Menantang Milenial Menulis Indonesia

Screenshot (53)

AWAL 2018, Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) menyusun program penulisan naratif khusus bagi generasi milenial. Di program ini mereka akan dilatih reportase dan menulis dengan gaya bercerita. Kemudian mereka akan dibiayai untuk melakukan perjalanan, reportase ke lokasi pelosok yang belum pernah mereka datangi. Setelah itu, mereka diwajibkan menulis hasil reportase itu. Program ini diberi nama Narrative Writing Scholarship.

Kami tak menyangka, antusiasme anak milenial begitu tinggi. Sejak awal pengumuman hingga batas akhir pengiriman dokumen permohonan, ada 180an calon penerima beasiswa yang mendaftar. Semua mahasiswa. Ada yang berasal dari perguruan tinggi di Sumatera Utara. Ada yang dari Riau. Dari Jawa Barat. Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Papua…

Masing-masing calon memiliki latarbelakang jurusan keilmuan, minat, prestasi, dan pengalaman di dalam dan di luar kampus yang beragam. Sebagian besar aktif dan mewarnai forum di media sosial dan blog dengan tulisan dan ekspresi yang berbeda, tetapi tetap kekinian. Meski beragam, ada benang merah dari keseluruhan calon penerima beasiswa. Kecintaan terhadap Indonesia dan kebanggaan akan keragaman di dalamnya. Ini setidaknya tergambar melalui esai-esai yang dikirim oleh setiap calon.

Continue reading “Menantang Milenial Menulis Indonesia”

Advertisements

Teaching the rising millenials

BANYAK mitos tentang kaum milenial Indonesia. Tidak sedikit yang meragukan soal semangat dan keberpihakan generasi ini untuk menyuarakan orang-orang lemah. Sebagian kalangan mencibir kaum ini yang teramat asyik dalam dunia maya. Bukan dunia nyata! Lainnya menganggap, ini generasi yang tak punya visi tentang masa depan Indonesia.

Tapi, saya dan kawan-kawan di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) punya bukti lain. Kami menemukan anak-anak milenial yang punya cita-cita dan kecintaan yang besar terhadap negeri ini. Mereka berjuang untuk mengangkat cerita-cerita tentang kekayaan dan keragaman tradisi yang membanggakan dari pelosok Indonesia. Simak video di bawah.

 

Melawan “Robot Digital” dalam Pemilu 2019

Demokrasi modern terancam dibajak oleh para robot. Teknologi cerdas ini diciptakan ilmuwan yang sebagian dibayar oleh oligarki yang bernafsu menduduki kekuasaan lewat celah-celah demokrasi prosedural. Robot-robot ini menyebar melalui internet dan media sosial. Bagaimana cara melawan para robot ini?

DALAM tempo cepat internet dan media sosial yang semula dianggap teknologi yang membebaskan dan memberi harapan perubahan sosial, segera dikuasai oleh segelintir pemilik modal yang merusak harapan publik dalam berpolitik. Demokrasi yang dicita-citakan kemudian berubah menjadi plutokrasi karena dikuasai para oligarkis yang telah menguasai sektor ekonomi, bisnis dan finansial.

Ini dibuktikan lewat kemenangan Donald Trump dalam pilpres Amerika Serikat pada 2016 lalu. Majalah Forbes edisi Maret 2018 menyebut Trump sebagai satu dari segelintir warga terkaya di AS dengan kekayaan lebih dari 3 miliar dolar AS. Kemenangan Trump amat didukung oleh pemanfaatan data, algoritma komputasi, dan aplikasi-aplikasi digital.

Untuk memenangkan pilpres, bersama tim suksesnya, Trump secara tidak langsung melibatkan para “robot digital” atau bot yang berupa skrip bahasa komputasi yang dibuat oleh sekelompok tim dari Rusia. Melalui platform digital, bot ini secara otomatis (automated bot) membanjiri pemilih dengan informasi-informasi yang keliru, memelintir fakta (misinformation). Bot itu diprogram untuk menciptakan dan mengunggah berita palsu (disinformation) pada situs abal-abal dengan tujuan menipu persepsi pemilih. Continue reading “Melawan “Robot Digital” dalam Pemilu 2019”

Perempuan, Kopi, dan Hutan

 

DSC_3919
Menggoreng kopi — Kaum perempuan di Seko, Luwu Utara, biasa menggoreng atau menyangrai kopi dengan wajan yang diletakkan di atas tungku. Sebagian besar, mereka memanfaatkan kayu untuk bahan bakar.

PEREMPUAN berusia 43 tahun itu mesti berangkat pagi agar lekas tiba dan punya waktu memanen kopi lebih lama. Kebun kopi yang ia kelola bersama suami, Yulius Pato’o, seluas lebih dari dua hektare. Ia dibantu kelompok tani perempuan yang juga tetangga rumahnya. Jumlah mereka ada 12 orang.

 

“Untuk panen kopi biasanya dilakukan berkelompok. Karena kebunnya luas dan pohonnya banyak,” ujar Wilda Tiranda.

Waktu tempuh dari rumah ke kebun kopi sekitar satu jam dengan berjalan kaki. Jalan yang dilalui mendaki, berkelok, dan kadang berlumpur. Kebun itu terletak di bukit Tando, Desa Tanamakaleang. Tanamakaleang berada di dalam administrasi Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara. Kawasan ini berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Dalam Bahasa Indonesia, tando artinya batu tinggi. Untuk mencapai kebun kopi, Wilda mesti melalui dua bukit dengan kemiringan sekitar 60 derajat.  Continue reading “Perempuan, Kopi, dan Hutan”

Jurnalisme Investigasi dan Nasib Buruh

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup Edmund Dene (E. D.) Morel bekerja menjadi seorang jurnalis. Apalagi menulis laporan-laporan yang menjadi berita besar dan membawa perubahan politik di sebuah negeri. Tapi praktik penindasan terhadap buruh-buruh perkebunan karet di Kongo telah mengubah jalan hidup lelaki yang hidup antara tahun 18 73 hingga 1924 itu. Cover Global Muckraking

Morel semula bekerja sebagai pegawai maskapai perkapalan Inggris Elder Dempster yang berbasis di Liverpool. Meski berpusat di Inggris, maspakai ini telah melakukan perdagangan antar negara-antar benua. Perusahaan perkapalan itu memegang hak monopoli jalur kapal-kapal yang bersandar dan berlabuh di Pelabuhan Antwerp, Belgia. Khususnya kapal yang hilir-mudik antara Belgia dan Kongo. Tugas Morel mengawasi proses bongkar-muat barang tiap kapal milik maskapai Elder Dempster yang baru pulang maupun akan pergi ke Kongo.

Selama berdinas di Pelabuhan Antwerp, Belgia, Morel adalah sosok pemuda yang tekun bekerja. Ia sampai hapal proses bongkar muat berikut isi muatannya. Kapal yang pulang dari Kongo kerap membawa timbunan gading-gading gajah Afrika berukuran raksasa dan tumpukan karet dalam volume besar untuk menyuplai kebutuhan industri otomotif kala itu yang berkembang pesat. Namun ketika kapal-kapal itu hendak kembali berangkat ke Kongo, Morel hanya menyaksikan kapal itu diisi pasukan, senjata, amunisi, dan kebutuhan logistik para tentara. Continue reading “Jurnalisme Investigasi dan Nasib Buruh”