Partai GAM

Bendera Partai GAM
Lambang bendera Partai GAM sebelum diganti.

LANGKAHNYA bergegas menuju Suzuki Vitara putih, meninggalkan kantornya yang sepi.

“Maaf, besok saja ya. Semua akan dijelaskan dalam pertemuan dengan pers besok dengan wartawan-wartawan lain,” katanya, Jumat, 13 Juli 2007 lalu.

Lelaki itu bernama Tengku Muhammad Nazar. Tetapi, ia bukan wakil gubernur Aceh. Nama bisa serupa, kerja jelas berbeda.

Dulu ia tak pernah disorot media massa. Tetapi sekarang ia jadi orang penting. Partai GAM memilihnya jadi sekretaris jenderal merangkap juru bicara.

Saya menanyakan padanya tentang sikap pengurus Partai GAM setelah mendapat protes dari Jakarta.

“Saya belum bisa komentar. Saya mau shalat Jumat. Besok saja, jam sembilan. Di kantor ini bersama yang lain.”

Kantor berbentuk rumah toko dua lantai itu diresmikan pada 7 Juli 2007, sepekan sebelum saya menemuinya. Letaknya di Jalan Teungku Imeum Leung Bata Nomor 48, di sebelah toko perabotan rumah tangga. Continue reading “Partai GAM”

Advertisements

Pesangon yang tak Kunjung Datang*)

DIA bergegas ke arah pepohonan di muka gedung parlemen Senayan. Peluh terbit dari pori-pori kulitnya yang keriput. Baju kuyup di bagian punggung–ada tulisan “SPN WF” di situ, kependekan Serikat Pekerja Nasional Wonderful.

Dihampirinya penjual ketupat sayur, lalu berkata, “Satu, Pak.” Sepiring ketupat sayur komplit, dengan sebutir telur rebus dan sepotong tahu. Perutnya lapar bukan main.

Dia dan teman-temannya datang ke sini dengan menyewa enam metro mini. Tapi rombongan SPN WF tak sendiri. Di belakang dan di depan mereka ada rombongan lain. Umumnya mengenakan ikat kepala. Kata-kata yang tertera di ikat kepala itu sama: “TOLAK REVISI UUK 13/2003”. UUK singkatan dari Undang-Undang Ketenagakerjaan. Ya, hanya warna seragam kerja mereka saja yang beda. Biru, hitam, putih, hijau, biru-putih.

Para buruh itu berjumlah puluhan ribu. Mereka buruh Jakarta , Bogor , Tangerang, Bekasi, Semarang , Pekalongan… Continue reading “Pesangon yang tak Kunjung Datang*)”