Cerita Kopi Seko

DATARAN tinggi Seko, Luwu Utara, memiliki cerita kopi yang unik. Selama puluhan tahun, tanaman ini telah menjadi andalan masyarakat. Berikut video cerita tentang kopi di desa yang terletak di Sulawesi Selatan ini…

 

Advertisements

Perempuan, Kopi, dan Hutan

 

DSC_3919
Menggoreng kopi — Kaum perempuan di Seko, Luwu Utara, biasa menggoreng atau menyangrai kopi dengan wajan yang diletakkan di atas tungku. Sebagian besar, mereka memanfaatkan kayu untuk bahan bakar.

PEREMPUAN berusia 43 tahun itu mesti berangkat pagi agar lekas tiba dan punya waktu memanen kopi lebih lama. Kebun kopi yang ia kelola bersama suami, Yulius Pato’o, seluas lebih dari dua hektare. Ia dibantu kelompok tani perempuan yang juga tetangga rumahnya. Jumlah mereka ada 12 orang.

 

“Untuk panen kopi biasanya dilakukan berkelompok. Karena kebunnya luas dan pohonnya banyak,” ujar Wilda Tiranda.

Waktu tempuh dari rumah ke kebun kopi sekitar satu jam dengan berjalan kaki. Jalan yang dilalui mendaki, berkelok, dan kadang berlumpur. Kebun itu terletak di bukit Tando, Desa Tanamakaleang. Tanamakaleang berada di dalam administrasi Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara. Kawasan ini berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Dalam Bahasa Indonesia, tando artinya batu tinggi. Untuk mencapai kebun kopi, Wilda mesti melalui dua bukit dengan kemiringan sekitar 60 derajat.  Continue reading “Perempuan, Kopi, dan Hutan”

Antara Bencana, Berita, dan Wartawan

MINGGU pagi, 25 Oktober 2010, sebuah pesan pendek masuk ke telepon seluler Pito Agustin Rudiana. Isinya, ada rapat perubahan status Gunung Merapi, dari level “Siaga” ke “Awas”. Pertemuan darurat itu digelar di kantor Kecamatan Pakem, Sleman, mulai pukul 5 pagi. Pengirim pesan adalah staf kantor pemerintah daerah Yogyakarta yang cukup lama dikenal Pito.


Wartawati Koran Tempo yang juga ketua Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta itu segera memastikan kabar status Merapi. Status ‘Awas’ berarti petaka. Penduduk sekitar lereng gunung mesti cepat-cepat diungsikan.

Ia buru-buru menghubungi Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana. Positif. Status awas Merapi mulai berlaku sejak pukul 6 pagi. Sinyal bahaya ini belum banyak diketahui penduduk. Sebaliknya, insting kewartawan Pito seakan berbunyi bak metal detector.  Continue reading “Antara Bencana, Berita, dan Wartawan”

Fighting the Elephants

Number of villagers in Aceh Jaya were pushed and hemmed in the conflict between Indonesian military and the GAM guerillas. They had to survive as if living in between two giant elephants fighting.

hasanuddin-dan-pohon-pisang-yang-dimakan-gajah_exposure

IN THE NIGHT of August 23, 2008, Hasannuddin (40) and his wife, Marlina, were sleepless. Around 10 o’clock that evening, a male elephant entered their cocoa and banana farmland behind their house. The giant animal broke down the barbwire-fence around the farmland, and devoured some banana stalks. Banana crop is one of its favorite foods. Hasanuddin went to his neighbors seeking for help to chase the wild elephant away from his farmland.

“Go away, please… Go away…,” Hasanuddin and his colleagues implored. Villagers knew that the wild giant animal has sensitive behavior. To chase the elephant away, they did not use any harmful techniques. Otherwise, it will attack back savagely.

“Please, don’t harm our farm …” begged Hasanuddin while waving his hands to chase away the elephant. But it kept devouring the trees. Then Hasanuddin managed to assemble woods to set a bonfire. The fire caused the elephant move away from the farm. But it continued to eat the remains of the banana stalks after breaking another barbwire-fence. Around 2 o’clock pre dawn, after completely finished the stalks, the elephant left the farm. Continue reading “Fighting the Elephants”

Hibah Beracun dari Bakrie

SETELAH diprotes warga gara-gara kasus lumpur panas Lapindo, kini Kelompok Usaha Bakrie (KUB) tersangkut kasus rumah asbes. Ratusan rumah asbes ditolak warga. Mulai dari politisi sampai aktivis lembaga swadaya masyarakat ikut memprotes KUB.

Rumah Bakrie di Deyah Raya, Banda Aceh.
Rumah bantuan Bakrie Bersaudara di Deyah Raya, Banda Aceh.

SELEPAS pernikahannya, Irfan Al Khadafi sudah punya rencana besar. Lelaki itu akan membawa sang istri ke rumah barunya, yang terletak di pinggir pantai. Rumah itu bakal jadi kado pernikahan mereka, sebuah rumah bantuan tipe 40.

Irfan anak kedelapan dari sembilan bersaudara pasangan Adam dan Zainah. Kedua orangtua Irfan sudah almarhum sebelum tsunami menelan kampung kelahirannya, Deyah Raya, Banda Aceh. Di kampung itu, sang ayah dikenal sebagai guru mengaji anak-anak, termasuk untuk anaknya sendiri. Sejak kecil Irfan dididik dengan pendidikan agama Islam, dari madrasah ibtidaiyah hingga perguruan tinggi.

Kini Irfan mengikuti jejak ayahnya, menjadi guru. Setamat kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Bengkulu, dia menjadi pengajar di perguruan tinggi itu. Setelah tsunami dia kembali ke Aceh. Irfan mengajar mata kuliah Ilmu Fikih di Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry sejak setahun lalu. Sekali dalam sepekan dia mengajar di Madrasah Aliyah Lukmanul Hakim di Lhok Nga, Aceh Besar.

Di kelasnya, dia membahas persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat dan memicu perdebatan, seperti soal keluarga berencana atau KB, bayi tabung, dan aborsi. Dia akan memberikan uraian dari sudut pandang agama kepada murid atau mahasiswanya.

Suatu sore menjelang akhir Mei 2007, kami berbincang di balai kayu yang berada di bawah pohon cemara laut sambil mengamati ternak milik Irfan pulang ke kandang. Letaknya di belakang barak sementara milik Irfan. Rumah sementara itu dibangun International Organization for Migration (IOM) di tepi kanal banjir, tak jauh dari jembatan Lamnyong, kecamatan Syiah Kuala. Continue reading “Hibah Beracun dari Bakrie”

Dari New York ke Banda Aceh

Komunitas peta hijau di Banda Aceh menerbitkan Green Map Banda Aceh. Ini peta buat mengenang tempat bersejarah selepas dihantam tsunami.

Masjid Raya Baiturrahman
TELUNJUK Silvia Agustina berulang-ulang mengetuk ikon panah ke bawah bernomor lima pada peta yang dibentangkan di atas meja. Peta itu gambar Banda Aceh yang difoto dari ketinggian ribuan meter. Di situ tampak petak-petak tambak, pemukiman padat, aliran sungai yang berkelok, maupun garis ruas jalan yang sambung-menyambung. Semua tampak kecil.

Sedangkan simbol panah itu memiliki arti bahwa di situ adalah tempat yang punya kenangan dan nilai sejarah. Silvia menunjuk tanah kelahirannya. Sebuah kampung tempat ia dibesarkan sebelum nyaris terhapus dari peta dunia.

“Dulu di kampung saya ini terkenal sebagai pusat makanan tradisional Aceh. Ada timphan, dodoi, halua…,” katanya mengenang.

Silvia lahir di Banda Aceh. Tahun 1990an dia belajar arsitektur di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Lalu meneruskan kuliah perencanaan tata kota ke University of Washington. Pernah menjabat koordinator program dalam United Nation Development Fund for Women di Aceh. Kini dia mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas Syiah Kuala.

Kampungnya bernama Lambung. Ini pemukiman padat penduduk. Letaknya berada dalam Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh. Bencana Minggu pagi pada 26 Desember 2004 telah melumat rumah-rumah di sana. Gedung-gedung pemerintah. Warung penjual kue, toko, pasar hingga sekolah tempatnya belajar. Air bah juga menenggelamkan orangtua, tetangga, kerabat, karib, dan ratusan pembuat kue yang dijual ke kedai-kedai kopi.

Continue reading “Dari New York ke Banda Aceh”