Perempuan, Kopi, dan Hutan

 

DSC_3919
Menggoreng kopi — Kaum perempuan di Seko, Luwu Utara, biasa menggoreng atau menyangrai kopi dengan wajan yang diletakkan di atas tungku. Sebagian besar, mereka memanfaatkan kayu untuk bahan bakar.

PEREMPUAN berusia 43 tahun itu mesti berangkat pagi agar lekas tiba dan punya waktu memanen kopi lebih lama. Kebun kopi yang ia kelola bersama suami, Yulius Pato’o, seluas lebih dari dua hektare. Ia dibantu kelompok tani perempuan yang juga tetangga rumahnya. Jumlah mereka ada 12 orang.

 

“Untuk panen kopi biasanya dilakukan berkelompok. Karena kebunnya luas dan pohonnya banyak,” ujar Wilda Tiranda.

Waktu tempuh dari rumah ke kebun kopi sekitar satu jam dengan berjalan kaki. Jalan yang dilalui mendaki, berkelok, dan kadang berlumpur. Kebun itu terletak di bukit Tando, Desa Tanamakaleang. Tanamakaleang berada di dalam administrasi Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara. Kawasan ini berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Dalam Bahasa Indonesia, tando artinya batu tinggi. Untuk mencapai kebun kopi, Wilda mesti melalui dua bukit dengan kemiringan sekitar 60 derajat.  Continue reading “Perempuan, Kopi, dan Hutan”

Advertisements