Melawan “Robot Digital” dalam Pemilu 2019

Demokrasi modern terancam dibajak oleh para robot. Teknologi cerdas ini diciptakan ilmuwan yang sebagian dibayar oleh oligarki yang bernafsu menduduki kekuasaan lewat celah-celah demokrasi prosedural. Robot-robot ini menyebar melalui internet dan media sosial. Bagaimana cara melawan para robot ini?

DALAM tempo cepat internet dan media sosial yang semula dianggap teknologi yang membebaskan dan memberi harapan perubahan sosial, segera dikuasai oleh segelintir pemilik modal yang merusak harapan publik dalam berpolitik. Demokrasi yang dicita-citakan kemudian berubah menjadi plutokrasi karena dikuasai para oligarkis yang telah menguasai sektor ekonomi, bisnis dan finansial.

Ini dibuktikan lewat kemenangan Donald Trump dalam pilpres Amerika Serikat pada 2016 lalu. Majalah Forbes edisi Maret 2018 menyebut Trump sebagai satu dari segelintir warga terkaya di AS dengan kekayaan lebih dari 3 miliar dolar AS. Kemenangan Trump amat didukung oleh pemanfaatan data, algoritma komputasi, dan aplikasi-aplikasi digital.

Untuk memenangkan pilpres, bersama tim suksesnya, Trump secara tidak langsung melibatkan para “robot digital” atau bot yang berupa skrip bahasa komputasi yang dibuat oleh sekelompok tim dari Rusia. Melalui platform digital, bot ini secara otomatis (automated bot) membanjiri pemilih dengan informasi-informasi yang keliru, memelintir fakta (misinformation). Bot itu diprogram untuk menciptakan dan mengunggah berita palsu (disinformation) pada situs abal-abal dengan tujuan menipu persepsi pemilih. Continue reading “Melawan “Robot Digital” dalam Pemilu 2019”

Advertisements