Hikayat Royati

Bisikan-bisikan aneh menghantui seorang perempuan cantik bernama Royati. Ia dinyatakan menderita skizofrenia.

Tatapan hampa.

SUATU siang di bulan September 2009. Jalan Kemuning sepi tak seperti hari biasa yang ramai lalu-lalang kendaraan. Beberapa warga yang lewat mengenakan pakaian rapi dan tampak baru. Toko-toko dan bengkel yang ada di sekitar Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa I masih tutup. Suasana hari raya Lebaran masih terasa.

Keluarga pasangan Risan dan Fatima siang itu mendatangi Panti Laras di bilangan Cengkareng, Jakarta Barat. Ini Lebaran pertama keluarga Risan ke panti yang merawat penderita gangguan jiwa. Rogayah, putri sulung mereka, dan adik-adiknya membawa rantang berisi aneka makanan dan kue. Kue bolu. Ketupat. Opor ayam. Itu menu makanan spesial Lebaran untuk Royati, putri Risan dan Fatima.

Kedatangan mereka memang khusus mengunjungi putri kedua keluarga yang tinggal di Kampung Pinggir Rawa, Jakarta Barat. Kulitnya putih, bersih. Tubuhnya tinggi. Ramping. Yati, begitu nama panggilannya, sudah dirawat di panti laras ini lebih dari tiga bulan. Perempuan yang lahir tahun 1983 itu dinyatakan menderita skizofrenia.

Sewaktu kecil Yati rajin mengaji dan pandai membaca kitab Al Quran. Ia juga tak pernah meninggalkan kewajiban salat lima waktu. Terhadap, ia tidak pernah membantah. Saat menginjak umur 17 tahun, ia mulai mengenal cinta. Ini pertama kali ia mengenal yang namanya pacaran. Saking cintanya, ia segera minta dinikahkan oleh lelaki pujaannya. Risan dan Fatima tak berani menolak permintaan putri keduanya itu. Alasannya, pasangan itu sudah suka sama.

Saat itu Yati dikenal perempuan cantik. Rambutnya panjang. Kulit bersih. Tinggi badan 165 cm.

“Kalau pakai jilbab, pantas banget jadi model deh,” kenang Yayah, panggilan Rogayah.

“Kita nggak tahu kalau akhirnya malah begini. Kita benar-benar nggak habis pikir. Dia juga ditinggal sama suami,” ungkap Yayah.

Yayah menceritakan, gejala gangguan kejiwaan pada adiknya mulai muncul setahun setelah menikah dengan pemuda bernama Sopian. Jiwanya semakin labil setelah melahirkan putra pertama hasil pernikahan dengan Sopian. Anak itu diberi nama Faiz.

“Mungkin karena ia menikah waktu masih umur tujuh belas tahun,” imbuh Fatima, orangtua Yati. Ia menilai, usia Yati yang terbilang muda belum siap menerima kehadiran buah hati yang menyebabkan gangguan kejiwaan.

Tak lama setelah melahirkan Faiz, menurut Yayah, adiknya mulai kerap diam dan tak banyak bicara. Selama tinggal bersama suami di rumah, perangai Yati mulai ‘aneh’. Risan dan Fatima sepakat membawanya pulang. Mereka kemudian membawa Yati ke ‘orang pintar’. Yati terpaksa dipisahkan dari anak dan suaminya.

“Kami bawa ke mana-mana supaya bisa sembuh. Sampai kami bawa ke Tangerang,” kata Rogayah.

Sopian beberapa kali sempat ikut mengantar Yati berobat. Belakangan, Sopian tak lagi mengantar sang istri untuk berobat.

“Mungkin karena sudah nggak sabar, adik saya ditinggal begitu aja,” ujar Rogayah. Ia menganggap, sebagai suami adiknya, Sopian tidak bertanggung jawab.

“Mestinya, kalau istri sakit kan diantar, ditemenin. Ini nggak. Malah ditinggal,” ujarnya, kesal.

Bersama orangtuanya, Yayah ikut mengantar Yati ke orang-orang yang dianggap mampu menyembuhkan Yati. Ia juga tak tahan melihat kondisi mental sang adik yang kerap menyusahkan keluarga dan orang tuanya.

Selama Yati menjalani pengobatan, Sopian tidak lagi memberinya nafkah. Yati juga tidak pernah diberi uang untuk ongkos berobat. Risan dan Fatima banting tulang mencari uang agar membiayai penyembuhan anaknya.

“Sempat kita curiga sama lakinya. Karena kita sakit hati sama suaminya. Tapi belakangan, kita nggak mau suudzon (prasangka negatif) sama orang. Sudah lah, yang penting kita bagaimana mengobatinya,” ujar Yayah, pasrah.

BADAN Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi jutaan penduduk, terutama yang tinggal di kota-kota besar, berpotensi menderita skizofrenia. Dalam setiap 1.000 populasi penduduk dunia yang berusia muda, sedikitnya tujuh orang menderita gangguan jiwa jenis ini. Saat ini, diyakini total penderita skizofrenia di dunia sudah lebih dari 25 juta. Angka ini terus meningkat setiap tahun. Di Indonesia sendiri, populasi penderita psikotik ini sekitar 2,5 juta orang. Dari jumlah itu, yang melakukan konsultasi ke dokter atau psikiatri kurang 200 ribu pasien.

Dalam ilmu kedokteran, penderita skizofrenia biasanya mengalami gangguan kejiwaan yang menyebabkan ia sulit untuk mengendalikan pikiran, emosi dan perilakunya. Orang yang menderita gangguan psikotik ini umumnya menarik diri dari realitas dan hubungan sosial antar sesama.

Seperti penyakit pilek atau influenza, gangguan psikotik ini bisa dialami siapa saja, laki-laki maupun perempuan. Namun biasanya laki-laki yang menderita penyakit ini, gejala-gejalanya lebih awal terlihat. Gejala-gejalanya mulai tampak pada usia belasan atau awal duapuluhan. Sedangkan perempuan, biasanya baru muncul pada usia antara 20an hingga 30an.

Salah satu gejala yang paling umum adalah penderita gangguan ini mendengar suara-suara atau bisikan yang mengancam dirinya. Tahap ini dikenal sebagai delusi, terjadi berbarengan dengan halusinasi dan perilaku yang tidak terkendali.

Gejala afektif juga sering menyertai penyakit skizofrenia meliputi perasaan tertekan, cemas, kurang tidur, perasaan tidak berharga, pemikiran tentang kematian dan bunuh diri serta perasaan bersalah. Muncul pula gejala kognitif dimana terjadi pola pikir yang tidak beraturan, sering terlihat sebagai kebingungan dalam berpikir, berbicara dan bertindak yang tidak masuk akal. Gejala lainnya yang terkadang juga muncul adala gejala agresif, yaitu perilaku yang menunjukkan permusuhan.

Ada beberapa jenis skizofrenia, seperti paranoid, simplex, residual, hebefrenik, dan beberapa jenis lainnya. Namun yang amat dikenal adalah skizofrenia paranoid. Jenis ini ditandai oleh keasyikan pada satu atau lebih waham atau halusinasi. Waham adalah keyakinan tentang isi pikiran yang bertolak belakang dengan kenyataan. Kondisi jiwa penderita gangguan kejiwaan ini sulit diprediksi, setiap saat dapat berubah.

Sampai sekarang penyebab gangguan psikotik ini masih dianggap misteri. Namun ahli medis menilai ada kombinasi faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi, antara lain genetika, kondisi pra-kelahiran, lingkungan sosial, konsumsi obat-obat narkotika, dan konstruksi sosial di masyarakat.

Masyarakat pada umumnya mengidentifikasi para penderita skizofrenia sebagai ‘orang gila’. Alih-laih membantu pemulihan, stigma ini kian mengucilkan dan menjauhkan para penderita dari kesembuhan.

Pasien gangguan jiwa di sebuah panti laras menanti kerabat yang datang.

TAHUN 2006, skizofrenia yang diderita Yati kian parah. Ia semakin mudah gelisah, tapi tidak banyak bicara. Bisikan-bisikan mulai sering mengganggu pikirannya. Ia juga kerap berteriak-teriak tanpa alasan. Marah-marah. Terkadang ia juga menyanyi sendiri. Bahkan, suatu hari Yati membakar kasurnya sendiri.

Menurut Yayah, adiknya mulai sering mendengar bisikan-bisikan. Padahal tidak ada orang yang membisikan sesuatu ke telinga adiknya. Anehnya, Yati kerap menuruti bisikan-bisikan itu.

“Kalau disuruh menyanyi, dia bakal menyanyi. Disuruh bakar kasur, ya dibakar,” ungkap Yayah.

Yati juga mulai sering meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan Risan dan anggota keluarga yang lain.

Melihat kondisi Yati yang semakin kritis dan sulit dikendalikan, Risan dan anggota keluarga yang lain bertambah cemas. Mereka khawatir, Yati bakal melarikan diri dari rumah. Mereka terpaksa mengurung Yati dalam kamar.

Namun itu tidak membuat Yati berubah menjadi tenang. Ia malah makin agresif. Suatu kali, Fatima pernah dijepit di balik pintu. Lain hari, besi-besi jendela kamar ia rusak.

“Kalau lagi kambuh, tenaganya bisa melebihi kita yang normal,” ujar Yayah, mengenang perilaku adiknya.

Meski kejiwaan Yati semakin parah, Risan dan Fatima tak patah arang. Mereka membawa putrinya ke orang yang dianggap mampu menyembuhkan.

“Apa yang ada, ya kita jual. Habis mau bagaimana, yang penting dia bisa sembuh. Namanya juga anak sendiri,” kata Fatima.

Namun biaya jutaan rupiah yang sudah mereka keluarkan nyaris tidak berbekas. Upaya mereka tak mampu mengembalikan kesehatan mental Yati.

“Kami sekeluarga sudah habis-habisan buat ongkos berobat. Nggak ada yang berubah,” imbuh Yayah sembari melihat wajah sang adik.

Suatu malam, Yati akhirnya benar-benar kabur dari rumah. Padahal Risan sudah mengunci pintu kamar dan menghalanginya dengan motor agar Yati tidak keluar dari kamar saat anggota keluarga yang lain terlelap.

“Ia kabur lewat atap. Menjebol eternit rumah,” ungkap Yayah.

Risan dan Fatima panik. Dua-tiga hari Yati belum kembali ke rumah. Risan dan Fatima sepakat pergi ke kantor polisi, mengadukan anaknya yang hilang.

Rogayah dan adik-adiknya sibuk membuat selebaran berita kehilangan. Selebaran diperbanyak, lalu ditempel di jalan-jalan. Selebaran itu memuat foto Yati, nomor telepon dan alamat rumah bagi yang melihat atau menemukan.

Setiap habis berdagang dan bertani, Risan dan Fatima berkeliling mencari Yati dengan motor. Mereka pergi tak tentu arah, dan baru kembali ke rumah tengah malam.

Keluarga Risan kerap cemas. Berita-berita seputar kriminalitas di Jakarta yang ditayangkan di televisi membuat keluarga ini khawatir terhadap nasib Yati. Laporan penemuan orang hilang dan berita perempuan tak dikenal yang ditemukan tewas membuat mereka makin ketakutan.

“Takut kalau dia sudah meninggal, dan dipotong-potong. Sampai kami cari ke kamar mayat di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo),” kenang Yayah.

Berbulan-bulan mereka mencari Yati ke pelosok-pelosok Jakarta. Sampai suatu hari, ada seseorang yang menghubungi nomor telepon yang tertera di selebaran. Si penelepon mengaku dari Panti Laras Cengkareng. Ia mengabarkan bahwa perempuan dalam foto selebaran itu sudah berada di Panti Laras.

Menurut petugas panti laras, Yati ditemukan dalam razia yang dilakukan Polisi Pamong Praja di bilangan Gunung Sahari, Jakarta Barat. Kontan, Risan dan Fatima segera bergegas ke Jalan Kemuning di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat.

SKIZOFRENIA yang diderita Yati tergolong gangguan jiwa kronis. Ia sempat menjalani rawat inap di Rumah Sakit Khusus Duren Sawit. Pemulihan dan perawatan kemudian dilanjutkan di panti laras. Proses ini membutuhkan waktu lama.

Pada awal-awal masa perawatan, Yati masih beringas. Terkadang ia tiba-tiba mengamuk. Bahkan ia sempat menyiram air panas ke tubuh teman-temannya sesama penghuni panti.

Namun, keluarga Risan kini lebih tenang setelah Yati dirawat di panti. Kondisi Yati sudah lebih baik walau terkadang masih sulit diajak berkomunikasi. Mereka belum berniat membawa Yati pulang ke rumah. Risan khawatir, sewaktu-waktu gangguan jiwa Yati kembali kumat, lalu kabur dari rumah lagi.

Belum lagi soal biaya obat yang sangat mahal bila harus ditanggung keluarga. Yati dan keluarga dibebaskan dari aneka biaya pengobatan. Selama Yati berada di panti, Risan sering menjenguk putrinya.

Bagaimana dengan Sopian? Faiz?

“Mereka belum pernah ke sini,” ujar Fatima.

“Sekarang lakinya malah sudah kawin lagi. Coba, ke mana pikirannya laki begitu?” sungut Rogayah, kakak Yati.

Petugas panti memanggil Yati untuk bertemu orangtua dan adik-adiknya yang menunggu di di bangku di bawah pohon beringin. Ia duduk di antara Risan dan Fatima.

Yati tak banyak bicara meski Risan, Fatima, Yayah mengajaknya bicara. Saya juga ikut mengajaknya berbincang-bincang. Ia lebih banyak diam. Mengangguk. Atau menggeleng. Saya bertanya kepadanya, apa ia masih mendengar bisikan-bisikan?

“Ada,” balas Yati, pelan. Tak lama kemudian, ia menyeringai. Lalu tertawa. ***

*) Reportase ini mendapat dukungan dari Mochtar Lubis Fellowship 2009.

Leave a comment

Filed under Health, Social, Topic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s