Antara Bencana, Berita, dan Wartawan

MINGGU pagi, 25 Oktober 2010, sebuah pesan pendek masuk ke telepon seluler Pito Agustin Rudiana. Isinya, ada rapat perubahan status Gunung Merapi, dari level “Siaga” ke “Awas”. Pertemuan darurat itu digelar di kantor Kecamatan Pakem, Sleman, mulai pukul 5 pagi. Pengirim pesan adalah staf kantor pemerintah daerah Yogyakarta yang cukup lama dikenal Pito.


Wartawati Koran Tempo yang juga ketua Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta itu segera memastikan kabar status Merapi. Status ‘Awas’ berarti petaka. Penduduk sekitar lereng gunung mesti cepat-cepat diungsikan.

Ia buru-buru menghubungi Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana. Positif. Status awas Merapi mulai berlaku sejak pukul 6 pagi. Sinyal bahaya ini belum banyak diketahui penduduk. Sebaliknya, insting kewartawan Pito seakan berbunyi bak metal detector. 

Perempuan berkacamata itu memutuskan untuk pergi sendiri ke kawasan lereng Merapi pagi itu. Raden Ngabehi Surakso Hargo, terkenal dengan panggilan Mbah Maridjan, sumber berita pilihannya. Nama dan wajah juru kunci Merapi ini terkenal lewat iklan minuman suplemen. Namun setelah membintangi iklan produk minuman yang seolah menyimbolkan keperkasaan lelaki itu, Maridjan kerap menolak diwawancara. Ia melarang wartawan dan fotografer yang ingin memotretnya.

Sekitar pukul 9 pagi, mengendarai motor, Pito bergegas menuju rumah Maridjan. Ia nekat bertemu Maridjan tanpa membawa kamera dan perlengkapan liputan lainnya.

Sebelum tiba di rumah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, ia bertemu dengan Udi Sutrisno. Udi adalah adik ipar Maridjan. Rumah Udi beberapa meter di bawah rumah Maridjan.

Saat berbincang dengan Udi, dari masjid yang tak jauh dari rumah terdengar pengumuman status awas Merapi. Lewat pengeras suara, berulang-ulang pengurus masjid meminta warga segera mengungsi.

Tak lama kemudian, Pito pergi ke rumah Maridjan. Di situ sudah ada tiga orang lelaki tua. Mereka berniat pamit saat Pito datang.

Maridjan kaget. Pito datang tanpa kawan.

“Mana teman laki-laki kamu?” tanya Maridjan.

Pito agak kikuk. Teman lelaki yang dimaksud adalah rekan sesama wartawan.

Maridjan mengingatkan Pito tak nekat pergi ke rumahnya sendiri. Apalagi ia seorang perempuan.

“Bisa menimbulkan fitnah,” Maridjan berpesan.

Pito lalu meminta ketiga tamu yang semula hendak pulang agar menemaninya. Tapi mereka menolak. Alasannya, rumah mereka jauh. Setelah ketiganya pergi, Pito berbincang dengan Maridjan. Istri dan anak Maridjan sedang keluar.

Obrolan mereka terputus ketika seorang polisi dari Kepolisan Sektor Cangkringan datang. Polisi ini melakukan patroli ke desa setelah status Merapi dinyatakan awas. Mereka berbincang dengan Maridjan. Empunya rumah menyajikan makanan dan air mineral dalam kemasan gelas plastik.

“Mbah, saya mohon doanya supaya tetap sehat, bisa patroli terus,” ujar petugas seraya meneguk air mineral.

“Kalau mau minum, ya minum saja. Tak usah minta macam-macam.” Maridjan menolak dianggap paranormal atau “orang pintar”.

Maridjan lantas bercerita soal dirinya dan keberadaan Merapi. Ia mengibaratkan, tugasnya di desa itu sebagai tukang sampah Merapi. Ketika gunung itu mengeluarkan sampah, tugasnya adalah membersihkan sampah-sampah itu. Obrolan diselingi tawa. Maridjan selalu menutup mulutnya dengan tangan tiap kali tertawa.

Ia juga memperlihatkan foto dan karikatur-karikatur yang pernah dimuat di media massa. Di salah satu karikatur yang diterbitkan harian Kompas, Maridjan digambarkan mengenakan pakaian abdi dalem. Kepala besar ditutup blangkon, topi khas adat Jawa. Badan kecil.

Pito bertanya tentang status Merapi yang diumumkan lewat pengeras suara masjid.

“Saya kerasan tinggal di sini,” balas Maridjan.

Bila ikut pergi mengungsi, kata Maridjan, tamu-tamu yang datang ke rumahnya akan kecewa. Ia justru senang bila didatangi tamu. Ia menunjukkan buku tamu. Buku tebal itu berisi daftar dan kolom nama-nama berikut asal tamu yang berkunjung. Setiap hari belasan tamu datang ke rumahnya.

“Kalau ketemu tamu kan saya tidak melamun, malah menghibur saya,” katanya, terkekeh.

Sepulang dari Kinahrejo, Pito buru-buru mengetik hasil wawancara dengan Maridjan. Wawancara khusus itu segera dilansir di situs berita Tempointeraktif.com pada Minggu siang.

SENIN, 26 Oktober. Menjelang magrib, Merapi memuntahkan abu dan material vulkanik. Awan abu panas membumbung. Lalu segera jatuh meluncur ke bawah, menyapu desa-desa di lereng gunung. Lebih dari 30 orang penduduk di Kinahrejo tewas akibat sapuan abu vulkanik. Termasuk Maridjan dan Udi Sutrisno.

Pito merasa beruntung. Ia tak mengira Merapi bakal meletus sehebat itu.

Ia terkenang sosok Maridjan yang bersahaja, Udi, dan warga Kinahrejo yang ia temui sehari sebelumnya. Wawancara Minggu pagi itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Maridjan.

Namun ia tak larut dalam kenangan. Bencana Merapi membuat beban tugas liputannya bertambah. Ia mesti berlomba dengan waktu dan tuntutan melaporkan berita aktual seputar bencana.

Di ruang forensik Rumah Sakit Dr Sardjito, Pito menyaksikan korban-korban luka bakar. Melepuh akibat abu bertemperatur lima kali lebih panas dari titik didih air. Jasad-jasad itu hampir sulit dikenali. Baunya amis.

Informasi menyangkut korban tewas dan luka bakar berseliweran di antara wartawan, relawan, dan petugas rumah sakit. Hampir setiap jam jumlahnya terus bertambah. Saat itu terdengar kabar seorang wartawan tewas tak jauh dari kediaman Maridjan.

Yuniawan Wahyu Nugroho alias Wawan, seorang redaktur VIVAnews.com, meninggal terkena abu panas. Muhammad Teguh, Wakil Pemimpin Redaksi VIVAnews.com, memastikan kematian Wawan.

“Almarhum meninggal saat menjalankan tugas,” ujar Teguh dalam sebuah wawancara yang disiarkan stasiun TVOne, sehari setelah Merapi meletus.

Meski tak pernah bertemu, Pito sempat mengenali jasad Wawan yang di bawa ke ruang forensik. Ia melihat sepatu dipakai sosok dalam kantong kuning jenazah. Sepatu itu biasa digunakan untuk naik gunung. Sepatu itu bukan alas kaki biasa yang dipakai penduduk desa.

“Dari sepatu itu saya mengetahui jenazah almarhum Wawan,” kenang Pito.

Dugaan Pito tak meleset. Beberapa jam kemudian, hasil forensik menyatakan sosok itu adalah jenazah Wawan.

BENCANA ALAM menyedot keingintahuan orang banyak. Bencana kerap menjadi magnet bagi media dan para wartawan. Nilai berita dari peristiwa bencana berbanding lurus dengan tingkat kehancuran dan angka kematian. Makin besar dan luas dampak kehancuran, angka kematian maupun korban akibat bencana, makin tinggi nilai beritanya.

Letusan Merapi menjelang akhir tahun 2010 mengundang’ puluhan wartawan cetak, online dan elektronik, lokal dan asing, datang meliput wilayah bencana di sekitar gunung. Stasiun TV swasta seperti TV One dan Metro TV bahkan menerjunkan belasan awaknya ke daerah-daerah sekitar Merapi, lengkap dengan perangkat telekomunikasi dan siaran dari Jakarta.

Stasiun-stasiun televisi, terutama kedua stasiun berita itu berlomba menyiarkan liputan secara langsung dari kawasan bencana. Laporan-laporan terbaru disiarkan nyaris setiap jam.

Abu vulkanik yang membumbung dari mulut Merapi. Gambar-gambar suram desa-desa yang diselimuti abu tebal dan tinggal penduduknya. Wajah-wajah muram para pengungsi. Hiruk-pikuk di rumah sakit. Kantong-kantong jenazah.

Gambar-gambar suram dan sedih dari kawasan bencana menyedot air mata dan simpati jutaan pemirsa.

Namun bagi sebagian wartawan, medan bencana adalah medan tantangan. Salah satunya adalah Afif Shidqi, wartawan TV One.

Saat Merapi meletus sejak akhir Oktober 2010, ia baru tiga bulan bekerja di stasiun TV milik keluarga Bakrie. Statusnya sebagai calon reporter. Ketika itu ia masih menjalani pendidikan jurnalistik pertelevisian melalui program Kampus One di stasiun itu.

Ketika mendapat penugasan khusus untuk meliput Merapi, ia segera menyambar kesempatan itu penuh semangat.

“Ini adalah pengalaman pertama saya meliput daerah bencana,” ujar Afif kepada saya.

Meski minim pengalaman meliput medan bencana, tantangan bertugas di medan bencana memacu adrenalinnya

Afif bersama enam rekannya berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta pada Kamis siang, 4 November. Mereka rata-rata berusia di bawah 25 tahun. Mereka mendapat tugas khusus dari Jakarta: meliput di wilayah yang terkena dampak letusan Merapi. Dalam tugas ini, ia bertugas sebagai kamerawan, mengambil gambar. Dalam keadaan mendesak, ia juga mesti bisa bekerja sebagai reporter.

JUMAT dini hari, 5 November. Afif Shidqi bersama enam rekannya dari stasiun TV One menginap di Posko Disaster Oasis, Pakem. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari puncak Merapi.

Merapi tiba-tiba mengeluarkan abu vulkanik panas. Abu maut yang terkenal dengan sebutan wedhus gembel karena mirip bulu domba yang kotor dan tak terawat itu sudah menerjang ratusan bangunan dan menelan banyak korban.

Afif dan enam awak stasiun TV itu panik. Mereka lari berhamburan keluar dari posko bersama sejumlah relawan dan penghuni posko lainnya. Mobil yang ditumpanginya melaju menghindari bahaya wedhus gembel.

Afif masih sempat meraih kamera. Telepon genggamnya tertinggal entah di mana. Tapi ia tak peduli, asal kamera tetap dalam genggamannya. Kamera adalah nyawa kedua baginya.

Ia dan rekan-rekannya lekas-lekas menjauh dari Merapi. Mereka tak ingin terkena abu vulkanik yang suhunya bisa mencapai ratusan derajat celsius yang dikeluarkan Merapi. Abu panas itu, sebelumnya, telah merenggut puluhan penduduk di kaki Merapi.

Proses evakuasi di daerah yang baru terkena abu panas merupakan sumber liputan penting bagi wartawan foto dan TV. Mereka butuh gambar-gambar itu untuk melaporkan kondisi desa-desa. Rumah yang rusak tertimbun abu. Pohon-pohon yang hangus dan tumbang. Mayat-mayat terbujur kaku.

Saat itu Afif dan rekan-rekannya memutuskan untuk bergegas ke Rumah Sakit Sardjito. Di sana ia mendapati ruang Instalasi Gawat Darurat rumah sakit disesaki keluarga korban, anggota tim evakuasi, wartawan, dan petugas medis. Sirine ambulans-ambulans yang datang terdengar menjerit-jerit. Relawan hilir-mudik membawa korban luka bakar dan kantong-kantong kuning berisi jenazah.

Afif menyaksikan tubuh-tubuh melepuh. Wajah-wajah penuh abu. Mendengar tangis anak dan ibu. Bau anyir dan amis menyengat.

“Kondisi di lapangan benar-benar unpredictable. Semua di luar bayangan saya,” kenangnya.

SELAIN kisah duka dan gambar-gambar penuh horor, bencana memberi memberi pelajaran. Setidaknya bagi Pito. Setelah erupsi Merapi yang pertama, ia lebih waspada dalam bertugas. Ia tak lagi meliput ke desa-desa di lereng gunung.

Kematian Wawan seakan menjadi lampu kuning. Sebelum meluncur ke kawasan rawan bencana, Pito pun kerap berkoordinasi dengan sesama wartawan lainnya melalui telepon genggam.

Setelah letusan yang merenggut Maridjan, Wawan, dan puluhan warga lereng Merapi, Pito lebih banyak meliput posko-posko pengungsi. Mendengar dan melaporkan keluhan dan kebutuhan para pengungsi.

Liputan bencana Merapi tak mesti selalu berada di lingkaran terdekat dengan puncak gunung.

Ignatius Haryanto, direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, di Jakarta, ikut berduka atas kematian Wawan. Namun ia juga prihatin terhadap wartawan yang nekat memburu berita di tengah bahaya.

“Apa poinnya mempertaruhkan risiko kehilangan nyawa untuk mengejar berita?” tanyanya.

Meski berita yang dilaporkan wartawan mendesak dan amat penting, menurut Haryanto, awak media yang bertugas di wilayah bencana mesti pandai-pandai berhitung soal risiko. Mereka juga wajib mengenali medan liputan. Bila kalkulasi risiko dan keputusan sudah dibuat, menurutnya, kematian adalah risiko pekerjaan.

Aliansi Jurnalis Independen Jakarta mengimbau para wartawan yang bertugas di kawasan bencana lebih berhati-hati dan siaga selama meliput. Dalam siaran pers yang diterbitkan pada 17 November, organisasi wartawan ini mengingatkan agar kewajiban untuk melaporkan informasi yang akurat, relevan dan faktual.

Perusahaan media dan redaksi juga bertanggung jawab terhadap wartawan yang ditugaskan ke kawasan bencana. Mekanisme peliputan bencana mesti memprioritaskan kesehatan dan keselamatan para wartawan. Di akhir rilisnya, AJI Jakarta mengingatkan wartawan tidak nekat demi mengejar berita. Supaya para pencari berita tidak menjadi berita itu sendiri.

Dalam buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme; Kesaksian dari Tanah Bencana, Ahmad Arif memberi beberapa catatan penting bagi wartawan yang meliput kawasan bencana. Arif adalah salah satu wartawan yang meliput pasca bencana gempa dan tsunami di Aceh dan Nias yang menewaskan lebih 200 ribu orang. Selain menceritakan kesaksiannya dan beberapa wartawan Aceh atas bencana dahsyat Desember 2004 silam, buku yang terbit enam bulan sebelum Merapi meletus ini memuat panduan bagi wartawan meliput bencana.

Sebelum terjun ke wilayah bencana, wartawan mesti memiliki perbekalan yang memadai. Dari masalah makanan, perlengkapan liputan hingga obat-obatan. Ia juga dituntut paham akan medan dan lingkungan sekitar serta tanggap terhadap peristiwa alam. Misal, pemahaman soal gempa, tsunami, status gunung, abu vulkanik, hingga lahar dingin. Wartawan yang meliput kawasan bencana juga perlu digilir untuk menghindari trauma dan kejenuhan.

MENGENALI medan bencana sangat penting dipahami,” tegas Pito.

Ia menceritakan, sebelum terjadi erupsi pertama tanggal 26 Oktober, kawasan Merapi saat itu sudah mendung. Namun masih ada wartawan yang nekat ingin meliput semalam bersama Mbah Maridjan.

“Saya tidak tahu apakah ingin mengejar eksklusivitas berita, tidak memahami situasi saat itu, atau bagaimana. Tapi menurut saya, saat itu, untuk melakukan liputan dalam kondisi wilayah Merapi sudah sangat berisiko.”

Teori dan pengetahuan meliput bencana ia dapat ketika mengikuti pelatihan yang diadakan AJI Indonesia di Bali tahun 2009. Bekal itu amat membantu ketika ia meliput korban bencana yang di bawa ke rumah sakit maupun berada di lokasi pengungsian.

Pengalaman pertama meliput bencana juga memberi banyak pelajaran bagi Afif. Tugasnya tak pernah lepas dari ancaman cacat seumur hidup dan kematian.

Afif nyaris kehilangan sepasang kakinya ketika berjalan mengikuti selusinan anggota Kopassus bersama relawan Palang Merah Indonesia menyusuri sebuah dusun. Misi tim ini mengevakuasi korban yang tersisa.

Dusun yang berada kurang dari 5 kilometer dari puncak Merapi itu hancur, pemukiman dan pepohonan terbakar dan tertutup abu vulkanik panas. Ia merekam gambar-gambar suram itu. Namun sesuatu terjadi pada sepatu kets ia pakai.

“Waktu itu saya merasa ada yang aneh di kaki. Pas saya lihat, sol sepatu saya sudah meleleh,” ujarnya.

Pelan-pelan ia belajar menghadapi risiko paling buruk selama meliput di kawasan Merapi. Ketegangan saat lolos dari kejaran wedhus gembel yang meluncur dengan kecepatan tinggi dari puncak Merapi dan ancaman maut abu vulkanik bertemperatur tinggi ternyata tak membuat nyali wartawan muda ini ciut.

Tugas meliput selama kawasan bencana justru memacu adrenalinnya. Meski begitu, Afif tetap ingin menjadi wartawan yang memberitakan bencana. Bukan menjadi korban petaka. Keselamatan selama bertugas jadi prioritas.

“Buat saya, tidak ada berita seharga nyawa,” tandasnya. ***

Leave a comment

Filed under Environment, Media, Topic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s