Media, Agama dan Teror

2083: A European Declaration of Independence

SAYA merinding saat membaca beberapa halaman manifesto yang ditulis Anders Behring Breivik. Dalam manifesto berjudul 2083: A European Declaration of Independence itu, Breivik yang warga Norwegia ini menulis kebenciannya terhadap muslim. Juga kepada kaum Marxis dan Nazi. Ia menolak multikulturalisme. Di situ, Breivik menyebut dirinya sebagai anggota pasukan ksatria Kristen internasional dari abad pertengahan yang dikenal “Knights of Templar”.

Kebencian Breivik ternyata tak berhenti dalam manifesto yang ditulisnya. Jumat, 22 Juli lalu, Breivik yang menyamar sebagai petugas polisi menembak puluhan warga yang tengah mengikuti kemah musim panas Partai Buruh Norwegia di Pulau Utoya. Sebanyak 68 orang dilaporkan tewas, 90 luka-luka akibat tembakan Breivik.

Media melaporkan aksi brutal Breivik yang semasa kecilnya dikenal sebagai bocah pemalu. Dunia bereaksi. Pimpinan Dewan Gereja Sedunia mengutuk aksi Breivik. Ia dianggap telah menodai ajaran Kristen. Aksi pembantaian yang dilakukan Breivik, kata Sekretaris Jenderal World Council of Churuces Pdt Olav Fykse Tveit, sama sekali tidak dibenarkan dalam ajaran Kristiani.

Isu kekerasan atas nama agama bukan terjadi kali ini saja. Muslim, Kristen, Hindu, Buddha … Korbannya adalah warga yang tak berdosa. Continue reading “Media, Agama dan Teror”

Advertisements