Gayus “Sang Pendobrak” Tambunan

Sebuah tafsir lain tentang kasus Gayus HP Tambunan.

 

INI sebuah tafsir tentang Gayus Halomoan Partahanan Tambunan yang benar-benar fenomenal. Sosoknya melejit lewat aksi-aksinya menjebol tembok penjara tanpa tetesan darah dan keringat. Ia adalah pemuda yang sukses ‘mendobrak’, dan mengobrak-abrik, tatanan hukum di negeri ini yang amat rapuh.

Di tengah kecaman yang dilimpahkan kepadaya, Gayus telah memberi inspirasi kaum muda untuk menjadi kaya di bawah usia 35 tahun dalam tempo secepat-cepatnya, “from nothing to something”. Ia juga ‘memberi teladan’ bagi kalangan muda lain yang bekerja sebagai pegawai negeri dengan golongan rendah untuk bisa hidup mewah di perumahan elit dan foya-foya.

Saya kira, ia kini layak menjadi ‘ikon perubahan’ buat kaum muda. Lihat saja kepiawaiannya menggoreng pajak perusahaan-perusahaan tambang besar. Lalu aksi penyuapannya yang bikin aparat penegak hukum, dari polisi, jaksa hingga hakim bertekuk lutut oleh kipasan uang hasil korupsi yang dilakukannya. Belum lagi soal liburan ke Bali dengan pesawat khusus untuk menonton pertandingan tenis internasional saat persidangan kasus korupsinya masih jauh dari vonis hakim. 

Kepiawaian pemuda Gayus sama sekali bukan hal gampang. Sekedar contoh, saya selalu cemas ketika berhadapan dengan Pak Polantas berkacamata hitam yang menyemprit dan menyetop motor yang saya kendarai dan menanyakan surat-surat. Sebaliknya, Gayus sama sekali tak ngeri dan ciut meski berada dalam tahanan yang dikelilingi puluhan hingga ratusan polisi terlatih dan berwajah garang yang memiliki senjata, lengkap dengan amunisinya.

Gayus bahkan membuat petugas-petugas kepolisian di markas Brimob bertekuk lutut, hilang kewibawaan dan keangkerannya. Padahal, oleh sebagian besar khalayak tempat ini adalah tempat yang angker. Alih-alih menjebloskannya dalam kerangkeng besi yang pengap, bau dan angker, para petugas justru memberi fasilitas kemewahan dan keleluasaan kepada Gayus untuk pergi dan berlibur kemana pun ia suka. Padahal, jutaan pasang mata dan telinga tengah menyimak dengan seksama proses pengadilannya. Khalayak amat menantikan akhir drama persidangannya.

Tentu, bagi saya, kelihaian dan kecerdikan Gayus perlu dipelajari. Itu pun perlu waktu bertahun-tahun. Buktinya, banyak kalangan yang baru bisa melakukan korupsi ketika berusia di atas usia 40an bahkan 50an. Selama ini sebagian besar koruptor yang berhasil dijerat adalah orang-orang yang baru bisa melakukan korupsi miliaran ketika ia duduk di posisi tinggi dan penting. Misal, saat seseorang terpilih dan duduk jadi anggota dewan, dirjen, ketua KPU, gubernur, bupati, walikota, menteri, bahkan presiden sekalipun. Sementara Gayus, ia sudah trampil melakukan korupsi di usia muda dengan posisi hanya pegawai negeri golongan rendah. Ia juga sudah amat lihai menyuap para aparat penegak hukum berpangkat tinggi yang wajah, kata-kata dan vonisnya begitu menyeramkan di mata kaum lemah dan papa, apalagi pencuri 3 buah kakao.

Gayus adalah orang hebat. Kalau tidak, mana mungkin pengacara sekaliber Adnan Buyung Nasution yang dikenal sebagai pelopor dan pendiri Lembaga Bantuan Hukum di negeri ini, bersedia menjadi pendamping dan memberinya perlindungan selama ia disidangkan maupun setelah ia liburan ke Bali.

Kehebatan pemuda Gayus tak hanya itu. Ia adalah orang yang paling dicari oleh pengusaha-pengusaha hebat di negeri ini karena kecerdikannya dalam pat-gulipat urusan pajak triliunan rupiah. Padahal banyak orang, termasuk saya, tak paham dan kerap kali pusing soal hitung-hitungan pajak, apalagi jika nilainya mencapai triliunan rupiah. Tapi, pemuda Gayus yang cerdas mampu membuat formula hitungan pajak itu jadi lebih sederhana dan enteng. Untuk membuat rumusan perhitungan pajak yang ringkas itu, tentu ada syaratnya. Pembayar pajak mesti menyediakan ongkos tambahan kepadanya, paling tidak sebuah motor Harley Davidson atau satu unit rumah di kawasan elit Kelapa Gading.

Meski dalam setiap tayangan televisi ia kerap mengumbar senyum dan terlihat canggung, Gayus adalah tipikal pemberontak dan pendobrak kemapanan. Pemuda dan pegawai rendah tak mesti berkantong kempis. Untuk bisa mengocok kewibawaan pejabat dan aparat hingga takluk dan bertekuk lutut tidak harus memiliki senjata, bom, apalagi kekuasaan dengan massa fanatik ratusan ribu atau jutaan sekalipun.

Buat saya, Gayus benar-benar pemuda intelek yang amat dibutuhkan sebagai batu ujian para pejabat dan petinggi negara. Seperti sosok setan atau iblis yang terkadang dibutuhkan kehadirannya untuk menguji apa benar kita sudah beriman kepada Tuhan, sosoknya diperlukan untuk mengukur kadar keseriusan dan kehebatan jajaran aparat kepolisian, kejaksaan, kehakiman, menteri hingga presiden untuk memberantas korupsi di kalangan mereka sendiri, kerabat, lawan politik maupun teman dekat.

Untuk membuat perubahan di negeri yang amburadul ini, Gayus memilih untuk tak melakukan aksi protes turun ke jalan dan berkoar-koar di depan gedung parlemen dan kantor pemerintah. Ia memilih jalur yang tak lazim, langsung menyogok dan menyumpal para pejabat-pejabat korup ini dengan timbunan uang. Ia justru membiarkan sekaligus mempermainkan para pejabat berwibawa itu menikmati duit-duit haram. Tentu ada kepuasan tersendiri manakala seorang warga biasa, apalagi pegawai golongan rendah, bisa membuat atasan bahkan petinggi Polri tunduk atas kemauan kita. Pendek kata, berapapun harga yang Tuan jual, hamba akan beli.

Lewat aksi-aksinya, Gayus telah menunjukkan bahwa kecintaan kepada negeri ini tak perlu dengan aksi heroik, sok pahlawan. Sebaliknya, cinta itu ditunjukkan dengan menyuap jaksa, hakim dan polisi berpangkat. Sosok Gayus menegaskan bahwa kita hidup di dunia serba-paradoks. ** END

3 Comments

Filed under Law, Social

3 responses to “Gayus “Sang Pendobrak” Tambunan

  1. sayang kita sudah tak pak punya gus dur, seandainya ia masih, mungkin akan ada komentar-komentarnya yang manis, tentang paradoks negeri ini. Selain sibuk harus segera mengerti kemajuan kemanusiaan yang setiap hari semakin mencengangkan, rasanya hari kita harus menata lagi pemahaman kita tentang risalah yang pernah kita dapatkan di bangku sekolah, begitu banyak yang tak masuk akal. Dan kita harus segera memahaminya.

  2. sayang kita sudah tak punya gus dur, seandainya ia masih, mungkin akan ada komentar-komentarnya yang manis, tentang paradoks negeri ini. Selain sibuk harus segera mengerti kemajuan kemanusiaan yang setiap hari semakin mencengangkan, rasanya hari kita harus menata lagi pemahaman kita tentang risalah yang pernah kita dapatkan di bangku sekolah, begitu banyak yang tak masuk akal. Dan kita harus segera memahaminya.

  3. Mirna

    Alangkah mulia orang yg dapat menggali sumber mata airnya sendiri, bukannya mengalirkan dari rumah tetangga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s