Mungkinkah Membendung Banjir Informasi?

Judul : BLUR; How To Know What's True in The Age of Information Overload.
Penulis : Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.
Penerbit : Bloomsbury.
Halaman : 227

DINI hari itu saya kaget dan terbangun mendengar dering handphone di meja sebelah kasur. Ada pesan masuk. Biasanya, informasi yang masuk pada jam-jam itu adalah informasi yang berkategori penting, darurat, atau mengabarkan berita duka cita. Dengan agak malas saya terpaksa mengambil HP, membuka kotak pesan, dan berharap bukan kabar muram yang saya terima. Ternyata benar, pesan itu sama sekali bukan berita duka. Melainkan, “Mama lg di rs. Pulsa mama habis. Tlg kirimin mama pulsa ke nomor ini…

Saya yakin itu berita bohong (hoax) dengan modus penipuan. Dan, itu bukan pesan yang satu-dua kali saya terima. Pengalaman serupa banyak dialami teman dan kerabat saya. Meski pesannya agak berbeda, bukan Mama, tapi Papa minta pulsa, rata-rata para penerima pesan punya komentar yang sama. “Sangat mengganggu!” kata mereka setengah memaki.

Pesan lain yang tak kalah mengganggu privasi adalah promosi kredit, penawaran ini-itu yang dikirim pada jam-jam kerja, atau ketika orang sudah terlelap. Selain melalui handphone, informasi-informasi sejenis juga memenuhi kotak surat elektronik (surel). Informasi ini seakan mengalir tanpa kenal waktu lewat saluran komunikasi pribadi dan rumah tangga, termasuk koran, televisi dan radio. Bercampur dengan ribuan, jutaan bahkan miliaran informasi yang faktual, nyata, dan, memang benar-benar penting dan layak dipercaya.

Bila benar-benar dihitung, berapa total informasi yang kita konsumsi dalam 24 jam selama seminggu? Sebulan? Setahun? Sayangnya, sampai sekarang belum ada penelitian tentang ini di Indonesia. Sekedar pembanding, penelitian tentang konsumsi informasi ini pernah dilakukan tim periset Universitas California San Diego (UCSD) empat tahun silam. Tim ini meneliti total informasi yang diterima oleh setiap keluarga di Amerika Serikat.

Hasilnya, seperti diberitakan mingguan The Economist pada 25 Februari 2010, sepanjang tahun 2008 total informasi yang membanjiri rumah tangga di AS mencapai 3,6 zettabyte (3,6 triliun gigabyte/GB), atau 34 gigabyte per orang setiap hari. Informasi dalam bentuk teks, gambar, suara, dan audiovisual ini diterima melalui TV, radio, koran, majalah, internet hingga jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Sebenarnya fenomena banjir informasi ini sudah diramalkan jauh hari. Dalam buku Future Shock (1970), Alvin Toffler memperkirakan fenomena banjir informasi di masa depan sebagai information overloaded, informasi yang amat berlimpah. Riset International Data Center (IDC) tahun 2011 menegaskan ramalan Toffler. IDC menyebut volume informasi di jagad digital selama 2011 mencapai 1,8 triliun gigabyte, dan 70 persen informasi ini dihasilkan aktivitas komunikasi manusia. Lembaga ini memprediksi volume ini akan melonjak dua kali lipat per 18 bulan, seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di mana setiap orang bisa mengakses dan berbagi informasi kapan saja.

Bila membaca laju penetrasi telepon pintar (smart phone), internet, ditambah jumlah stasiun radio dan televisi swasta nasional dan lokal, total informasi yang diterima rumah tangga di Indonesia sangat mungkin akan mengekor pola konsumsi informasi rumah tangga di AS. Indonesia termasuk 10 besar negara dengan total pengguna Facebook dan Twitter terbesar di dunia. Dua jejaring sosial ini telah menjadi media baru (new media) untuk berbagi dan bertukar informasi.

Namun keberlimpahan informasi ini memunculkan persoalan lain. Apakah semua informasi dan berita yang didengar, dilihat atau dibaca melalui media konvensional dan new media ini dapat dipercaya?

DALAM ilmu komputer berlaku rumus GIGO (garbage in garbage out, atau masuk sampah keluar sampah). Rumus ini juga berlaku di jagad digital. Bila informasi sampah atau mengandung kekeliruan dimasukkan ke dalam sistem atau algoritma komputasi, maka hasil atau keluarannya, ya sampah. Dalam praktik sehari-hari, misal dalam pengambilan keputusan, bila data dan informasi yang dikonsumsi adalah informasi yang tidak akurat, keliru atau hasil rekayasa, maka hasil yang dikeluarkan juga keliru, salah dan fatal.

Meski tersedia dan semakin mudah diakses, tak semua informasi yang masuk melalui media sosial, kotak surat elektronik, pesan singkat, internet, televisi, radio, tabloid, dan saluran komunikasi lainnya, bermanfaat, atau mengandung kebenaran. Bahkan, di antara miliaran byte informasi yang kita terima setiap hari, tak sedikit yang termasuk informasi sampah -informasi yang tidak benar, distorsi, dipelintir, tidak akurat, atau spam.

Keberlimpahan informasi justru membuat publik dan konsumen informasi harus ekstra hati-hati. Kini kian sulit untuk membedakan antara berita dengan opini, berita dengan iklan, kampanye atau propaganda politik, atau, antara berita dengan gosip, rumor, atau kabar bohong. Publik dan konsumen informasi kian dibingungkan dengan pemberitaan sepotong-sepotong, seperti kasus korupsi dan skandal politik yang bercampur dengan opini lewat program talk show. Apa itu berita, semakin kabur. Berita yang kabur itu dengan cepat tersiar dan meluas lewat media konvensional, online, dan media sosial.

Di tengah arus keberlimpahan dan pengaburan informasi, dua wartawan senior Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menulis buku berjudul BLUR; How To Know What’s True in The Age of Information Overload. Buku ini diterbitkan membendung banjir informasi yang kian besar dan deras seiring penetrasi internet yang memunculkan jenis dan ragam media baru berikut dampak buruknya. Selain publik dan konsumen informasi secara umum, sasaran utama buku ini adalah para jurnalis, praktisi dan pengelola media yang memproduksi, mengolah, mengemas, dan menyajikan informasi menjadi berita menarik, penting dan relevan. Keduanya menyarankan agar jurnalis dan publik sebagai konsumen informasi dituntut lebih cerdas, tak ikut terseret arus atau tenggelam dalam banjir informasi. Konsumsi informasi-informasi yang benar dan akurat akan membuahkan keputusan yang tepat.

Buku yang terdiri dari sembilan bab ditambah epilog ini mengajak publik sebagai konsumen informasi agar tidak menelan begitu saja setiap informasi yang diterima. Bersikap kritis dan skeptis dalam proses memperoleh informasi yang dapat dipercaya. Kedua penulis memberi seperangkat “alat” berupa pertanyaan yang membantu konsumen informasi cara memperoleh informasi yang terpercaya. Ada enam pertanyaan yang mesti diajukan oleh konsumen informasi (hal. 32).

  1. Konten apa yang sedang kita simak dan saksikan?
  2. Apa informasi yang disajikan sudah lengkap, kalau belum, apa yang kurang atau hilang?
  3. Apa atau siapa saja sumber-sumbernya, dan kenapa kita mesti percaya dengan sumber tersebut?
  4. Apa saja bukti-bukti yang disajikan, dan apakah sudah teruji, diverifikasi?
  5. Dari konten yang kita saksikan, adakah kemungkinan penjelasan atau pengertian lain?
  6. Apakah kita memahami informasi apa yang penting dan kita butuhkan?

Keenam pertanyaan di atas menjadi benang pengikat antar bab dalam buku ini. Jawaban dan penjelasan masing-masing pertanyaan diurai dari bab tiga hingga terakhir.

BANJIR informasi juga berdampak pada jurnalis yang bekerja pada media konvensional. Bahkan, sebagian kalangan jurnalis di AS menganggap internet, teknologi informasi dan komunikasi sebagai ancaman yang akan mengakhiri karier mereka. Puluhan media cetak yang telah puluhan tahun terbit, termasuk mingguan Christian Science Monitor tiba-tiba berhenti menerbitkan edisi cetak. Sebagian menyatakan bangkrut dan terpaksa merumahkan ratusan hingga ribuan awak media.

Keberlimpahan informasi memicu perubahan pola konsumsi informasi yang semula pasif, duduk menunggu di depan layar televisi, radio, atau membaca koran yang diantar loper, menjadi audiens yang aktif memanfaatkan mesin pencari Google atau Yahoo!, menuntut perubahan cara dan pola kerja para jurnalis. Sebab, dalam arus keberlimpahan informasi ini, menurut kedua penulis yang sebelumnya menerbitkan buku The Elements of Journalism; What Newspeople Should Knows and the Public Should Expect, peran pers dan media dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai demokrasi lewat jurnalisme verifikasi menjadi semakin penting.

Publik sebagai konsumen informasi menuntut peran, fungsi dan kapasitas pers yang lebih kredibel dan dapat diandalkan. Terlebih lagi di era digital publik dapat terlibat sebagai pewarta (citizen journalist) sekaligus mengambil alih fungsi jurnalis dan media sebagai gatekeeper yang memilah, menyuplai hingga mendistribusi dan berbagi informasi melalui jejaring sosial. Sebab, menurut kedua penulis, “In the future the press will derive its integrity from what kind of content it delivers and the quality of its engagement, not from its exclusive role as a sole information provider or intermediary between newsmakers and the public” (hal. 175).

Selain itu, era informasi yang ditopang kemajuan teknologi komunikasi menuntut para jurnalis dan organisasi atau kantor berita untuk melaksanakan beberapa fungsi dan tugas yang berbeda dengan para pewarta warga atau citizen journalist (hal. 173). Kovach dan Rosenstiel mencatat delapan fungsi yang perlu dilakukan jurnalis di era informasi, antara lain sebagai:

Authenticator. Di jagad informasi, publik tak boleh lagi mempercayai apapun yang dikatakan, ditulis atau disiarkan melalui media. Sebab, media bukan satu-satunya sumber informasi. Dengan jumlah informasi yang begitu besar dan beragam, jurnalis dituntut untuk menjamin keaslian atau kebenaran suatu fakta. Apakah fakta tersebut benar, dapat dipercaya? Untuk menjamin kebenaran faktual, jurnalis diwajibkan untuk transparan soal sumber-sumber informasi dan metode verifikasi yang digunakan.

Sense maker. Bila informasi diibaratkan titik, di sini peran jurnalis adalah menghubungkan titik dengan titik lainnya dalam himpunan titik informasi (connecting the dots). Jurnalis mengubah kumpulan informasi menjadi pengetahuan. Mereka bertugas meletakkan dan mengorganisasi informasi ke dalam konteks yang tepat dan mencari hubungan antara satu informasi dengan lainnya sehingga bisa dipahami (masuk akal) publik dan konsumen informasi. Di balik batalnya rencana pemerintah menaikkan harga BBM dan menghapus BBM bersubsidi pada Maret lalu, misal, terungkap keterkaitan antara kepentingan Partai Golkar pimpinan Aburizal Bakrie yang menolak kenaikan BBM dengan kasus lumpur Lapindo yang menyedot triliunan anggaran negara.

Investigator. Di era informasi, kampanye dan propaganda terselubung, informasi yang ditutup-tutupi, bahkan dipelintir, masih kerap dilakukan penguasa atau pemerintah. Perang melawan terorisme (war on terror) di masa pemerintahan Presiden George W. Bush, misal, menyimpan sederet misteri. Apa benar Irak memiliki senjata pemusnah massal (weapon mass destruction), ini masih belum terbukti. Kasus lain adalah kaburnya Gayus Tambunan dari tahanan Markas Komando Brimob, Depok, yang belakangan terekam oleh kamera wartawan. Publik tak bisa lagi menelan dan menerima saja apa kata polisi dan pejabat negara. Di tengah maraknya media online yang mengandalkan kecepatan dan blogger yang mengedapankan opini, peran jurnalis sebagai anjing penjaga (watchdog role) yang mendasarkan pada fakta, metode verifikasi dan kebenaran fungsional masih sangat penting.

Witness bearer. Jurnalis berfungsi sebagai pemantau. Mereka sebisa mungkin hadir dan menjadi saksi dalam suatu peristiwa dalam masyarakat. Di sini, jurnalis yang melakukan observasi, melihat langsung kejadian dan bukti fakta, tentu berbeda dengan jurnalis yang hanya mengandalkan sumber-sumber di lingkaran terluar, seperti pengamat atau pakar. Kesaksian dan pengamatan langsung jurnalis lebih valid dan dapat dipercaya ketimbang asumsi dan pendapat pakar atau pengamat dalam acara debat dan talk show.

Empowerer. Di sini, jurnalisme sebagai proses komunikasi dua arah. Publik dan konsumen informasi tak lagi hanya dianggap sebagai audiens dan penerima informasi yang pasif. Informasi tidak lagi dikomunikasikan dalam bentuk satu arah, dari jurnalis ke publik, melainkan dua arah di mana publik dapat memberi umpan balik laiknya percakapan atau dialog. Sehingga peran pers di sini adalah melibatkan dan mendorong partisipasi warga, dengan memberi seperangkat alat kepada audiens dan publik cara untuk mengetahui dan memahami informasi; informasi yang seperti apa dan yang bagaimana yang harus dipercaya. Sehingga warga dapat bertindak atas informasi yang ia dapat.

Smart aggregator. Banjir informasi yang mengalir setiap hari melalui internet dan beragam situs, mesti dimonitor, disisir, diseleksi dan diolah agar diperoleh informasi yang memang perlu dikonsumsi dan sesuai kebutuhan publik. Untuk itu publik memerlukan pengumpul dan penyisir informasi di internet yang lebih pintar dari mesin atau algoritma komputasi. Untuk itu, selain menjaja dan menyajikan berita yang diproduksi sendiri, lembaga atau kantor berita perlu menavigasi konsumen informasi dengan memberi tautan informasi sejenis atau relevan yang ada di web atau situs informasi lain.

Forum organizer. Sebagian media-media konvensional di Indonesia telah menerapkan fungsi ini dengan menyertakan akun jejaring sosial, seperti Twitter dan Facebook, atau menambahkan kotak di bawah atau bagian akhir berita yang dimuat di laman web. Berbeda dengan halaman opini media cetak, komentar dan pendapat warga tersebut dapat segera ditampilkan setelah pesan tersebut terkirim. Di sini, lembaga atau organisasi berita diibaratkan sebagai lapangan terbuka atau alun-alun di mana setiap warga bisa bergabung, ikut memberi masukan, pendapat, saran, bahkan berbagi kesaksian dan pengalaman.

Role model. Jurnalis, sebagai profesi dan pekerja pers, memiliki tanggung jawab kepada publik. Karena itu, ia menjadi teladan bagi warga, terutama para pewarta warga yang ingin menyaksikan dan mengetahui cara kerja para jurnalis profesional, apa yang harus dilakukan dan mana yang tak boleh dikerjakan dalam menghimpun informasi menjadi berita. Pers yang mencampuradukan berita dengan hiburan, tentu sulit mendapat kepercayaan. Jurnalis yang menukar kebenaran dengan imbalan iklan, amplop hingga saham hanya akan memperburuk kepercayaan publik terhadap pers.

INFORMASI ibarat darah yang mengalir dalam kehidupan masyarakat melalui aneka saluran dan alat komunikasi. Darah ini mesti dijaga agar tidak tercampur toksin atau terinfeksi virus. Yang perlu dilakukan untuk itu, sejalan dengan saran kedua penulis, melengkapi diri dalam memilih, memilah, dan memeriksa kebenaran informasi informasi yang kita terima. Informasi yang berlimpah di jagad digital perlu dihimpun dan diorganisasi sehingga memperkaya pengetahuan, bahkan menjadi wisdom.

Di tengah keberlimpahan informasi, publik dan konsumen informasi mesti kritis, skeptis, bahkan cerewet mempersoalkan apakah informasi-informasi yang diterima itu benar, dibutuhkan dan dapat dipercaya. Jurnalis perlu menaikkan standar profesionalisme dan memperluas perannya di tengah banjir informasi agar mendapat kepercayaan publik yang kian skeptis. ***

Leave a comment

Filed under Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s