Misteri Kematian Si Ham

LIMAPULUH persen saya tidak percaya berita di koran,” sungut Mukhlisin.

Ia guru pengajian anak-anak di Masjid Thursina yang berada di Desa Pulo Mesjid. Desa ini berada di Kecamatan Tiro Truseb, Pidie. Peci hitam hampir tak pernah lepas menutup kepalanya. Badan tinggi. Kurus. Mata kanan agak juling. Gaya bicaranya lugas. ia ramah dan amat dikenal warga desa sebagai guree ngaji. Selain mengajar membaca Al Qur’an di masjid, siang hari ia bekerja sebagai buruh bangunan. Jika ada warga desa yang meninggal, ia selalu ditunjuk menjadi orang yang memandikan jenazah mendampingi keluarga mayat.

Mukhlisin sewot terhadap berita utama yang diturunkan harian Serambi Indonesia yang terbit pada Jumat, 23 November 2007. Judul berita itu berbunyi “Perampok di Tiro Tewas Didor”. Serambi memuatnya pada halaman pertama. Berita ini dilengkapi infografis kronologi penembakan berjudul “Satu dari Komplotan Tiro Ditembak!”

Lelaki yang disebut sebagai perampok dalam berita itu bernama Hamdani bin Sulaiman. Ia warga Desa Pulo Mesjid, Kecamatan Tiro Truseb. Polisi mengaku terpaksa menembak Hamdani. Alasannya, Hamdani melawan dengan sebilah pisau saat petugas yang hendak meringkusnya. Menurut polisi, Hamdani adalah perampok yang melakukan kejahatan menggunakan senjata api di Kecamatan Tiro Truseb. Penembakan Hamdani terjadi pada dinihari di depan rumah warga yang tengah mengadakan pesta pernikahan.

“Saya heran,” lanjut Mukhlisin kepada saya. “Sehari-hari dia minta uang seribu dua ribu sama saya. Kok dibilang dia perampok, (uang rampokannya) sampai 50 juta, 100 juta. Apa mungkin? Kalau dia banyak uang ngapain dia minta sama saya seribu?”

Menurut dia, tuduhan polisi terhadap Hamdani bisa jadi keliru. Sebab sejauh ia kenal, meski miskin Hamdani tergolong orang baik.

“Kadang-kadang, waktu saya sedang kerja bangunan saya minta tolong dia ambilkan air di tempat yang jauh, dia mau ambil.”

Mukhlisin lalu mengantar saya ke kedai kopi menemui Anwar. Ia pemilik sekaligus penjaga kedai kopi yang kerap didatangi Hamdani saban pagi, sore, dan malam. Di muka kedai ada dua bangunan sekolah. Yang satu baru dibangun. Catnya putih bersih. Satu bangunan lagi tanpa atap. Kusam. Jendela-jendela bolong. Kayu-kayu pintu dan kusennya menghitam bekas dilalap api.

Kedai kopi Anwar berada di tepi jalan. Atapnya daun rumbia kering. Tepi kanan atap terpasang antenna parabola. Pesawat televisi dipasang di dalam. Kedai ini jadi tempat favorit kaum lelaki di kampung. Mereka bisa menyeruput kopi sambil menonton siaran televisi atau baca koran.

Anwar bekas Tentera Neugara Aceh (TNA). Ia pernah bergerilya ke hutan dan naik-turun gunung bersama Hamdani dan Muhammad alias Amat Provost, kakak kandung Hamdani. Saat Amat Provost tewas ditembak sebelum perjanjian Helsinki ditandatangani, Anwar turun gunung. Tapi ia tak punya banyak keterampilan. Setelah damai, Anwar memilih membuka kedai kopi modal pinjaman dari orangtua sebesar 5,4 juta rupiah.

“Hamdani sering utang ke sini. Sudah sejak dua tahun lalu. Setelah kerja ke sawah, kadang-kadang ke kebun, dia biasa ke sini. Utang. Pas habis bulan ini katanya mau bayar utang. Tapi katanya belum jual padi. Utang terakhir sekitar 180 ribu, katanya mau dibayar,” ungkap Anwar.

Ia mengambil buku catatan hutang, dan menyodorkannya ke saya. Halaman hutang Hamdani yang berisi baris dan kolom angka. Di situ tertulis, “2000. 1000. 2000. 2500…”

“Tiap hari hutangnya nggak banyak. Paling dua ribu, dua ribu setengah. Kadang-kadang seribu. Nggak banyak. Dia minum kopi, kopi pancung. Kue dua.”

“Kopi pancung?” tanya saya.

Anwar mendekatkan jempol dan telunjuknya. Oh, saya baru paham. Ini kopi ukuran setengah gelas.

“Berapa harganya?”

“Kopi pancung lima ratus.”

“Kadang-kadang kalau saya juga tidak punya uang, dia meminta apa yang sedang saya minum atau makan,” kata Mukhlisin. Ia duduk di sebelah saya. “Kopi saya tinggal separo dia minum juga,” lanjutnya.

Seperti juga Mukhlisin, Anwar sulit mempercayai tuduhan polisi bahwa Hamdani anggota komplotan perampok.

RABU, 21 NOVEMBER 2007. Sejumlah lelaki dan perempuan berkumpul di rumah Husin Amin di Desa Pulo Mesjid. Ia lelaki yang dihormati warga desa. Selain karena sudah tua, Amin adalah ‘Tengku Khotib’ atau penceramah di Masjid Thursina. Istrinya bernama Fatarani. Keluarga ini dikarunia sepuluh anak. Namun tiga di antaranya meninggal karena sakit. Kini tinggal tujuh, dua laki lima perempuan.

Keluarga Amin-Fatarani sibuk mempersiapkan pesta pernikahan putri bungsunya. Namanya Juwariyah. Anak Amin yang kesepuluh itu dinikahkan dengan Habibuddin, lelaki asal Krueng Mane, Aceh Utara.

Pasangan Juwariyah dan Habibuddin sebetulnya sudah resmi menikah pada 17 Oktober 2007 lalu. Keuangan jadi kendala. Pesta pernikahan terpaksa mundur, bukan setelah ijab kabul. Akhirnya hajatan ditetapkan tanggal 22 November 2007. Ini berarti Kamis besok. Tempat acara di rumah Amin.

Mulai Rabu petang hingga malam kerabat dekat satu demi satu datang. Para tetangga, tanpa diminta atau undangan, juga ikut datang. Mereka gotong-royong membantu keluarga Amin menyiapkan pesta. Ini sudah jadi kebiasaan warga kampung. Menolong tetangga yang menggelar hajatan tanpa diminta. Beda dengan warga kota umumnya.

Ada yang mengatur kursi untuk tamu. Memasang tenda. Membuat kain penutup tempat para tamu duduk di sebelah rumah panggung. Sebagian perempuan membantu di dapur.

Alamsyah Ishak juga diminta datang membantu. Lelaki itu adik ipar Amin. Kumis lebat. Bibir hitam. Pecandu rokok. Ia pernah menjadi geuchik Desa Meunasah Panah. Desa yang bersebelahan dengan Desa Pulo Mesjid. Ishak bertugas mengatur dan mengawasi kelancaran masakan di dapur.

Hingga tengah malam, kebahagiaan menghinggapi keluarga Amin. Sebagian pemuda-pemudi desa masih berkumpul di muka rumah Amin. Abdullah Usman, geuchik Desa Meunasah Panah yang menggantikan Ishak juga datang. Namun sebelum lewat tengah malam, Usman pamit pulang.

Sementara Amin tak bisa ikut menikmati malam menjelang pesta putri bungsunya seperti anak muda. Kesehatannya mulai lapuk digerogoti usia. Selama beberapa hari menjelang hajatan, kakinya lemas. Nyaris tak bisa digunakan untuk melangkah. Menjelang tengah malam ia sudah naik ke pembaringan di dalam kamarnya.

Sekitar jam 1 dinihari, suasana di sekeliling rumah Amin masih ramai. Ismuhadi, Muhammad, Amri, Hamdani, Atun, dan pemuda kampung lainnya masih duduk di kursi-kursi tamu sambil berbincang di depan rumah Amin. Tiba-tiba beberapa pria berdatangan. Para pemuda kampung itu mengira mereka adalah kerabat atau sahabat yang diundang empunya hajatan. Pakaian mereka tak berbeda dengan warga lain.

Saat itu Ismuhadi dan Muhamad melihat tali senjata pada badan salah seorang dari pria itu. Lelaki itu menghampiri Hamdani dari arah muka. Kemudian, pria yang belakangan diketahui warga sebagai petugas polisi itu berjalan ke belakang Hamdani. Lalu membuka senapan yang semula disampir di punggung. Dan …

Dor!

Hamdani tersungkur. Tanpa peringatan, peluru menembus tubuhnya. Warga panik. Ada yang berteriak. Ismuhadi kontan tiarap.

Amin terkejut. Dari dalam kamar, ia mengira ada ban motor pecah. Di dapur, Alamsyah Ishak kaget.

Dor! Dor! Dor! Dor! .…

Terdengar suara tembakan berkali-kali di beberapa tempat.

Dua peluru memecahkan tulang paha kanan Hamdani. Satu peluru menembus di bagian kiri. Polisi menggeledah isi celana dan pakaian Hamdani. Mereka mengambil handphone dan pisau.

Amin tiarap mendengar rentetan letusan senjata. Beberapa perempuan lain dalam rumah kontan histeris. Fatarani menangis.

Polisi berteriak-teriak agar warga segera kumpul. Beberapa lainnya menanyakan di mana teman-teman Hamdani.

Lalu para lelaki dikumpulkan di jalan. Tepat di depan rumah Amin. Ishak keluar dari dapur dan bergabung dengan warga yang lain di jalan.

“Tiarap!”

“Tiarap!”

Polisi kemudian memeriksa warga satu demi satu. Disuruh angkat baju, lalu disuruh duduk di tempat lain. Polisi memerintahkan warga yang memiliki Handphone berkumpul di tempat terpisah dengan yang tidak. Ishak tak luput dari pemeriksaan. Ia juga memiliki handphone.

Polisi memeriksa setiap nomor telepon yang ada dalam handphone Hamdani. Mereka mencari teman-teman Hamdani. Dua handphone milik warga berdering, dan segera diambil. Setelah itu tak ada lagi pemeriksaan. Namun para lelaki itu tidak boleh bubar apalagi pulang.

Amin tak ikut berkumpul dengan kaum lelaki lainnya di jalan. Ia mengaku sakit.

Namun sebagian polisi masuk ke rumah Amin. Ada yang berpakaian preman. Ada yang mengenakan seragam. Mereka menggeledah isi rumah. Keluar masuk kamar Amin. Istri, anak-anak perempuan Amin, dan perempuan lainnya kumpul dalam rumah. Polisi menanyakan dimana senjata disimpan. Beberapa perempuan kontan menjawab tidak tahu. Amin juga menjawab tak tahu di mana ada senjata. Ia tak pernah memiliki barang berbahaya itu.

Amin sempat melihat mayat Hamdani. Mayat itu kemudian ditutup dengan kain yang semula digunakan untuk menutup tempat para undangan duduk.

Amin cemas. Ia bertanya-tanya mengapa polisi menembak di tengah persiapan pesta putri bungsunya. Padahal ia tak punya sangkut-paut dengan Hamdani. Ia juga tak tahu Hamdani datang ke rumah.

Hajatan esok pagi terancam gagal total. Masakan untuk pesta belum siap. Pagi tinggal beberapa jam. Amin tak kuasa menanggung malu. Undangan telanjur disebar. Ia juga merasa tak nyaman dengan keluarga suami si bungsu.

“Pak, ini kan masalah pribadi bukan peperangan, saya ikhlas,” ujarnya kepada seorang petugas.

Tak lama kemudian, Kepala Polsek Tiro Zainal datang ke lokasi penembakan. Amin mengutarakan ucapan serupa. Juga kepada Ruslan wakil Komandan Rayon Militer Tiro. Ia menanyakan apakah keluarganya bisa meneruskan persiapan acara pesta pernikahan putrinya bisa dilanjutkan. Amin, Zainal, Ruslan dan beberapa petugas lain berrembuk. Hasilnya, persiapan pesta bisa dilanjutkan.

Mayat Hamdani masih tergeletak di depan rumah. Jam sudah di kisaran pukul empat pagi. Udara dingin menusuk tulang.

Di jalan, polisi mengawasi para lelaki. Ishak gelisah. Tak sabar hanya menunggu pagi. Mulutnya juga ingin segera mengisap rokok.

“Apa kita boleh merokok?” Ishak minta pendapat warga yang duduk di sebelahnya.

“Hei, kamu!” seorang petugas berteriak memanggilnya.

Ishak diperintahkan berdiri, menghadap ke petugas. Polisi menanyakan apa yang ia bicarakan tadi.

“Saya bilang apa saya bisa merokok.”

Tiba-tiba datang petugas lain dari belakang.

Buk! Buk! Buk!

Tengkuk Ishak kena hantam. Ia dimaki-maki. Dianggap tak sopan. Tak lama berselang, Ishak kemudian dipanggil Amin. Ishak diminta kembali memimpin beberapa warga untuk kembali memasak. Ishak segera minta izin polisi untuk mengajak sepuluh warga untuk bantu memasak.

Menjelang pukul 4.30, baru terdengar perintah untuk mengangkat mayat. Di hadapan warga yang duduk di jalan, petugas menanyakan siapa yang mau memberi kesaksian. Apakah yang tewas itu Hamdani atau bukan?

“Saya kenal,” ujar Fakhrudin. Ia teman Hamdani. Bekas TNA. Tinggal tak jauh dari rumah Amin. Ia juga terkejut saat mendengar tembakan beruntun. Bersama lelaki lainnya, Fakhrudin ikut tiarap dan diperiksa.

Polisi segera menunjuk Fakhrudin. Ia dibawa ke dekat mayat yang tergeletak di muka rumah Amin. Memastikan apakah mayat itu adalah Hamdani.

“Ya, benar. Ini Hamdani,” ujarnya, pasti.

Beberapa petugas mengangkat mayat Hamdani. Polisi kembali menunjuk Fakhrudin untuk memberi keterangan di kantor Kepolisian Resort Pidie. Polisi sempat menyampaikan permintaan maaf kepada Amin. Lantas iring-iringan kendaraan polisi segera meninggalkan kediaman Amin. Jumlah kendaraan lebih dari setengah lusin. Ada minibus. Ada double cabin.

Tak lama kemudian sejumlah warga berhamburan pulang ke rumah masing-masing. Mereka seakan tak mempercayai peristiwa yang baru berlangsung. Aksi penembakan diikuti pengumpulan warga itu mengingatkan mereka pada masa-masa konflik bersenjata.

SULAIMAN BIN ABU BAKAR bertubuh pendek. Nyaris semua rambutnya putih. Sulaiman lahir dan besar di desa Pulo Mesjid, Kecamatan Tiro. Kini berusia 63 tahun. Ia tak banyak bicara. Bahasa melayunya kurang lancar. Lelaki itu punya enam anak. Empat laki-laki, dua perempuan. Keempat anak laki-lakinya tewas di ujung senjata. Yang terakhir adalah Hamdani.

“Saya ikut GAM sejak tahun tujuh-tujuh,” kata Sulaiman bin Abu Bakar kepada saya.

Dalam buku The Price of Freedom; The Unifinished Diary of Tengku Hasan di Tiro, setelah mendeklarasikan Aceh Merdeka, 4 Desember 1976, Hasan Tiro bersama pengikutnya bergerilya di antara Bukit Tjokkan dan kamp Alue Bili, Tiro. Pada saat itu sudah banyak warga yang simpati dan menyatakan bergabung bersama dalam perjuangannya. Namun tentang penduduk Tiro sendiri, ia menulis, “Mereka 100 persen bersama saya. Semua orang di Tiro, laki-laki dan perempuan dengan sendirinya menjadi pendukung NLFAS (National Liberation Front Acheh and Sumatra).”

Mulai pertengahan Januari 1977, Tiro dan pengikutnya terpaksa bergerak ke daerah Alue Pineung. Dua hari sebelumnya, Tiro mendapat kabar Tentara Indonesia terus menyisir Sungai Tiro.

Alue Pineung berada dalam kawasan Gunung Mampree. Belantara di gunung ini, tulis Tiro masih dalam catatan hariannya, adalah tempat yang pas sebagai persembunyian gerilya. “Tapi Mampree juga terkenal dengan nyamuk dan sarang malarianya.”

Lalu bergerak lagi. Tiro pasukannya terus bergerilya naik-turun gunung. Keluar-masuk hutan Aceh.

Tanggal 23 Januari 1977, Tiro mencatat, tentara Indonesia-Jawa menduduki seluruh kecamatan Tiro/Truseb. Mereka menahan laki-laki dan terutama perempuan. Sebab kaum perempuan yang menyuplai makanan selama Tiro dan pengikutnya berada dalam hutan. Tentara Indonesia-Jawa juga menjarah bahan pangan milik penduduk. Gula, kopi, daging, ikan, rokok dan sebagainya. Penduduk hanya disisakan bahan pangan yang hanya cukup untuk satu hari. Taktik ini membuat warga terancam kelaparan hebat. Apalagi warga juga dilarang membakar kayu untuk memasak atau pergi ke hutan.

Saya menduga, Sulaiman muda bergabung bersama pasukan Hasan Tiro setelah peristiwa ini. Jika usianya kini 63 tahun, maka saat itu ia berusia 33 tahun.

“Saya ikut gerilya ke Geumpang, Blang Sala, Blang Raweu di pucuk Sungai Meureudu…” lanjut Sulaiman.

Ia memegang senapan jenis LE. Ini senjata warisan perang melawan Belanda. Habis menembak ia mesti menarik kokang untuk bisa menembak lagi.

“Saya pegang senjata kadang-kadang saja. Waktu pergi jauh-jauh ada bawa senjata.”

Ketika saya menanyakan kedekatannya dengan Hasan Tiro, Sulaiman menjawab, “Begini.” Jari telunjuk dan tengahnya diimpitkan.

“Apa yang dia suruh kepada saya, saya kerjakan.”

Wali Nanggroe, begitu ia menyebut Hasan Tiro, beberapa kali berpesan kepada Sulaiman dan para gerilyawan. Pesan-pesan itu tak pernah disampaikan selain dalam bahasa Aceh.

Meunyoe tajak-jak keuno keudeh beugot geutanyoe ngoen masyarakat. Bek na paksa-paksa goep bek, lakee ngoen dengoen cara mangat supaya mangat got nanggroe bek na lee korupsi bak geutanyo,” kata Sulaiman mengingat pesan-pesan Tiro. Terjemahannya kira-kira begini, bila berpergian kesana kemari kita harus baik dengan masyarakat. Jangan ada paksaan, meminta dengan cara yang baik supaya jangan ada lagi korupsi di negara kita.

Tiro kerap memimpin pasukannya salat berjamaah selama bergerilya. Tapi salat dalam keadaan perang beda dengan kondisi aman. Satu kelompok salat, lainnya berjaga-jaga dari serangan musuh. Urusan makanan, Sulaiman mengenang, jika satu gerilyawan makan telur sebelah, semua gerilyawan dijatah makan telur sebelah.
“Wali juga makan sebelah. Makan sama-sama. Kadang-kadang dapat rusa satu. Di mana ada pos-pos (pasukan Tiro), disuruh antar (daging rusa) ke pos-pos.”

Tiro juga menyampaikan berulang-ulang soal penjajahan Indonesia-Jawa atas bangsa Aceh. Sebelumnya, Tiro telah menyebarkan buku-buku tentang sejarah Aceh. Buku-buku yang ia tulis selama berada di luar negeri itu antara lain Atjeh Bak Mata Donja (Acheh dalam Sejarah Dunia), Sireutoih Thon Mideuen Prang Bandar Atjeh (Seratus Tahun Peringatan Perang Bandar Acheh), Peurdjuangan Atjeh Meurdehka (Perjuangan Acheh Merdeka). Buku-buku itu diselundupkan ke Aceh.

Nanggroe geutanyoe nanggroe kaya, Cuma hasee tan bak geutanyo, hase ka abeh jicok legoep,” Sulaiman mencontohkan pernyataan Tiro. Bahasa melayunya, “Negara kita (Aceh) negara kaya, cuma hasilnya nggak ada. Hasilnya sudah diambil orang.”

Kebersamaan Sulaiman dengan Tiro hanya dua tahun. Pertemuan terakhirnya dengan sang wali nanggroe saat terjadi pertempuran di Beungga, Kecamatan Tangse. Tak ada salam perpisahan. Tanggal 29 Maret 1979, Tiro terbang ke Eropa setelah melintasi Selat Malaka.

Sulaiman kembali ke desa Pulo Mesjid. Namun perang belum usai. Pemerintahan Suharto mengirimkan ribuan tentara dari Jawa ke Aceh. Menggelar operasi militer ke kampung-kampung. Tiro menjadi salah satu wilayah paling berdarah. Penduduk amat menderita. Mereka serba salah. Tidak lari, mereka dianiaya. Lari, mereka bakal diburu dan dibunuh. Apalagi mereka yang pernah ikut bergerilya bersama Tiro.

Tahun 2000, misalnya. Saat itu pemerintahan Jakarta menetapkan status Darurat Sipil di Aceh. Tiro mencekam. Warga dihantui penyiksaan dan kematian. Saban hari digelar operasi militer. Pertengahan Oktober, lebih dari 60 rumah-toko dan beberapa bangunan dibakar. Fasilitas pendidikan hancur. Warga yang rumahnya selamat, tak berani keluar.

Rumah panggung Sulaiman dan keluarganya tak luput dibakar tentara. Keluarga ini lari ke hutan. Mereka hidup dalam ancaman tentara Indonesia.

“Saya rindu sama wali nanggroe,” kata Sulaiman.

DALAM SITUASI perang, kaum muda Tiro tak banyak pilihan. Mereka tak bisa bekerja. Belajar tak tenang. Para pemuda Tiro cuma punya dua pilihan: pergi merantau atau bergabung dalam Tentera Neugara Acheh ke hutan. Berjuang, gerilya melawan tentara Indonesia.

Buah tak jatuh jauh dari pohon. Anak-anak Sulaiman memilih mengikuti jejak sang ayah. Si sulung Amrizal bin Sulaiman, Usman bin Sulaiman, dan Muhammad bin Sulaiman ikut gerilya ke gunung dan hutan. Hamdani bin Sulaiman, yang paling muda di antara mereka, juga mulai ikut membantu GAM. Mengantar makanan untuk pasukan TNA di wilayah Tiro. Ia kagum dengan Tengku Panglima Abdullah Syafei. Panglima GAM yang amat disegani.

Di antara empat anak lelaki Sulaiman itu, Muhammad paling ditakuti. Panggilan populernya adalah ‘Amat Provost. Ia juga menjadi target buruan tentara Indonesia.

Tahun 2003, Jakarta menetapkan status darurat militer. Tiga dari empat bersaudara ini tewas. Amrizal tewas dalam pertempuran. Peluru menembus kepalanya.

“Kena tembakan di dahi, lubangnya sebesar jempol tapi tembus di belakang sebesar kepalan tangan,” ungkap Mukhlisin, guree ngaji di Pulo Mesjid yang memandikan mayat itu.

“Otaknya pecah. Isinya sampai kami masukkan ke kantong plastik baru dimasukkan lagi.”

Beberapa bulan berselang, giliran Usman menyusul. Ia juga tewas ditembak. Satu peluru bersarang di lehernya. Mukhlisin memandikan jenazah Usman.

Amat Provost sempat lari ke Jakarta. Di sana ia malah tertangkap. Ridwan bin Yusuf, salah seorang kawannya, dikabarkan telah membocorkan tempat persembunyian Amat Provost. Setelah dibawa ke Aceh, ia tewas ditembak.

“Dia ditembak di dada. Tiga peluru. Kepala dan bagian lainnya tidak ada luka,” ujar Mukhlisin. Lagi-lagi, ia ikut memandikan jenazah anak Sulaiman itu.

Hamdani baru turun gunung setelah perjanjian damai Helsinki ditandatangani, 15 Agustus 2005. Ia kembali ke Desa Pulo Mesjid. Seperti bekas anggota TNA lainnya, ia mendapat dana reintegrasi. Uang itu tak menjamin masa depannya. Ia belum punya kerja. Ketrampilannya sedikit. Terkadang ia pergi ke ladang, mengerjakan sawah milik kakaknya.

Menurut kabar, Hamdani menyimpan dendam terhadap Ridwan. Dia yang menyebabkan kematian abangnya, Amat Provost. Awal November 2005, Hamdani terlibat pembunuhan Ridwan di Desa Meunasah Panah. Bekas TNA itu tewas dibacok senjata tajam.

Anggota Kepolisian Resort Pidie segera meringkus Hamdani. Ia dijebloskan ke Rumah Tahanan Kota Bakti, Pidie. Kejahatan yang dilakukan Hamdani segera disidangkan. Ia terancam hukuman pidana penjara selama 20 tahun.

Namun, Minggu 4 Juni 2006, sekitar jam 11 siang Hamdani kabur dari Rutan Kota Bakti. Seperti diberitakan Serambi Indonesia pada hari berikutnya, Hamdani diperkirakan kabur melalui pintu depan.

“Sidangnya tinggal menuggu putusan,” ujar Sigit Purwoko yang saat itu menjabat Kepala Pengadilan Negeri Sigli.

Tak lama kemudian, Hamdani nekat kembali ke Pulo Mesjid. Meski bisa turun ke sawah dan minum di kedai kopi milik Anwar, hidupnya tak sebebas dulu. Kedai Anwar buka mulai jam 7 pagi sampai magrib. Selepas magrib, 7.30 buka lagi sampai jam 12. Menurut Anwar, ia hanya sering melihat Hamdani jika hutang dan minum kopi di kedainya.

“Polisi sering ke kedai, tanya apa ada Hamdani,” ujar Anwar.

“Saya bilang nggak ada. Terus saya dikasih nomor HP polisi, tapi saya nggak punya nomor. HP saja saya nggak ada,” lanjut Anwar.

“Dulu Hamdani rajin ke masjid,” sahut Mukhlisin. “Tapi setelah keluar dari penjara agak kurang. Mungkin karena dia takut…”

Sulaiman beberapa kali sempat berjumpa Hamdani.

“Terakhir dia minta uang ke saya duaratus ribu, tapi saya kasih seratus ribu. Dia bilang nggak ada rokok. Dia datang ke rumah waktu ada perlunya saja. Minta uang.”

KAMIS, 22 NOVEMBER. Pagi itu kabar kematian Hamdani terdengar ke seluruh Desa Pulo Mesjid. Sebagian besar warga di Tiro juga mengetahui berita itu. Sulaiman mendapat kabar, ia dipanggil petugas Polres Pidie. Surat pengambilan jenazah dari polisi mesti ia tandatangani. Ia diminta segera mengambil jenazah anak lelakinya yang terakhir di Rumah Sakit Daerah Sigli.

Sekitar jam 8 pagi, Sulaiman meluncur ke kantor Polres Pidie. Kantor itu berada di Jalan Teungku Chik di Tiro nomor 13, Sigli. Ia pergi bersama kedua anak perempuannya, Syamsiah dan Suryani. Geuchik Pulo Mesjid, Abdul Wahab Amni, ikut menemani. Nasruddin dan Zakaria, sepupu Hamdani juga pergi. Mereka naik motor.

Sulaiman, Syamsiah dan Suryani, Wahab dan Nasruddin ke kantor Polres. Sedangkan Zakaria langsung menuju Rumah Sakit Sigli. Dia mesti menunggu Sulaiman membawa surat dari kepolisian.

Di hadapan petugas Polres Pidie, Sulaiman menyebut nama. Umur. Suku. Alamat. Pekerjaan. Ia tak mengerti soal hukum. Bicara jika ditanya.

Petugas membuat surat ‘Berita Acara Serah Terima Mayat’. Dalam surat itu disebutkan, petugas yang menyerahkan jenazah itu bernama M Hidayat. Pangkat Ajun Inspektur Muda (AIPDA), NRP 68060324, jabatan penyidik pembantu bersama Bripka Nofi Hendri SH dan Bripka Jamalul Hera.

Setelah isian identitas Hamdani, disebutkan “Mayat tersebut merupakan pelaku tindak pidana.” Menurut polisi, Hamdani melakukan enam kejahatan.

Pertama, “Berdasarkan laporan polisi LP/70/XI/2005 tanggal 2 Nopember 2005 tentang tindak pidana pembunuhan secara bersama-sama di Desa Meunasah Panah Kecamatan Tiro Truseb Kabupaten Pidie yang mengakibatkan matinya seseorang An. Riduwan bin M Yusuf.”

Kedua, “Melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kota Bakti dalam kasus pembunuhan bersama-samadengan menggunakan senjata tajam yang sementara kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Sigli dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum yaitu 20 tahun penjara.”

Ketiga, “Berdasarkan TR/16/XI/2007 tanggal 14 Nopember 2007 tentang tindak pidana pencurian dengan kekerasan/perampokan kilang padi milik Cut Ali Puteh yang terjadi di Desa Pulo Siblah, Kecamatan Tiro Truseb, Kabupaten Pidie.”

Keempat, “Berdasarkan TR/17/XI/2007 tanggal 14 Nopember 2007 tentang tindak pidana pencurian dengan kekerasan/perampokan kilang padi milik Tarmizi yang terjadi di Desa Pulo Siblah, Kecamatan Tiro Truseb, Kabupaten Pidie.”

Kelima, “Berdasarkan Laporan Polisi LP/18/XI/2007 tanggal 20 Nopember 2007 sekitar pukul 23.30 tentang tindak pidana pencurian dengan kekerasan/perampokan yang terjadi di Desa Prade, Kecamatan Pante Raja, Kabupaten Pidie Jaya.”

Keenam, “Berdasarkan laporan polisi LP/18/X/2007 tanggal 21 Oktober 2007 tentang tindak pidana pencurian dengan kekerasan/perampokan yang terjadi di desa Ule Gampong, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie dengan saksi korban Amos Maikels, anggota TNI Kabupaten Aceh Barat.”

Di bawah daftar kejahatan itu, polisi membeberkan kronologi penembakan Hamdani. Entah khilaf atau bukan, di situ disebut penangkapan dilakukan siang hari, 12.30.

“Pada tanggal 22 Nopember sekira pukul 12.30 WIB Anggota Polri melakukan penangkapan terhadap tersangka di Desa Pulo Mesjid, Kecamatan Tiro Truseb, namun pada saat dilakukan penangkapan tersangka melakukan perlawanan sehingga petugas melakukan tembakan peringatan akan tetapi tersangka tetap tidak mengindahkan bahkan tersangka berusaha menikam salah seorang petugas yang hendak menangkap dengan menggunakan rencong sehingga petugas tersebut melakukan tembakan melumpuhkan kea rah kaki akan tetapi pelaku masih tetap melakukan perlawanan sehingga dilakukan tembakan ke arah sasaran yang pital yang mengakibatkan tersangka meninggal dunia di TKP.”

Penyerahan mayat disaksikan oleh Syamsiah, Geuchik Pulo Mesjid Abdul Wahab Amni, dan Asnawi, petugas kepolisian.

Sulaiman kemudian membubuhkan cap jempol. Di bawah, tandatangan para saksi. Berita acara itu diketahui oleh Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Sudarmin SIK/AKP NRP 75061071 atas nama Kepala Kepolisian Resort Pidie.

Sulaiman menerima surat itu sebanyak dua halaman. Tanpa lampiran. Ia juga tidak menerima berkas hasil visum dari rumah sakit maupun kepolisian.

Dari kantor Polres, Sulaiman, Suryani dan Samsiah segera ke rumah sakit. Bersama Zakaria dan sopir ambulans, ia mengambil mayat Hamdani di Ruang Unit Gawat Darurat. Hamdani masih mengenakan kaos berkerah warna krem dan celana jins hitam. Pakaiannya koyak. Menjelang jam 1 siang, jenazah itu dibawa pulang.

“Wajahnya pucat. Cincin dan handphone yang dipakai Hamdani tidak ada. Kantong celana jinsnya kosong,” ujar Zakaria.

KEBAHAGIAAN DAN KESEDIHAN menyelimuti warga Desa Pulo Mesjid pada hari yang sama. Kamis siang, pesta pernikahan digelar di rumah keluarga Husin Amin dan Fatarani. Anak perempuan terakhir keluarga ini akan menempuh ‘hidup baru’ bersama sang suami. Warga dan para undangan bergiliran memberi selamat dan menyampaikan doa buat keluarga Amin dan putrinya.

Sore hari warga berdatangan ke rumah keluarga Sulaiman yang berada di tepi sungai kecil. Rumah itu berada sekitar seratus meter dari rumah Amin. Di sana keluarga Sulaiman mempersiapkan acara pemakaman. Rumah Dinding papan kusam. Atap seng. Anak lelaki yang terakhir keluarga ini akan diantar dari rumah itu menuju ‘peristirahatan terakhir’.

Mukhlisin membantu Sulaiman memandikan jenazah Hamdani. Untuk keempat kalinya Mukhlisin memandikan jenazah anak-anak Sulaiman. Mayat itu berlumur darah. Pelan-pelan ia membersihkan lubang-lubang luka di tubuh mayat. Dua luka tembak di paha kanan. Tembus lurus. Tulang paha patah.

Peluru juga menembus paha kiri. Setelah dibersihkan, Mukhlisin dan Sulaiman menutup lubang-lubang luka itu dengan kapas putih.

Masih ada lubang luka di atas pusar, di bawah dada. Hati-hati mukhlisin mengamati dan membuka lubang luka itu. Lubang itu tidak bulat tapi lonjong-lancip.

“Seperti bekas tusukan pisau tapi tidak tembus,” gumamnya kepada Amin. Ia segera menyumpal luka itu.

Di atas kelamin jasad masih ada lubang luka bekas tembakan. Lubang itu tembus hingga ke punggung belakang. Mukhlisin mencocokan besar kedua lubang luka. Besar gumpalan kapasnya sama.

Selesai dimandikan, seluruh tubuh jenazah dibalut kain kafan. Mayat Hamdani dibawa ke pemakaman di dekat Masjid Thursina. Masjid tempat Mukhlisin biasa mengajar Al Quran kepada anak-anak kampung. Malamnya keluarga Sulaiman menggelar tahlilan. Berdoa untuk kebaikan bagi arwah Hamdani.

SURYANI menunjukkan foto Hamdani kepada saya. Suryani adalah anak bungsu dalam keluarga Sulaiman. Ia hanya lulus SMP. Seperti juga abang dan kakaknya, hidupnya dalam tekanan. Ia pernah ikut ayahnya lari ke gunung semasa Darurat Militer.

Di foto itu Hamdani tampak gagah. Rambutnya dipotong pendek. Dada bidang. Berotot. Kulit kecoklatan. Rahang tampak kokoh. Namun wajah itu seperti menyimpan misteri.

“Saya dan Bang Ham sering becanda. Tapi dia jarang pulang,” kata Suryani.

Ia sangsi abangnya perampok. Banyak warga Pulo Mesjid juga tak yakin Hamdani merampok.

“Saya tidak tahu apa dia menyembunyikan diri sebagai perampok, caranya dengan meminta uang sama kita,” kata Mukhlisin.

“Atau memang dia benar-benar tidak merampok. Yang jelas saya heran, untuk apa dia meminta sama saya seribu, dua ribu,” katanya, lagi

Tapi menurut Fakhruddin, Hamdani bukan orang yang bersih dari catatan kejahatan. Fakhruddin adalah salah satu kawan Hamdani. Selepas kejadian di depan rumah Husin Amin, Fakhruddin dibawa polisi dan dimintai keterangan seputar Hamdani.

“Di Polres saya ditanya bagaimana pergaulan Hamdani di kampung, perilaku dia. Perlakuan polisi saat saya diperiksa biasa-biasa saja. Tapi nggak pernah dipukul. Pesan mereka waktu mengantar saya, tolong bilang sama kawan-kawan jangan terpancing perbuatan perampokan-perampokan dan pembunuhan. Kalau ada masalah di kampung selesaikan dengan cara baik-baik,” ujarnya.

Fakhruddin dimintai keterangan selama sekitar setengah jam. Namun, lanjut dia, karena keluarga belum datang ia disuruh menginap selama satu hari di ruang pemeriksaan. Di situ disediakan kasur tipis.

“Selama setengah jam diinterogasi ditanya apa saja?” tanya saya.

“Bagaimana pergaulan Hamdani dengan masyarakat, apa kegiatan dia, apakah dia terlibat dalam perampokan, apakah dia mempunyai senjata, apakah dia disukai masyarakat,” jawab Fakhruddin. Bibir bawah sebelah kanannya terlihat membengkak.

“Abang bilang apa saja?”

“Menurut yang saya lihat kegiatan dia, masalah perampokan saya kurang tahu, tapi kalau masalah senjata saya tahu. Kenapa, karena dia pernah memamerkan senjata, bahkan anak-anak kecil semua orang-orang kampung tahu dia punya senjata.”

“Senjata apa?”

“Senjata pistol ada, M-16 ada sama dia. Sampai dia (polisi) tanya apa kamu tahu dimana senjata itu, saya menjawab soal itu saya nggak tahu. Cuma yang saya tahu dia punya senjata.”

“Sampai sekarang masih ada?”

“Sampai sekarang saya tidak tahu, dia pun sudah meninggal seperti diceritakan oleh kawan sekelompok. Mungkin dia titipkan sama kawan, kan itu kita tidak tahu itu kan rahasia orang.”

“Sepengetahuan abang tentang Hamdani, orangnya bagaimana?”

“Memang dia bukan kenal dekat. Dia orang kampung saya, bahkan dekat dengan rumah saya. Setahu saya, memang dia terlibat pembunuhan sekitar tahun 2005 atas nama Ridwan M Yusuf, dan pelarian dari LP Kota Bakti. Kalau dari segi Polres dia salah seorang DPO akibat pembunuhan dan pelarian. Itu yang saya tahu, dan memiliki senjata api.”

Saya menemui Iskandar Daud. Warga Desa Pulo Mesjid lainnya yang juga teman satu angkatan Hamdani selama gerilya di hutan. Saat perjanjian damai disepakati, ia dan Hamdani sama-sama turun gunung. Saya menanyakan dugaan keterlibatan Hamdani dalam komplotan perampok Kamaruddin bin Lek Yeh yang terkenal dengan sebutan Si Teh. Menurut polisi, selama tahun 2006 komplotan Teh terlibat perampokan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di wilayah Pidie.

“Bagi orang yang menuduh, silakan menuduh. Tapi kami sebagai rekan seperjuangan dan famili, kami akan tuntut balik orang yang menuduh. Mana bukti si Hamdani itu sebagai perampok? Kami tuntut polisi.”

“Apakah Hamdani pernah dekat dengan Teh?”

“Dulu Teh ada di sagoe daerah satu, Sigli. Hamdani berada di daerah dua, Tiro. Teh dan Hamdani memang pernah sama-sama dalam penjara. Hamdani lari lebih dulu penjara, setelah itu Teh dan beberapa temannya.”

Tetapi, menurut Daud, itu tak berarti Hamdani ikut dalam komplotan Teh.

“Apakah bisa dibuktikan si Hamdani itu sebagai perampok? Benar atau tidak Hamdani perampok? Menurut saksi-saksi di kilang padi Cut Ali, mereka tidak mengatakan si Hamdani merampok. Mereka nggak kenal sama perampok-perampok.”

LUBANG-LUBANG luka bekas tembak di tubuh Hamdani menyisakan tanda tanya. Saya membaca salinan Berita Acara Penyerahan Mayat yang diberikan petugas Polres Pidie kepada Sulaiman.

Dalam kronologi penangkapan yang tertulis di surat itu, Hamdani melakukan perlawanan. Lalu petugas melakukan tembakan peringatan. Tetapi Hamdani tetap tidak mengindahkan. Bahkan tersangka berusaha menikam salah seorang petugas yang hendak menangkap dengan menggunakan rencong sehingga petugas tersebut melakukan tembakan melumpuhkan ke arah kaki.

“Tetapi pelaku masih tetap melakukan perlawanan sehingga dilakukan tembakan ke arah sasaran yang pital yang mengakibatkan tersangka meninggal dunia di TKP,” demikian bunyi akhir kronologi dalam berita acara tersebut.

Di Harian Serambi Indonesia, edisi Jumat 23 November, menurut polisi, Hamdani nekat melawan polisi dengan mengacung-acungkan sebilah pisau tajam.

Saya membandingkan kronologi versi polisi itu dengan kesaksian Mukhlisin dan Sulaiman yang memandikan jenazah. Meski sepele, ada yang ganjil.

Jika kedua paha tertembus tiga peluru, dua mematahkan kaki kanan dan satu di kiri, apakah mungkin Hamdani tetap melakukan perlawanan terhadap para petugas?

Pertanyaan lain muncul. Bukankah Hamdani, selama belum ada vonis pengadilan, masih berstatus sebagai tersangka?

Berdasarkan pengalamannya memandikan jenazah, Mukhlisin menduga Hamdani ditembak dari jarak dekat.

“Luka yang di atas kemaluannya bisa jadi ia ditembak dari depan. Karena tembus ke belakang agak ke atas. Mungkin korban ditembak saat sudah jatuh. Kalau dia ditembak sambil lari, peluru akan lurus menembus. Tetapi mungkin saja dia ditembak dari belakang pada saat sedang duduk.”

Dua kemungkinan itu masih misteri. Polisi dan saksi yang kami wawancara berbeda versi.

Saya coba mendapatkan hasil visum kematian Hamdani dari Rumah Sakit Daerah Sigli. Kami bertemu Taufik Mahdi. Ia menjabat sebagai kepala Rumah Sakit Daerah Sigli. Kami menemui Mahdi di rumahnya, tak jauh dari gedung rumah sakit.

“Laporan visum diserahkan kepada penyidik. Karena mayat diserahkan oleh polisi. Mayat itu hanya sampai UGD. Belum sampai ruang jenazah dan tidak ada bedah mayat,” ujar Mahdi.

Visum et Repertum adalah laporan tertulis yang dibuat dokter berdasarkan sumpah yang dibuat untuk kepentingan peradilan. Laporan ini berisi tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan oleh dokter ahli. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, umumnya laporan ini dibuat untuk kepentingan penyidikan.

Kata Mahdi, visum yang dilakukan di rumah sakit tidak seperti visum yang dilakukan ahli forensik. Tidak ada penjelasan secara medis yang lengkap. Sehingga lemah sebagai alat bukti hukum.

“Apa yang terlihat orang awam, seperti itu yang kita laporkan. Pengukuran, jejas luka. Tidak detil. Kami tidak punya ahli forensik. Bukan hanya di sini, di Banda Aceh juga tidak ada,” ungkap Mahdi.

SETELAH PEMERINTAH Indonesia dan GAM setuju berdamai, masyarakat di Tiro pelan-pelan bangkit dari penderitaan. Warga mulai bergairah pergi ke ladang dan sawah. Sebagian laki-laki dan perempuan sudah berani pergi ke pasar menjual hasil kebun.

Warga Kecamatan Tiro tersebar di empat kemukiman. Kemukiman Tiro, Truseb, Dayah, dan Blang Keudah. Jumlah desa di kecamatan ini ada 19. Desa Pulo Mesjid berada di dalam Kemukiman Truseb. Di kemukiman ini ada enam desa. Selain Pulo Mesjid ada Desa Peunandeuk, Meunasah Panah, Trieng Cudo Tunong, Trieng Cudo Baroh, dan Mamprei.

Jumlah Kepala Keluarga dalam kemukiman Truseb sekitar 600. Pekerjaan masyarakat umumnya bertani. Tapi mereka bukan petani asli yang memiliki lahan sendiri. Mereka buruh tani, bekerja membajak sawah milik orang lain. Sedangkan warga yang memiliki lahan sendiri tidak banyak. Pemilik lahan umumnya orang luar kampung.

Dua tahun perdamaian, penduduk Tiro seakan berjuang melawan lupa. Aktivitas ekonomi berangsur-angsur normal. Namun, ketenangan mereka kembali terusik atas peristiwa penembakan Hamdani. Sejarah dan pengalaman pahit konflik selama hampir 30 tahun masih belum sepenuhnya hilang.

“Seharusnya polisi bikin masyarakat tenang. Tapi saat kejadian kemarin malah membikin masyarakat resah. Ini letusan senjata pertama setelah perdamaian,” ungkap Abdullah Usman, geuchik Desa Meunasah Panah.

Aksi polisi memeriksa warga satu per satu, membariskan dan memerintahkan warga di jalan mengingatkan warga pada masa sebelum damai. Penembakan Hamdani juga dilakukan di depan rumah tokoh masyarakat yang sedang mempersiapkan kenduri.

“Kayak masa darurat. Jelas, karena kejadian itu masyarakat jadi trauma lagi. Apalagi selama konflik di Tiro, di antara desa-desa lain, Desa Pulo Mesjid-lah yang paling rawan. Mestinya polisi kan orang yang melindungi rakyat,” katanya, lagi.

Di kemukiman Truseb, ungkap Usman, jumlah warga yang meninggal selama darurat militer lebih dari sepuluh orang. Mereka yang tewas adalah masyarakat biasa maupun anggota TNA.

Protes terhadap polisi juga dilontarkan Tengku Usman Lampoh Awe. Ia mengunjungi keluarga Sulaiman dua hari setelah Hamdani dimakamkan. Ia adalah mentroe pheng atau menteri keuangan dalam kabinet GAM setelah Hasan Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976 di Bukit Tjokkan. Sulaiman dan Usman pernah bergerilya bersama Hasan Tiro.

“Kenapa harus ada penembakan lebih dari satu kali di tempat yang tidak boleh ditembak. Kalau pun dia mau dihukum mati, mesti ditangkap dulu. Kalau mau lari, tembak di kaki. Ini tidak. Ini yang menjadi pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab.”

“Apa tuntutan proses hukum yang lebih adil?” tanya saya.

“Akan ada tim yang disusun GAM, mereka mempertimbangkan apa yang sudah terjadi dan apa yang akan dibuat.”

Tuduhan polisi terhadap Hamdani sebagai perampok, lanjut dia, perlu dibuktikan.

“Kami sudah menanyakan kepada kilang-kilang yang dirampok, mereka tidak kenal. Dan masyarakat menganggap bahwa yang merampok bukan dia. Bukan!”

Namun Hamdani bukan satu-satunya bekas TNA yang dituduh melakukan perampokan menggunakan senjata. Agustus lalu, misalnya, polisi berhasil meringkus Yusuf alias Roket. Ia dituduh terlibat perampokan di wilayah Aceh Utara. Pada awal September 2007, polisi berhasil menembak Si Teh yang diyakini merampok SPBU dan menembak pegawai sekolah di Pidie.

Kriminalitas yang diduga melibatkan para bekas kombatan bukan tanpa alasan. Menurut International Crises Group, ini terkait dengan masih tingginya angka pengangguran di antara mantan GAM. Kesimpulan ini dimuat ICG dalam laporan berjudul Aceh: Post-Conflict Complications yang terbit pada 4 Oktober 2007.

Terbatasnya lapangan kerja, menurut lembaga itu, “mungkin menjadi salah satu faktor sejumlah insiden yang melibatkan cara-cara ilegal untuk mendapat uang dengan cepat.”

Sebaliknya, menurut Usman Lampoh Awe, ini tidak terlepas dari lambannya penyaluran kompensasi yang menjadi kewajiban pemerintah.

“Kita masih menunggu kompensasi yang dijanjikan yang sampai saat ini belum selesai. Kompensasi dari pemerintah. Mudah-mudahan damai yang sudah ada ini jangan sampai retak. Apapun yang terjadi kita harus maju selangkah agar perdamaian ini abadi. Jangan ada orang-orang yang membuat damai ini jadi retak.”

“Apa ada bantuan untuk keluarga Hamdani?” tanya saya, lagi.

“Kita baru turun. Tentu ada, dari wilayah, tentu ada perhatian.”

“Almarhum Hamdani masih punya utang 180 ribu di kedai kopi. Apa ada bantuan untuk pelunasan?”

“Kita tak boleh melangkahi, mereka juga ada cara. Ada bagian-bagian yang mengurus.”

*) Tulisan ini pernah dimuat Sindikasi Aceh Feature Service (http://www.acehfeature.org). Laporan ini ditulis atas kerja sama KontraS Aceh.

3 Comments

Filed under Law, Topic

3 responses to “Misteri Kematian Si Ham

  1. Sukses dan terus berkarya mas Samiaji

  2. Amir Hamzah

    Terimakasih mas tulisannya. Sgt Bagus.
    Kita tunggu karya yg lainnya.

  3. ㈠aba $ema$a

    moga aceh kedepan lebih maju, damai , tentram, amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s