Nelayan Wangiwangi*)

Kemiskinan di salah satu pesisir ‘Surga Laut’.

Laut Wakatobi

SADALIN mengikat perahu kayu sepanjang hampir empat meter di parit depan rumahnya. Parit selebar dua setengah meter itu juga menjadi lalu lintas dan “tempat parkir” perahu-perahu kayu milik nelayan lainnya. Air dalam parit itu jernih. Dasar parit tampak jelas dari permukaan. Parit itu langsung bermuara ke laut.

           Nelayan yang tinggal di Kampung Bajo, Desa Mola Utara, itu baru saja melaut, mencari ikan-ikan “balaki”, sebutan warga di Kecamatan Wangiwangi, Kabupaten Wakatobi untuk ikan tuna.

          Ikan ini populer di Wangiwangi. Di Pasar Wanci, sekitar sepuluh menit dari kediaman Sadalin, saya menghitung ada selusinan pedagang yang menjual ikan ini. Ukuran dan bobotnya beragam. Daging ikan ini tebal. Seratnya tidak terlalu kasar. Warna dagingnya kemerahan. Ini jenis ikan yang habitatnya di laut dalam. Berbeda dengan ikan-ikan karang yang bersisik besar dan kasar, jenis ikan ini berkulit halus dengan warna hitam keperakan di bagian lambung. Mata besar. Moncong lancip di bagian ujung. Di air, ikan ini bergerak gesit. Hidup dalam kerumunan dalam jumlah besar.

          Ia sudah melaut puluhan tahun. Tapi selama itu pula, peruntungannya di laut saat menangkap ikan bergantung pada alam dan kesabarannya sendiri. Ia mengingatkan saya pada tokoh Santiago dalam novelThe Oldman and The Sea yang ditulis oleh sastrawan Ernest Hemingway. Dalam cerita itu Santiago, nelayan di pesisir kota Havana, Kuba, berjuang untuk menangkap seekor ikan marlin raksasa. Untuk mendapat ikan itu, Santiago mesti bertarung dengan hiu yang merebut ikan bermoncong pedang buruannya.

          Tapi Sadalin bukan Santiago, dan tidak menangkap ikan marlin. Lelaki tua berdarah Bajo itu termasuk nelayan yang agak rakus. Ia tak cuma menangkap balaki. Jika peruntungannya bagus, ia juga memperoleh ikan baronang, kerapu atau ikan sunu, dan ikan-ikan karang lainnya.

          “Hari ini cuma dapat satu ekor balaki,” ujar Sadalin saat saya menyambangi rumahnya.

          Selepas membersihkan badan dan mandi, bapak lima anak itu duduk bersandar di dinding kayu di muka rumahnya. Lelaki berkulit gelap itu lelah. Tubuhnya dibungkus sarung warna hijau muda.

          “Kalau sedang bagus, bisa dapat ikan balaki banyak,” katanya. “Kalau sedang jelek, ya dapat sedikit. Seperti sekarang, satu balaki. Itu juga hanya sekitar tiga kilo,” kata Sadalin, kecewa.

          Sadalin sekeluarga bergantung pada laut dan ikan. Tak heran jika gundah saat ikan tangkapannya sedikit. Kekesalan Sadalin bertambah ketika ia bercerita soal harga ikan-ikan. Belakangan ini, harga ikan kerap naik-turun. Di Pasar Wanci, harga duapuluh ekor ikan balaki seukuran lengan balita cuma Rp 10 ribu. Ikan kakap seberat hampir 5 kilogram hanya sekitar Rp 40 ribuan.

***

PULAU Wangiwangi berada di bawah administrasi Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Wakatobi sendiri akronim dari Wangiwangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Keempatnya adalah pulau yang terpisah. Wangiwangi pulau terbesar dan terbanyak penduduknya.

          Sumberdaya ikan dan kekayaan laut menjadi komoditas unggulan Wakatobi. Jenis ikan tangkapan yang populer di antaranya ikan pelagis, ikan sunu, dan ikan-ikan dasar laut. Hasil-hasil laut lainnya, seperti teripang, gurita, dan budidaya rumput laut.

          Catatan Biro Pusat Statistik Wakatobi menyebut, sepanjang 2010, produksi perikanan tangkap di laut untuk ikan pelagis sekitar 2.271 ton, ikan dasar sebanyak 1.466 ton, dan ikan sunu 91,3 ton. Sementara hasil laut lainnya, seperti teripang 49,6 ton dan gurita 54,9 ton. Hasil laut lain yang menjadi unggulan adalah rumput laut yang pada tahun itu mencapai 14.849 ton.

          Luas perairan laut Kabupaten Wakatobi mencapai 18.377 km2. Namun potensi perikanan laut tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal akibat minimnya teknologi alat tangkap maupun perahu yang digunakan oleh para nelayan.

          Menurunnya jumlah tangkapan ikan yang dikeluhkan Sadalin juga berkaitan dengan hancurnya sebagian kawasan terumbu karang. Kegiatan pembuangan limbah ke laut. Penebangan dan rusaknya hutan bakau. Penggunaan alat tangkap terlarang. Penangkapan ikan yang berlebihan dan tak mengenal ukuran, overfishing. Penambangan karang laut hingga pemutihan karang akibat perubahan iklim. Dalam publikasinya yang berjudul Laut Indonesia dalam Krisis, Greenpeace mengungkap penyebab rusaknya terumbu karang di Wakatobi, akibat endapan yang menghalangi cahaya matahari.

          Namun dibanding kawasan lain di Sulawesi Tenggara, kawasan dan ekosistem laut Wakatobi masih jauh lebih bagus. Populasi ikan relatif lebih banyak. Ini menjadi incaran nelayan dari wilayah lain.

           “Nelayan di Wakatobi kami batasi dalam menangkap ikan,” kata La Ode Agusrianto dari Dinas Kelautan dan Perikanan Wakatobi kepada saya di sela pelatihan komunikasi dan kampanye kelautan akhir Februari lalu.

          Pembatasan penangkapan ikan di perairan Wakatobi ada hubungannya dengan penetapan kawasan tersebut oleh pemerintah. Tahun 2008, pemerintah menerbitkan peraturan yang menetapkan kawasan laut di Kabupaten Wakatobi sebagai Taman Nasional Laut. Kawasan perairan Wakatobi menjadi daerah perlindungan. Sayangnya, peraturan itu belum banyak diketahui nelayan-nelayan di luar Wakatobi.

          “Tapi nelayan-nelayan dari kabupaten dan provinsi lain malah sering masuk ke perairan Wakatobi untuk menangkap ikan ke wilayah kami,” kata Agusrianto.

***

TAHUN 2012 lalu, UNESCO menetapkan kawasan laut tersebut sebagai cagar biosfer dunia. Dasar penetapan organisasi PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, itu karena Wakatobi memiliki beragam ekosistem laut dengan banyak spesies.Di dalamnya terdapat sekitar 590 spesies ikan, 396 spesies terumbu karang, 22 jenis bakau dan 12 spesies rumput laut.

          Di Wakatobi juga masih bisa ditemui beberapa spesies langka dan terancam punah dengan status yang dilindungi. Sekedar contoh, penyu bersisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), ikan Napoleon (Cheilinus undulatus), kepiting kenari (Birgus latro), kima raksasa (Tridacna sp .), lola (trochus niloticus), mamalia dugong (Dugong dugong), lumba-lumba (Delphinus delphis, Stenella longiotris, Tursiops truncatus) dan cumi-cumi bintik hitam.

          Kabarnya, keragaman hayati di Wakatobi jauh lebih kaya dibanding Laut Karibia yang amat sohor di kalangan pelancong dan penggila olahraga selam. Di Karibia hanya memiliki 50 spesies karang.

          Penetapan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO mendorong pemerintah kabupaten ini makin menggencarkan promosi Wakatobi sebagai kawasan wisata laut. Dalam edisi khusus wisata pilihan yang terbit pada November tahun lalu, majalah Tempo menyebut kawasan perairan laut kabupaten ini sebagai salah satu “surga” bagi penyelam.

Snorkling di perairan Wanci, kecamatan Wangiwangi

Snorkling di perairan Wanci, kecamatan Wangiwangi

          Saya beruntung dapat menyaksikan sebagian keindahan “surga laut” itu pada Februari lalu. Sekitar 50 meter dari pesisir Sombu Jati, Wanci, saya sudah dapat melihat aneka ikan-ikan karang dengan warna-warna yang cantik. Biru. Merah. Ungu. Kuning. Oranye. Kombinasi hitam, putih, dan kuning. Ikan-ikan itu melayang dan menari mengelilingi anemon yang melambai-lambai dan terumbu dengan beragam bentuk dan warna. Panorama bawah laut yang memanjakan mata.

          Sayangnya, di atas permukaan laut, saya menyaksikan pemandangan yang lain.

          Di pesisir Pulau Wangiwangi, Sadalin dan keluarganya tinggal di rumah-rumah kayu. Sempit dan beratap pendek. Bersama ratusan nelayan lain, mereka tinggal di pemukiman Bajo yang padat di Desa Mola Utara. Kesejahteraan warga tidak berbanding lurus dengan kekayaan hayati di “surga laut” Wangiwangi. ***

*) Dimuat di www.indonews.com

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s