Pengguna Internet dan Free Labor dalam Kapitalisme Informasional

 

 

HAMPIR sebulan ini saya merasa terganggu dengan SMS-SMS promo dari operator seluler. Pesan pendek ini berisi beragam tawaran, potongan harga untuk pembelian aneka komoditas, yang semuanya tidak saya butuhkan. Dalam sehari saya bisa menerima SMS semacam ini 3-5 pesan. Tidak hanya di hari kerja, pesan-pesan ini juga masuk pada jam istirahat dan akhir pekan.

Berita foto jokowi-mark z
Foto halaman sampul harian Kompas terkait kunjungan Presiden Jokowi ke markas Facebook.

Awalnya saya hanya menghapus pesan-pesan itu. Tapi belakangan saya berpikir, karena tak tertarik dengan tawaran-tawaran itu dan lebih menyukai belanja langsung ke toko atau pasar, SMS2 itu harus segera diblok. Operator tak perlu pusing untuk membujuk saya. Dalam bayangan mulia saya, dengan menghapus nomor saya dalam database kontak, ini bisa menghemat biaya produksi operator.

Lalu saya mencari tahu ke beberapa rekan yang bekerja di operator seluler cara untuk menyetop SMS-SMS promo. Hasilnya, nihil. “Emang perusahaan mbah loe!” balas seseorang. “Kontak aja customer service.” Continue reading “Pengguna Internet dan Free Labor dalam Kapitalisme Informasional”

Advertisements

Dunia Maya Indonesia akan Gelap Gulita

HARI-hari ini dunia maya seakan gelap. Beberapa situs yang menyediakan saluran informasi dan aplikasi gratis menutup diri. Mozilla, Wikipedia, termasuk WordPress tempat saya memposting coret-coretan ini, dll…

Ini aksi perlawanan terhadap rencana pengesahan Undang-undang Antipembajakan (Stop Online Piracy Act) oleh parlemen di AS. Pendeknya, sesiapa yang tanpa izin menggunakan karya/produk yang disebut dalam UU itu bakal dijebloskan ke bui. Yah, ini tak beda dengan kriminalisasi terhadap kebebasan mengakses dan menyebarkan informasi di internet.

Ide pengesahan undang-undang ini sudah lapuk. Anti kekebasan informasi. Mereka yang bersemangat mengetok palu rancangan undang-undang itu mengidap sindrom idiot-sinkratik. Mereka memaksa warga dunia maya lain kembali zaman batu. (Hmm… saya membayangkan hidup di zaman batu di mana manusia berekspresi melalui corat-coret di dinding-dinding bebatuan. Lalu di dinding batu yang saya tulis ada yang membalas, ada yang mengomentari, ada pula yang memposting alamat tautan batu lain yang berisi corat-coret sejenis… )

Pendukung legalisasi rancangan undang-undang zaman batu ini adalah mayoritas kalangan Holywood, seperti anggota Motion Picture Association of America (MPAA). Mereka sewot karena produk-produknya kerap menjadi target pembajakan. Sementara, barisan yang kontra terhadap rencana legalisasi ini sudah berderet rapat. Rata-rata sudah familiar di mata kita. Ada Wikipedia. WordPress. Mozilla. Google. Facebook. Twitter…

Sebagai salah satu anggota masyarakat di negara yang masuk dalam daftar pembajak digital dan pengguna social media terbesar, mestinya kita patut prihatin dan cemas. Cemas karena pemodal, korporasi hingga pejabat publik termasuk di Kementerian Kominfo yang langit pengetahuannya pendek bakal latah untuk bikin regulasi serupa di sini. Kita perlu cemas karena akan banyak teman, tetangga, saudara atau kita sendiri yang sangat mungkin ikut terseret ke penjara.

Saya sendiri ikut khawatir. Kebiasaan saya yang ringan tangan meng-copas link, men-share video di Youtube, Vimeo, atau lainnya ke kawan, saudara atau tetangga sebelah, sangat mungkin diawasi oleh intel-intel “Big Brother” di internet.

Seandainya undang-undang itu digolkan, … saya terpaksa menggunakan batu. Ada yang tidak setuju?

Silent Death in The Nursing Home

More than a hundred of mentally ill patients in government-run nursing home died in short period from 2008 to 2009. A state-run hospital for mentally ill patients and its psychiatrist have contributed to the deaths. 

A number of mentally ill patients live in a government-run nursing home that more look like a prison.

PART 1

Absence of doctors puts patients in danger

ROYATI, 27, smiled while I sit on the bench in front of her. Her mother, father, brother and sister sit close around her. The bald woman whose skin is white seldom to speak to anyone. Yet, she would suddenly smile when someone called her. She is one of the mentally ill patients in Panti Sosial Bina Harapan Sentosa I, a government-run nursing home located in Cengkareng, western Jakarta. It is operated under Social Agency of Jakarta.

“She married at 17,” Rogayah says. She is Royati’s sister.

Royati’s behavior were dramatically changed after she gave birth to a son three years after the marriage. Her husband then left her.

Royati suffers schizophrenia, a psychotic disorder that severely alters the way a person usually thinks and behaves. One who suffers this mental illness might have such hallucinations, delusions, confusion, withdrawal, agitation, or emotional numbness.

In the early stages, Royati often heard sort of whispers. As the whispers came more often, she was caught in her delusion that brought her mind far from reality. The delusion began to screw up her mind. She would even do whenever the whisperer asked for, including burning down the family’s house. Nobody in the family could control her except Risan, her father. Continue reading “Silent Death in The Nursing Home”

Gayus “Sang Pendobrak” Tambunan

Sebuah tafsir lain tentang kasus Gayus HP Tambunan.

 

INI sebuah tafsir tentang Gayus Halomoan Partahanan Tambunan yang benar-benar fenomenal. Sosoknya melejit lewat aksi-aksinya menjebol tembok penjara tanpa tetesan darah dan keringat. Ia adalah pemuda yang sukses ‘mendobrak’, dan mengobrak-abrik, tatanan hukum di negeri ini yang amat rapuh.

Di tengah kecaman yang dilimpahkan kepadaya, Gayus telah memberi inspirasi kaum muda untuk menjadi kaya di bawah usia 35 tahun dalam tempo secepat-cepatnya, “from nothing to something”. Ia juga ‘memberi teladan’ bagi kalangan muda lain yang bekerja sebagai pegawai negeri dengan golongan rendah untuk bisa hidup mewah di perumahan elit dan foya-foya.

Saya kira, ia kini layak menjadi ‘ikon perubahan’ buat kaum muda. Lihat saja kepiawaiannya menggoreng pajak perusahaan-perusahaan tambang besar. Lalu aksi penyuapannya yang bikin aparat penegak hukum, dari polisi, jaksa hingga hakim bertekuk lutut oleh kipasan uang hasil korupsi yang dilakukannya. Belum lagi soal liburan ke Bali dengan pesawat khusus untuk menonton pertandingan tenis internasional saat persidangan kasus korupsinya masih jauh dari vonis hakim.  Continue reading “Gayus “Sang Pendobrak” Tambunan”

Desperately Seeking Justice

Victims of conflict in Aceh demand that the government of Indonesia establish either a Human Rights Court or a Commission for Truth and Reconciliation in order to prevent future crimes against humanity.

wpp021
This Acehnese woman wants to know who killed her relative. (Courtesy of Tarmizi Harva)

SUKMAWATI stood with her right fist pointed up to the cloudy sky. Her clothes and veil became wet as a light rain began to fall.

“Long life to victims of conflict!” a woman shouted through a megaphone. She stood in front of Sukmawati and other women. The victims of conflict from different districts across Aceh province, united in protest in front of the local parliament building on Monday, July 23, 2007.

“Long life …!” Sukmawati replied in a loud voice, and then she began to cry. At 52, she is a widow from Kabu Tunong village, Nagan Raya District, Aceh province. She has been teaching biology for years in a junior high school at Nagan Timur sub district, where she has around 160 poor students. Continue reading “Desperately Seeking Justice”

Those who fight after Yap

Despite increasing the volunteers score, the human right defenders’ struggle in post conflict of Aceh continues heavier.

Post enemy or friend?
Post enemy or friend?

KAMARUDDIN has been going from Banda Aceh, the Aceh capital, to Langsa in East Aceh district more than three times. Each trip, and vice versa, took for a day by bus. The vice deputy of Legal Aid Foundation (LBH) in Banda Aceh must attend the Langsa district court every week. Local attorney accused him of causing instigation publicly.

“The court has been in session for seven times, but the decision is not released until today. The attorney is still questioning the witnesses. There are five court sessions remaining,” he said, exhausted.

Since 4 August 2007, Langsa Police Resort suspected him in instigation case. He was not alone in the case. The police was also suspected his seven colleagues in LBH, Mukhsalmina, Yulisa Fitri, Sugiono, Muhammad Jully Fuady, Mardiati, Mustiqal Syahputra, and Juanda. Continue reading “Those who fight after Yap”

Yang Berjuang Setelah Yap*)

LEBIH DARI tiga bulan Kamaruddin bolak-balik antara Banda Aceh – Langsa. Dengan angkutan minibus L-300, butuh waktu sehari untuk bisa mencapai ibukota Aceh Timur ini dari Banda Aceh. Wakil direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh itu mesti menghadiri sidang di Pengadilan Negeri (PN) Langsa. Statusnya adalah terdakwa.

“Sudah tujuh kali sidang, sampai sekarang belum putusan. Masih mendengar keterangan saksi dari jaksa. Masih ada lima sidang lagi,” katanya. Continue reading “Yang Berjuang Setelah Yap*)”