atas rekaman video Cut Putri yg luar biasa. Saya menyaksikan rekaman itu sewaktu di Balikpapan. Benar-benar tak terlupakan.

    bintang

  5. rohman

    Mas Bintang, thanks untuk tulisan yang sangat menyentuh dan informatif…

    FYI, komunitas peta hijau indonesia kini “berumah” di http://www.greenmap.or.id. Jika berkesempatan untuk kontribusi, dalam bentuk apapun, termasuk tulisan atau foto-foto, kami akan dengan senang hati menerimanya…

    salam,
    rohman

  6. Jakarta, 15 Desember 2007

    Buku tentang cerita tsunami “MENGGAPAI HIDUP YANG BERMAKNA” kini dapat di AKSES pada :

    http://www.halamansatu.net tanggal 23 februari 2007

    http://www.rachmadpoltektk93.blogspot.com
    http://www.sabangfreeport.blogspot.com

    Wassalam

    RACHMAD YULIADI NASIR
    rachmadpoltektk93 at yahoo dot com

  7. SIR dedenk lord

    salam..

    tulisannya bagus banget. pengen deh bisa nulis dalem kayak gini.

    tapi kalau saya tidak salah, ada data yang kurang akurat tuh.

    rumah cut putri bukan di ule-lheu. tapi di Lamjame, kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh.

    hehe..kok gak salah sih.

    wassalam

  8. Sepertinya memang Bakrie harus diadili seluruh rakyat Indonesia….

  9. bagus betul….. sy sendiri tak tau tentang itu. tq. kalau tak sengaja masuk laman web ni, sampai bila-bila pun sy tak tau thanks very much bg info.

  10. saLam! putrI hOw arE yoU< i reaLLy misS yoU aLL theRE. . .caN yoU plEase leaVE mEssaGE foR me. . .< i`LL caLL yOU on yOUr HP nExt wEEk. . .byE!

  11. thank you for sharing, jadi terharu mbacanya..
    saya link ya.. bisa dibaca di blog saya yang satu lagi..🙂

    http://1sty.multiply.com

    syukran dan selamat menjelang ramadhan..😉

  12. ana

    Terima kasih y…
    saya sangat berkesan dengan tulisannya….

  13. ana

    Terima kasih y…
    saya sangat berkesan dengan tulisannya…

  14. MIMI

    salam kenal, thx ya, aq sneng dgn topik ini ttg peta hijau banda aceh, aq org aceh yg skrg netap djkrt, dgn tulisan ini aq jd tmbah kngn sm kota kelahiranq…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s